Publisitas Aksi Terorisme, Benarkah Menguntungkan Teroris?

Kamis, 21 Maret 2019 06:51 Reporter : Hari Ariyanti
Publisitas Aksi Terorisme, Benarkah Menguntungkan Teroris? teroris. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Liputan tentang terorisme telah ada sejak terorisme kontemporer muncul pada abad ke-19. Sejak liputan itu dimulai, telah terjadi perdebatan terkait ekses dan pembatasannya.

Wartawan sering menghadapi kritik karena memberi 'oksigen publisitas' bagi para teroris dengan melaporkan motif atau tuntutan mereka. Tetapi serangan teroris sayap kanan hari Jumat di Christchurch, di mana setidaknya 50 orang terbunuh, menandai perubahan besar: Teroris tidak lagi membutuhkan wartawan dengan cara yang sama, jika mereka bisa menarik 1 juta orang untuk mengunggah konten yang dia tayangkan.

Facebook telah menghapus lebih dari 1,5 juta unggahan video langsung penyerang saat menyerang dua masjid di Christchurch. Platform lain seperti YouTube dan Twitter sama-sama berupaya menghentikan penyebaran rekaman mengerikan itu. Pada saat yang sama, pengguna di seluruh dunia membaca manifesto penyerang, di mana ia meletakkan pandangannya dalam format tanya jawab.

Serangan hari Jumat telah mengubah dilema moral yang dulunya mempengaruhi jurnalis menjadi pertanyaan yang lebih luas bagi hampir semua orang yang memiliki akses ke jejaring sosial. Di mana batasan antara mengunggah serangan untuk mengutuknya - namun secara tidak sengaja membantu menyebarkan pesan pelaku? Rick Noack, jurnalis The Washington Post biro Berlin, Jerman menyampaikan analisanya, dilansir dari laman The Washington Post, Rabu (20/3).

Dalam pidatonya di parlemen pada Selasa (19/3), Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern menegaskan alasannya tak sudi menyebut nama pelaku teror. "Ketika saya berbicara, dia tidak akan disebutkan namanya. Dan kepada yang lain, saya mohon, lebih baik sebut nama-nama mereka yang kehilangan nyawa, bukan nama orang yang menghilangkan nyawa mereka. Dia mungkin mencari ketenaran, tetapi kita di Selandia Baru tidak akan memberinya apa-apa. Bahkan namanya pun tidak," tegas Ardern dalam sidang parlemen.

baru jacinda ardern

Ketegasan Ardern menolak menyebut nama teroris bukanlah hal yang baru. Beberapa peneliti berpendapat, terorisme tidak akan ada tanpa publisitas media yang melaporkan tindakan dan ideologi mereka. Selama beberapa dekade, berita utama yang mendominasi televisi adalah serangan 9/11 - sementara di media sosial ialah didominasi kasus terbaru di Christchurch. Hampir tidak ada perbedaan antara teroris ekstremis sayap kanan dan pelaku teror 9/11: Keduanya menginginkan dan membutuhkan perhatian kelompok-kelompok yang mereka lawan. Dengan menyangkal publisitas semacam ini, menurut argumen Ardern, ekstremisme dapat kekurangan oksigen yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.

Namun di sisi lain dari argumen ini, para analis terorisme berpendapat, memeriksa dan mendiskusikan motif serta jalur individu menuju radikalisasi sangat penting untuk memahami bagaimana mencegah serangan di masa depan. Demokrasi pada khususnya, mereka berpendapat, harus memiliki minat yang melekat dalam memahami kenapa mereka menggunakan cara-cara kekerasan untuk mengejar tujuan ideologis.

Selain itu, tak banyak pilihan untuk menghentikan orang fokus pada tersangka, seperti yang ditunjukkan sejarah. Ketika teroris sayap kiri Jerman mulai menculik orang di seluruh negeri pada 1970-an, pemerintah memperkenalkan embargo (larangan) pemberitaan. Di negara lain, tersangka terorisme didakwa dalam pengadilan rahasia untuk menghindari publisitas dan untuk mencegah perincian yang terkait dengan keamanan nasional. Namun, dalam kedua kasus itu, media asing - tidak terikat oleh aturan yang sama - melanggar larangan dan mempertanyakan kerahasiaan yang dipaksakan pemerintah.

Hal yang sama berlaku untuk media sosial, di mana larangan hampir tidak mungkin untuk ditegakkan.

Di tengah konteks historis itu, Ardern telah memilih opsi ketiga: Memberi contoh tetapi menahan diri untuk tidak menggunakan tekanan yudisial. Pada hari Selasa, Ardern mendapat banyak pujian atas inisiatifnya, termasuk oleh suami dari Anggota Parlemen Inggris Jo Cox, yang dibunuh oleh seorang ekstrimis sayap kanan pada tahun 2016.

"Ketika Jo terbunuh saya bersumpah sama. Saya sering benar-benar lupa nama orang tersebut dan anak-anak saya tidak pernah mendengarnya. Kemasyhuran adalah pendorong penting bagi teroris dan kita semua harus lebih baik dalam menyangkal mereka," tulisnya. [lia]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini