Presiden Sayap Kiri Pertama Kolombia Ajak Dunia Perangi Narkoba

Senin, 8 Agustus 2022 16:29 Reporter : Merdeka
Presiden Sayap Kiri Pertama Kolombia Ajak Dunia Perangi Narkoba gustavo petro. ©REUTERS/Luisa Gonzalez

Merdeka.com - Presiden sayap kiri Kolombia yang baru dilantik Gustavo Petro mengajak masyarakat dunia memikirkan strategi baru untuk melawan perdagangan narkoba.

Dalam pidatonya Petro menyatakan "perang melawan narkoba" selama ini gagal.

Ratusan ribu orang tewas dalam perang saudara selama puluhan tahun di Kolombia, yang sebagian dipicu oleh perdagangan narkotika.

Mantan walikota Bogota dan mantan pejuang pemberontak berusia 62 tahun itu terpilih pada Juni lalu dengan sebuah manifesto radikal yang menjanjikan memerangi ketidaksetaraan dan melarang proyek minyak baru.

Petro mengatakan kepada kerumunan pendukungnya di Bogota, sudah waktunya untuk mengakui secara global bahwa "perang terhadap narkoba telah gagal."

"Ini (narkoba) telah menyebabkan satu juta orang Amerika Latin tewas selama 40 tahun," katanya, "dan menyebabkan 70.000 orang Amerika Utara tewas karena overdosis setiap tahun."

Lebih dari 50 tahun yang lalu Presiden Amerika Serikat (AS) Richard Nixon memulai strategi anti-narkotika global yang menekankan pada kriminalisasi dan penggunaan kekuatan polisi, yang kemudian dikenal sebagai "perang melawan narkoba".

Tetapi presiden Kolombia yang baru dilantik itu mengatakan, strategi tersebut hanya memperkuat kekuatan geng mafia dan melemahkan negara-negara Amerika Latin selama beberapa dasawarsa.

2 dari 2 halaman

Di Kolombia, yang diperkirakan menghasilkan lebih dari setengah kokain dunia, kelompok kriminal dan milisi lokal sangat terlibat dalam produksi dan transportasi narkoba ke konsumen di seluruh dunia - termasuk di AS dan Eropa.

Pendahulu Petro, Ivan Duque, menjadikan perang terhadap narkoba sebagai prioritas utama pemerintahannya - meminta dukungan AS yang substansial untuk menindak produksi kokain di seluruh pedesaan Kolombia.

Lebih dari 100,000 pendukung Petro berkumpul di alun-alun Bogota kemarin untuk menyaksikan mantan pemberontak Marxis itu mencatat sejarah dengan dilantik sebagai pemimpin sayap kiri pertama Kolombia.

Dia akan bertugas bersama Francia Márquez, yang terpilih bersama Petro untuk menjabat sebagai wakil presiden kulit hitam pertama Kolombia.

"Saya tidak menginginkan dua negara, sama seperti saya tidak menginginkan dua masyarakat, saya ingin Kolombia yang kuat, adil dan bersatu," kata Petro setelah dilantik.

Pemilu Juni lalu diadakan di tengah ketidakpuasan rakyat atas kinerja pemerintah. Demo anti-pemerintah tahun lalu menewaskan puluhan orang.

Pemimpin baru itu dipilih berdasarkan manifesto radikal untuk memerangi ketidaksetaraan dengan memberikan pendidikan universitas gratis, reformasi pensiun, dan pajak tinggi atas tanah-tanah yang tidak produktif - sebuah kemajuan bagi Kolombia yang sampai sekarang hanya memilih presiden konservatif untuk menjabat.

Dia juga berjanji untuk sepenuhnya menerapkan kesepakatan damai tahun 2016 yang mengakhiri konflik selama 50 tahun dengan kelompok gerilyawan komunis, Farc, serta mencari negosiasi dengan pemberontak ELN yang masih aktif.

Pelantikan Petro menandai perubahan politik besar dalam arah negara, yang selama beberapa dekade dipimpin oleh kaum moderat dan konservatif. [pan]

Baca juga:
Kerusuhan di Penjara Kolombia, 49 Napi Tewas Saat Hendak Kabur
Stadion di Kolombia Ambruk Saat Adu Banteng, Empat Orang Tewas & Ratusan Terluka
Presiden Kolombia Dihukum Tahanan Rumah karena Gagal Lindungi Taman Nasional
Penampakan Wanita Kolombia Sembunyikan Kokain di Balik Rambut Palsu

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini