Presiden Brasil: Penjahat Akan Mati di Jalan Seperti Kecoa

Selasa, 6 Agustus 2019 14:09 Reporter : Hari Ariyanti
Presiden Brasil: Penjahat Akan Mati di Jalan Seperti Kecoa Calon Presiden Brasil Jair Bolsonaro. REUTERS/Diego Vara

Merdeka.com - Presiden Brasil, Jair Bolsonaro mengatakan, para penjahat akan mati di jalan seperti kecoa di bawah regulasi baru yang akan membebaskan pasukan keamanan dan warga dari tuntutan jika berhasil membunuh para kriminal.

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada Senin, Bolsonaro mengatakan dia berharap Kongres akan menyetujui rencana kontroversialnya untuk memperluas excludente de ilicitude - sebuah pasal dalam kode kriminal Brasil yang mengizinkan beberapa tindakan yang biasanya ilegal. Demikian dilansir dari laman The Guardian, Selasa (6/8).

Para aktivis khawatir hal ini akan menyebabkan pertumpahan darah, namun Bolsonaro mengklaim aturan tersebut akan memberikan perlindungan hukum yang sangat dibutuhkan bagi petugas polisi yang menggunakan kekuatan mematikan dalam menjalankan tugas dan dapat menurunkan tingkat kejahatan.

"Orang-orang ini (penjahat) akan mati di jalan-jalan seperti kecoa (jika proteksi hukum disetujui) - dan seharusnya begitu," ujarnya.

Bolsonaro berpendapat, polisi Brasil bertarung secara tak seimbang memberantas kejahatan dan harus diberikan kekuasaan untuk menggunakan senjatanya, bukan diseret ke pengadilan. Warga negara juga dinilai patut dilindungi jika mereka perlu menggunakan kekuatan mematikan untuk melindungi nyawa dan harta mereka.

Pernyataan itu disambut oleh para pendukung tetapi memicu kemarahan di antara para pegiat HAM dan oposisi.

“Ini adalah pernyataan menjijikkan,” kata Ariel de Castro Alves, seorang aktivis veteran dan pengacara veteran di São Paulo.

Alves menuding wacana Bolsonaro yang kejam dan tidak manusiawi telah menyebabkan lonjakan kekerasan polisi yang mematikan - sebagian besar terhadap kaum miskin, anak muda, pria kulit hitam - dan khawatir RUU itu akan membuat segalanya menjadi lebih buruk.

"Kami mencatat 414 pembunuhan yang dilakukan oleh polisi militer di São Paulo (pada paruh pertama tahun 2019) - itu adalah angka tertinggi sejak 2003. Ini mendorong kekerasan polisi dan akhirnya menjadi semacam penghasut kebrutalan," jelas Alves.

Robert Muggah, dari Institut Igarapé, mengatakan telah terjadi lonjakan serupa dalam pembunuhan di Rio de Janeiro di mana polisi menembak 434 orang dalam tiga bulan pertama 2019.

"Ini adalah jumlah tertinggi yang tercatat dalam lebih dari dua dekade," kata Muggah.

Dalam enam bulan pertama tahun ini, polisi Rio dilaporkan membunuh 881 orang - atau satu orang setiap lima jam.

"Kekhawatiran kami adalah bahwa retorika semacam ini dapat mendorong polisi untuk mengerahkan kekuatan yang lebih besar dan dapat mengakibatkan, pada kenyataannya, lebih banyak kekerasan polisi daripada yang terjadi saat ini," tambah Muggah.

"Ini jelas merupakan keprihatinan di negara yang sudah mencatat jumlah tertinggi dari kekerasan mematikan dan beberapa tingkat pembunuhan polisi tertinggi di dunia."

Tahun lalu polisi Brasil membunuh hampir 6.200 orang. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2017 dimana penembakan oleh polisi tercatat sebanyak 5.225.

Baca juga:false
Kabur dari Penjara, Ketua Geng di Brasil Menyamar Jadi Anak Gadisnya
Begini Cara Napi di Brasil Nyamar Jadi Wanita untuk Kabur
Kerusakan Hutan Amazon di Brasil Meningkat Sejak Jair Bolsonaro Menjabat
Kerusuhan Antar Geng Narkoba di Penjara Brasil, 57 Orang Tewas
Mengintip Pabrik Lamborghini dan Ferrari Palsu di Brasil
Fenomena Gerhana Bulan Parsial di Sejumlah Negara [pan]

Topik berita Terkait:
  1. Brasil
  2. Kriminal
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini