Prancis menang Piala Dunia, suporter ricuh hingga bentrok dengan polisi

Senin, 16 Juli 2018 14:42 Reporter : Ira Astiana
Prancis menang Piala Dunia, suporter ricuh hingga bentrok dengan polisi Bentrok Suporter di Prancis. ©REUTERS/Gonzalo Fuentes

Merdeka.com - Prancis menjuarai Piala Dunia 2018 dengan skor 4-2 melawan Kroasia. Gelar juara ini diperoleh Prancis untuk pertama kalinya sejak memenangkan Piala Dunia pada 1998.

Kemenangan ini mendatangkan kebahagiaan tersendiri bagi pendukung Timnas Prancis. Mereka mengekspresikan kebahagiaan dengan cara turun memadati jalan. Namun sayang, ada beberapa oknum yang mengacaukan pesta kemenangan ini.

Sebanyak belasan pemuda berkumpul di Champs Elysees melakukan pengerusakan terhadap jendela toko. Mereka melempar botol hingga kursi sebagai tanda perayaan.

"Itu bukan cara kalian merayakan sebuah kemenangan," sesal pendukung lain, dikutip dari AFP, Senin (16/7).

Aksi anarkis ini pun memicu tindakan dari polisi anti huru-hara. Petugas menyemprotkan meriam air kepada para suporter yang membuat onar.

Di tempat lain, tepatnya di kota Lyon, polisi dan para pendukung juga terlibat bentrokan. Para pendukung yang kebanyakan pemuda menaiki kendaraan polisi sehingga polisi pun harus menyemprotkan gas air mata kepada mereka.

Dalam bentrokan di Marseille, polisi menangkap sepuluh orang diduga provokator karena aksi anarkisnya telah menyebabkan dua anggota polisi terluka.

Sementara itu, di kota Nancy, bocah laki-laki tiga tahun dan bocah perempuan enam tahun harus mengalami luka-luka lantaran disambar sepeda motor. Pengendara motor langsung kabur dari tempat kejadian.

Di malam sama, perayaan kemenangan pun terasa di Menara Eiffel, Paris, di mana para pendukung menonton pertandingan Piala Dunia bersama. Ironisnya, mereka bersikap tak peduli terhadap lingkungan dan malah meninggalkan gunungan sampah di salah satu tempat paling romantis di dunia tersebut.

Ada 4.000 pasukan keamanan yang dikerahkan untuk menjaga wilayah-wilayah di Prancis selama perayaan Piala Dunia. Namun tampaknya jumlah tersebut tidak bisa menghentikan aksi anarkis dilakukan oleh para suporter.

Prancis sendiri telah memberlakukan keadaan waspada menyusul serangan teror sejak 2015. Pemerintah mendorong untuk memperkuat pasukan keamanan di bawah undang-undang anti-teror yang baru. [frh]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini