Hot Issue

Prancis dan Nilai-Nilai Sekularisme yang Dipertanyakan

Kamis, 29 Oktober 2020 08:38 Reporter : Pandasurya Wijaya
Prancis dan Nilai-Nilai Sekularisme yang Dipertanyakan demo kematian guru yang dibunuh di prancis. ©Bertrand Guay/AFP

Merdeka.com - Lebih dari sepekan setelah guru sejarah Samuel Paty dibunuh, banyak kalangan membela nilai-nilai sekularisme Prancis. Namun sebagian lain menyebut keyakinan sekuler itu bisa menjadi minyak yang dituang di bara api perpecahan dan memicu ekstremisme.

Pada Januari 2015, jutaan warga Prancis turun ke jalanan Paris untuk mengecam serangan teroris ke kantor reaksi majalah satir Charlie Hebdo yang memuat kartun Nabi Muhammad. Bangsa yang marah itu membela habis-habisan kebebasan berekspresi dan nilai-nilai sekularisme Prancis.

Lima tahun kemudian setelah serangan teroris serupa, tampaknya ada semacam deja vu. Kali ini yang berdemo turun ke jalan lebih sedikit tapi kengeriannya masih sama: seorang guru sejarah bernama Samuel Paty dipenggal di dekat sekolah tempat dia mengajar karena memperlihatkan kartun Nabi Muhammad di kelasnya dengan alasan kebebasan berpendapat.

Dilansir dari laman Deutsche Welle Sabtu lalu, kartun bernada penghinaan yang menjadi pemicu serangan ke Charlie Hebdo dan penikaman dua orang di Paris bulan lalu, kembali menguji sampai sejauh mana batasan nilai-nilai sekularisme Prancis atau yang disebut laicite. Bagi sebagian kalangan pandangan sekularisme semacam itu justru kian meruncingkan ketegangan dan stigmatisasi terhadap muslim Prancis yang merupakan komunitas Islam terbesar di Eropa.

Kini Presiden Emmanuel Macron dan para pembantunya berjanji akan menggempur total Islam radikal. Tapi banyak kalangan melihat langkah itu justru memperburuk keadaan. Alih-alih memberi ruang bagi bertemunya berbagai keyakinan di negeri itu, sekularisme yang dituangkan dalam undang-undang 1905 yang memisahkan peran gereja dan negara--kini menjadi sorotan.

"Ada tradisi politik yang bermasalah dengan Islam," kata Farhad Khosrokhavar, pakar sosiologi dan Islam radikal. "Dan tradisi politik ini, laicite, adalah masalah."

Baca Selanjutnya: Sekularisme sudah menjadi agama sipil...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini