Saat berita hoaks merajai India, nyawa manusia dianggap tak berharga

Senin, 16 Juli 2018 06:03 Reporter : Ira Astiana
Saat berita hoaks merajai India, nyawa manusia dianggap tak berharga Ilustrasi Hoax. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Masyarakat India saat ini tengah digemparkan oleh pembunuhan massal dipicu berita hoaks. Berita ini menyebar melalui platform obrolan aplikasi WhatsApp. Hanya dalam dua bulan, 20 orang telah tewas akibat termakan berita palsu.

Tidak ada penegak hukum yang mampu mengendalikan penyebaran berita palsu ini. Para pejabat pun dibuat tak berdaya dengan semakin banyaknya korban berjatuhan. Bagaimana mulanya berita hoaks ini memicu kekerasan? Dan siapa yang patut disalahkan atas insiden ini?

Berita hoaks ini lahir melalui sebuah pesan berantai pada aplikasi WhatsApp. Dalam pesan itu, tertera bahwa ada sejumlah orang asing yang mencoba membius anak-anak kemudian menculiknya.

Berita ini pertama kali menyebar di India bagian timur. Masyarakat di wilayah tersebut sontak geger dan langsung mengkambinghitamkan siapapun diduga penculik anak-anak tersebut.

"Enam orang dituduh menculik anak-anak di jalanan dan langsung dihakimi massa di Negara Bagian Jharkhand," kata seorang polisi, dikutip dari France24, Minggu (15/7).

Februari tahun ini, desas-desus penculikan muncul kembali di wilayah yang jauhnya seribu mil dari India bagian timur. Di India bagian barat, berita yang disebar dibumbui oleh video yang menunjukkan sejumlah orang bersepeda motor menculik anak-anak.

Dalam video itu disebut bahwa anak-anak India sengaja diculik oleh geng motor untuk dijual organ tubuhnya. Padahal, baik foto maupun video menunjukkan insiden mengerikan itu terjadi di Suriah, saat negara tersebut diserang oleh serangan gas lima tahun lalu.

Minimnya pengetahuan dan kurang meleknya masyarakat terhadap era digital, terutama di wilayah miskin, membuat kebohongan ini menyebar cepat layaknya virus. Di India sendiri yang pengguna WhatsApp nya mencapai 200 juta, satu miliar pesan dikirim setiap harinya.

Hingga awal Juli, setidaknya 20 orang tewas akibat dituding sebagai penculik anak-anak. Di antara korban tewas merupakan tunawisma, turis yang sedang berjalan-jalan, dan wanita tua yang terlihat sedang membagikan coklat kepada anak-anak.

Berbagai upaya dilakukan pihak berwenang untuk meredam berita palsu tersebut serta menghentikan aksi main hakim sendiri yang dilakukan oleh masyarakat.

Polisi India mencoba menangkap tersangka yang dicurigai sebagai penculik, membentuk tim untuk berpatroli, dan berpatroli ke desa-desa untuk menghentikan desas-desus itu. Selain itu, pihak berwenang di beberapa negara bagian juga menutup akses internet agar berita hoaks tidak terus menyebar.

Namun segala upaya itu belum membuahkan hasil. Seperti diketahui bahwa negara itu masih menjadi lahan subur bagi berita palsu untuk dibagi dan disebarkan. Banyak masyarakatnya yang masih belum bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang palsu.

Selain itu, India juga tidak asing lagi dengan kekerasan dilakukan segerombolan orang. Beberapa tahun terakhir, misalnya, terjadi eskalasi yang melibatkan ekstremis Hindu, Mereka membunuh warga Muslim dan merampok dari kasta terendah Dalit karena dituduh telah membunuh atau memakan daging sapi yang dianggap suci. [bal]

Topik berita Terkait:
  1. India
  2. Berita Hoax
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini