Puluhan Negara Miskin Tolak 100 Juta Vaksin Covid karena Hampir Kedaluwarsa

Jumat, 14 Januari 2022 12:33 Reporter : Hari Ariyanti
Puluhan Negara Miskin Tolak 100 Juta Vaksin Covid karena Hampir Kedaluwarsa Nigeria Musnahkan Vaksin AstraZeneca Kedaluwarsa. ©2021 REUTERS/Afolabi Sotunde

Merdeka.com - Sejumlah negara miskin bulan lalu menolak lebih dari 100 juta dosis vaksin Covid-19 yang didistribusikan melalui program COVAX global. Utamanya penolakan ini karena tanggal kedaluwarsa mereka yang cepat. Demikian disampaikan pejabat UNICEF pada Kamis.

Hal ini menunjukkan sulitnya memvaksinasi dunia terlepas dari meningkatnya pasokan vaksin, di mana COVAX segera mengirim 1 miliar dosis ke total hampir 150 negara.

"Lebih dari 100 juta telah ditolak di bulan Desember saja," jelas Direktur Divisi Pasokan UNICEF, Etleva Kadilli kepada anggota parlemen di Parlemen Uni Eropa, dikutip dari Reuters, Jumat (14/1).

Alasan utama penolakan adalah pengiriman vaksin tersebut memiliki masa penyimpanan yang singkat.

Kadilli menyampaikan, negara-negara miskin juga terpaksa menunda pasokan vaksin karena mereka tidak punya fasilitas penyimpanan yang cukup, termasuk kekurangan lemari pendingin untuk vaksin. Banyak negara juga menghadapi keraguan vaksin yang tinggi dan sistem kesehatan yang overkapasitas.

UNICEF tidak segera menjawab pertanyaan terkait berapa banyak dosis vaksin yang telah ditolak sejauh ini.

Ada juga vaksin yang disimpan dan menunggu untuk digunakan di negara-negara miskin. Data UNICEF terkait pasokan dan penggunaan vaksin yang telah dikirim menunjukkan 681 juta dosis saat ini disimpan di sekitar 90 negara miskin, menurut CARE, badan amal, yang mengambil data dari basis data publik.

Lebih dari 30 negara miskin, termasuk negara besar seperti Republik Demokratik Kongo dan Nigeria, telah menggunakan sedikit dari setengah dosis yang telah mereka terima.

Juru bicara Gavi, aliansi vaksin yang mengelola COVAX, mengatakan tingkat penyimpanan yang tinggi disebabkan oleh lonjakan pengiriman pada kuartal terakhir, terutama pada Desember.

Gavi menambahkan sebagian besar vaksin yang baru-baru ini dikirim oleh COVAX memiliki masa simpan yang lama, dan oleh karena itu tidak mungkin terbuang sia-sia.

2 dari 2 halaman

COVAX yang dipimpin WHO, sejauh ini telah mengirim 987 juta vaksin Covid ke 144 negara, menurut data Gavi.

COVAX adalah pemasok utama dosis vaksin ke puluhan negara miskin, tapi bukan satu-satunya. Beberapa negara membeli dosis vaksin dari anggaran sendiri atau memanfaatkan program pengadaan vaksin regional lainnya.

Dari 15 juta dosis vaksin dari Uni Eropa yang ditolak, tiga perempatnya adalah vaksin AstraZeneca dengan masa simpah kurang dari 10 minggu sejak kedatangan, menurut UNICEF.

Seorang pejabat WHO menyampaikan bulan lalu, negara-negara kaya menyumbangkan vaksin dengan masa simpan yang relatif pendek telah menjadi "masalah besar".

Reuters melaporkan pada Desember, sebanyak 1 juta dosis vaksin diperkirakan kedaluwarsa di Nigeria pada November dan tidak pernah dipakai.

Baca juga:
Israel Masih Tidak Yakin Omicron Bisa Sebabkan Penyakit yang Lebih Ringan
Omicron Makin Menyebar, Korea Selatan Mulai Pakai Pil Paxlovid Buatan Pfizer
Penelitian: Kandungan Ganja Mampu Cegah Virus Corona Masuk ke Sel Manusia
Filipina Larang Warga yang Tak Divaksinasi Naik Transportasi Umum
Situasi Kota Anyang China ketika Lockdown
WHO: Lebih dari 85 Persen Penduduk Afrika Belum Divaksin

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini