Portugal Capai 80 Persen Vaksinasi Covid-19, Negara Terbanyak di Dunia

Kamis, 16 September 2021 16:21 Reporter : Merdeka
Portugal Capai 80 Persen Vaksinasi Covid-19, Negara Terbanyak di Dunia Ilustrasi suntikan. Shutterstock/Dragon Images

Merdeka.com - Portugal sudah memvaksinasi lengkap 80 persen penduduknya melawan virus corona. Dengan demikian Portugal menjadi salah satu negara yang paling banyak vaksinasinya di dunia seiring pihak berwenang secara perlahan melonggarkan sebagian pembatasan Covid-19.

Berdasarkan pantauan Reuters, Portugal dan Uni Emirat Arab memiliki tingkat persentase vaksinasi yang sama dan keduanya berada di urutan atas di antara negara lain.

Portugal yang awal tahun ini bergulat melawan gelombang virus corona terburuk di dunia, telah memvaksinasi sekitar 8,2 juta warga dari 10 juta penduduk, kata badan kesehatan DGS pada Selasa malam.

Hampir seluruh orang dewasa di atas 65 tahun dan setengah remaja berumur 12-17 sekarang sudah divaksinasi lengkap, jelas DGS. Semua orang di atas 12 tahun sudah bisa mendapat vaksin di Portugal.

"Saya tidak peduli jika kita (di dunia) nomor 1, 2 atau 3," kata kepala satuan tugas vaksinasi Portugal, Wakil Laksamana Henrique de Gouveia e Melo, setelah kunjungan ke pusat vaksinasi dekat Lisbon selama akhir pekan kemarin.

"Apa yang saya inginkan adalah mengendalikan virus, untuk memvaksin sebanyak-banyaknya orang jadi virus tidak memiliki ruang untuk bermanuver," jelasnya, seperti dilansir laman Reuters, Kamis (16/9).

Gouveia e Melo mendapat banyak pujian karena kampanye vaksinasi yang cepat hingga memungkinkan Portugal untuk mencabut sebagian pembatasan virus corona.

Pemakaian masker sudah tidak diwajibkan lagi di luar ruangan mulai hari Senin.

Dia mengatakan negara tersebut memulai vaksin bersamaan dengan Uni Eropa namun gerakan anti vaksin hanya ada 3 persen di Portugal.

Dia mengingatkan, bagaimanapun juga, perjuangan melawan Covid-19 belum berakhir hingga seluruh negara, kaya dan miskin, dapat mengakses vaksin.

"Kita memvaksinasi berlebihan di negara kaya dan kemudian tidak ada vaksin di negara miskin," jelasnya. "Saya tidak setuju dengan itu - bukan hanya karena etika dan moral tapi karena itu juga bukan strategi terbaik dan sikap yang rasional," kata dia.

Reporter magang: Ramel Maulynda Rachma [pan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini