Presiden Prancis perpanjang keadaan darurat teror selama tiga bulan

Jumat, 15 Juli 2016 10:12 Reporter : Marcheilla Ariesta Putri Hanggoro
Presiden Prancis perpanjang keadaan darurat teror selama tiga bulan Truk maut di Nice Prancis. ©2016 AFP

Merdeka.com - Setelah mendapat serangan teror hebat pada November tahun lalu, pemerintah Prancis langsung memberlakukan keadaan darurat di negara tersebut. Sayangnya, menjelang masa akhir keadaan darurat di Negeri Menara Eiffel, Paris kembali diguncang aksi teror.

Melihat insiden yang menewaskan sedikitnya 80 jiwa, Presiden Prancis Francois Hollande langsung memperpanjang keadaan darurat di negara tersebut selama tiga bulan.

Dikutip dari The Telegraph, Jumat (15/7), Hollande menegaskan tidak akan menyerah melawan terorisme di negaranya.

"Semua warga Prancis berada di bawah ancaman terorisme yang mengatasnamakan Islam. Saya bersumpah, Prancis tidak akan menyerah dalam 'perang' melawan terorisme," ucapnya.

Hollande menyebutkan akan meningkatkan operasi militer Sentinelle di negaranya. Dia mengungkapkan akan mengerahkan 10 ribu tentara untuk menjaga seluruh wilayah di Prancis.

"Saya akan kembali meningkatkan Operasi Sentinelle. Sekitar 10 ribu tentara nantinya akan menjaga seluruh penjuru negeri," lanjut Hollande.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Prancis Bernard Cazeneuve mengatakan segala tindakan terorisme tidak bisa ditoleransi.

"Kami berada dalam perang dengan teroris yang ingin memukul Prancis dengan cara yang sangat kejam," seru Cazeneuve.

Setidaknya 80 orang tewas dalam teror truk bermuatan senjata dan granat menabrak pengunjung Bastille Day di wilayah Nice, selatan Prancis. Tak hanya itu, pengemudi truk juga menembak secara acak ke arah pengunjung. [ard]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini