Raja Salman sampai Paus ingatkan Trump untuk tidak akui Yerusalem ibu kota Israel

Kamis, 7 Desember 2017 07:22 Reporter : Pandasurya Wijaya
yerusalem. ©YourWay Israel Tours

Merdeka.com - Sejak pekan lalu santer kabar menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan kedutaan besar AS ke kota di Tepi Barat itu.

Kabar itu berasal dari sumber di dalam Gedung Putih. Trump dikatakan akan menggelar pidato buat mengumumkan kabar itu. Berita ini kontan menjadi sorotan dunia internasional. Berbagai tokoh dunia memperingatkan Trump untuk tidak mengambil langkah itu.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz dua hari lalu menerima telepon dari Trump buat membahas masalah ini.

Dalam percakapan mereka, Raja Salman menegaskan Arab Saudi mendukung hak bersejarah rakyat Palestina. Selanjutnya Raja Salman meyakinkan Trump bahwa setiap deklarasi Yerusalem sebelum ada kesepakatan akan membahayakan perundingan damai Palestina-Israel yang sedang berlangsung.

Raja Salman juga menyatakan, pemindahan Kedutaan AS ke Yerusalem termasuk langkah berbahaya, yang bisa memberikan efek negatif dan menyinggung mayoritas muslim di seluruh dunia, seperti dilansir dari Al Arabiya, Rabu (6/12).

Duta Besar Arab Saudi Pangeran Khalid bin Abdulaziz dua hari lalu juga sudah mengontak Washington dan mengatakan, pernyataan status Yerusalem sebelum penyelesaian konflik bisa menambah kekacauan di kawasan.

"Beberapa pernyataan Amerika tentang status Yerusalem sebelum kesepakatan akhir tercapai akan menambah kekacauan di kawasan Timur Tengah," kata Pangeran Khalid.

"Kebijakan Kerajaan Saudi selama ini terus mendukung rakyat Palestina, dan ini sudah disampaikan kepada pemerintah AS," kata Pangeran Khalid.

Senada dengan Saudi, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan rencana Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel menjadi 'garis merah' bagi umat Islam.

Ucapan tersebut dilontarkan Erdogan dalam sebuah pidato di parlemen dua hari lalu. Dia mengatakan langkah tersebut akan menyebabkan Ankara memutus semua hubungan diplomatik dengan Israel, seperti dilansir laman the Associated Press, Selasa (5/12). Erdogan juga menyatakan akan menggelar pertemuan dengan negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) guna menentang rencana AS ini.

Demikian juga dengan Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi. Dia memperingatkan Amerika Serikat tentang konsekuensi jika mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Safadi sudah memberi tahu Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson tentang deklarasi Yerusalem sebagai ibu kota Israel yang bisa memicu kemarahan besar di Arab dan Muslim.

Paus Fransiskus juga menyatakan kekhawatirannya soal niat Trump ini. Kemarin Paus menyerukan status quo Yerusalem tetap dihormati demi mencegah konflik lebih jauh.

Paus menuturkan Yerusalem adalah kota suci bagi tiga agama, Kristen, Yahudi, dan muslim, dan seharusnya dijaga perdamaiannya.

"Saya secara tulus menyerukan agar semua pihak menghormati status quo dari Kota Yerusalem sesuai amanat resolusi PBB," kata dia, seperti dilansir laman Business Insider, Rabu (6/12).

Vatikan selama ini mendukung solusi dua negara dalam konflik Palestina-Israel. [pan]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.