Rusia Mulai Khawatir Kekuasaan Maduro di Venezuela Bakal Lengser

Kamis, 7 Februari 2019 12:17 Reporter : Hari Ariyanti
Rusia Mulai Khawatir Kekuasaan Maduro di Venezuela Bakal Lengser Warga Venezuela tuntut Presiden Nicolas Maduro mundur. ©Reuters

Merdeka.com - Setelah menyatakan dukungan penuh terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro di tengah krisis politik dan ekonomi negara Amerika Latin itu, Rusia mulai menunjukkan keraguan terhadap kemampuan Maduro dalam menghadapi oposisi. Oposisi yang dipimpin Juan Guaido telah mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara pertengahan Januari lalu yang kemudian diakui oleh AS, Kanada, beberapa negara Amerika Latin dan Uni Eropa.

Dua orang dekat Kremlin yang menolak disebutkan namanya mengungkapkan, meski tetap mendukung Maduro, di satu sisi Moskow semakin menyadari keadaan buruk perekonomian Venezuela mau tak mau menguras sisa-sisa dukungan publiknya. Pada saat bersamaan, keengganan tentara menindak warga membatasi kemampuannya untuk menggunakan kekuatan untuk menghancurkan tantangan terhadap pemerintahan.

"Sayangnya, waktu tak berpihak pada Maduro. Dalam situasi krisis ekonomi yang memburuk, suasana dan kondisi masyarakat bisa berubah cepat menentangnya," kata Wakil Deputi Komite Hubungan Internasional di majelis tinggi parlemen Rusia, Vladimir Dzhabarov, dilansir dari laman The Moscow Times, Kamis (7/2).

Moskow tetap mewaspadai lawan-lawan Maduro yang didukung AS, tetapi juga sangat menyadari tak banyak yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan sekutunya yang sedang dalam kesulitan keuangan. Kremlin tidak dapat menyelamatkannya dan terlalu jauh bagi Rusia untuk mengerahkan kekuatan militer untuk menopang Maduro.

Selama bertahun-tahun, Rusia bersama China menjadi penyokong utama Maduro. Dukungan dua negara ini kepada Venezuela bermula sejak 1999 ketika pendahulu Maduro, Hugo Chavez berkuasa. Dukungan termasuk tambahan miliaran dolar pinjaman dan investasi, sebagian besar oleh raksasa minyak milik negara Rosneft PJSC. Namun demikian, Moskow mengesampingkan pemberian pinjaman baru kepada Venezuela.

Putin Bungkam

Walaupun pejabat Rusia menyatakan dukungannya untuk Maduro, Presiden Rusia, Vladimir Putin sampai saat ini belum membuat pernyataan publik terkait dukungan untuk Maduro sejak krisis melanda. Dukungan hanya disampaikan Putin secara langsung kepada Maduro melalui telepon pada 24 Januari lalu.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan pembicaraan antara pemerintah Venezuela dan oposisi adalah satu-satunya jalan keluar dari krisis.

"Jika tidak, akan ada semacam perubahan rezim yang telah dilakukan Barat berkali-kali," ujarnya di Tajikistan pada Selasa (5/2).

Sementara para pejabat Rusia secara terbuka mengesampingkan pembicaraan dengan oposisi, komunikasi kemungkinan terjadi di belakang layar, menurut analis di Moskow.

"Hari ini Maduro mengendalikan negara tetapi setiap hari pengaruhnya semakin kecil karena legitimasinya diperebutkan," kata Dmitry Rozental, seorang ahli tentang Venezuela di Institute for Latin American Studies yang didanai pemerintah Moskow. "Peluangnya untuk tetap berkuasa semakin memudar".

Guaido mendekati China dengan janji menegakkan perjanjian yang ditandatangani berdasarkan hukum yang disetujui Majelis Nasional. Guaido mengatakan, Venezuela yang demokratis akan menjadi taruhan yang lebih baik untuk melindungi investasi Rusia dan China.

Peran Rosneft

Majelis Nasional yang dikendalikan oposisi mengkritik peran Rosneft, yang dipimpin sekutu Putin yang kuat, Igor Sechin, yang memiliki saham di lima perusahaan minyak Venezuela. Rosneft pada Selasa mengatakan produsen minyak negara Venezuela, PDVSA, melunasi setengah dari utangnya kepada Rosneft tahun lalu, berhutang USD 2,3 miliar pada akhir 2018.

Rosneft mengambil 49,9 persen saham di anak perusahaan PDVSA yang berbasis di AS, Citgo Petroleum, sebagai jaminan untuk pinjaman USD 1,5 miliar pada 2016, dan menandatangani kesepakatan pada 2017 untuk mengoperasikan dua ladang gas alam lepas pantai. Sementara kesepakatan itu dapat dibatalkan karena tidak disetujui oleh anggota parlemen, Rusia dapat menegosiasikan kompromi, kata Rozental.

Sebuah misi Rusia ke Caracas pada November lalu menyaksikan skala keruntuhan ekonomi Venezuela sebelum krisis politik meletus. Tim yang bergerak dengan mobil lapis baja, terkejut dengan kemiskinan rakyat Venezuela di jalanan, menurut seorang pejabat Rusia dalam kunjungan itu.

Dengan ekspor minyak Venezuela yang sudah berada di level terendah dalam 28 tahun dan akan merosot lebih jauh ketika sanksi AS melarang penjualan minyak mentah PDVSA berlaku, Rusia tahu penyebabnya ialah salah urus pengelolaan cadangan minyak terbesar di dunia itu, kata Andres Landabaso Angulo, seorang profesor di Universitas Ekonomi, Plekhanov, Moskow.

AS dan sekutunya di wilayah tersebut dan di sekitarnya bertekad menggulingkan Maduro. "Sementara Rusia tidak bisa mengambil risiko konfrontasi besar," kata Ivan Konovalov, direktur Pusat Studi Trend Strategis di Moskow.

"Pada akhirnya, Guaido tidak akan menjadi tragedi bagi Rusia," katanya. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini