Rakyat India Geram, PM Modi Lanjutkan Proyek Gedung Parlemen Senilai USD 1,8 Miliar

Jumat, 7 Mei 2021 15:51 Reporter : Hari Ariyanti
Rakyat India Geram, PM Modi Lanjutkan Proyek Gedung Parlemen Senilai USD 1,8 Miliar Narendra Modi. ©Reuters

Merdeka.com - Saat banyak rumah sakit di India memohon pasokan oksigen dan ribuan pasien Covid-19 meninggal dunia, Perdana Menteri India Narendra Modi meneruskan proyek renovasi gedung parlemen dengan anggaran sebesar USD 1,8 miliar termasuk rumah dinas baru untuk perdana menteri.

Keputusan untuk proyek yang berlangsung di New Delhi itu membuat geram masyarakat dan politikus oposisi, ketika negara itu sedang berjuang dengan krisis kesehatan masyarakat yang mematikan.

Renovasi beranggaran besar itu, dikenal sebagai Central Vista Redevelopment Project, dikategorikan “layanan penting”, berarti konstruksi diizinkan berlanjut bahkan ketika banyak proyek gedung lainnya dihentikan.

Dua warga, termasuk salah satu yang ibunya meninggal karena Covid-19, mengajukan gugatan di Pengadilan Tinggi Delhi pada Rabu, untuk menghentikan pembangunan tersebut yang dilanjutkan bahkan ketika ibu kota negara sedang dalam lockdown.

Penggugat ini berpendapat, gedung parlemen bukan merupakan layanan penting dan kerja konstruksi bahkan bisa menjadi titik penyebaran Covid, menurut permohonan penghentian khusus yang diajukan oleh pengacara Nitin Saluja. Menurut dokumen itu, pekerja terus berdatangan ke lokasi konstruksi.

Pengadilan Tinggi menawarkan untuk menyidangkan kasus tersebut akhir bulan ini, tetapi para pemohon membawa masalah tersebut ke Mahkamah Agung, dengan alasan pengadilan yang lebih rendah telah "gagal untuk menghargai beratnya" dari situasi tersebut.

“Karena ada masalah kesehatan masyarakat dalam hal ini, penundaan apapun bisa merugikan kepentingan publik yang lebih besar,” tulis Saluja kepada Mahkamah Agung, dikutip dari CNN, Jumat (7/5).

Saluja mengatakan kasus tersebut kemungkinan besar akan disidangkan Jumat ini.

India telah melaporkan lebih dari 3.000 kematian akibat Covid-19 dalam beberapa hari terakhir. Negara itu menyumbang seperempat dari kematian akibat virus corona global selama sepekan terakhir, menurut laporan mingguan Covid-19 WHO.

Baca Selanjutnya: Bahkan sebelum gelombang kedua wabah...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini