'Polusi Udara di Perkotaan Setara dengan Mengisap 20 Batang Rokok Sehari'

Rabu, 14 Agustus 2019 15:36 Reporter : Merdeka
'Polusi Udara di Perkotaan Setara dengan Mengisap 20 Batang Rokok Sehari' Polusi udara di Ibu Kota. ©2019 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Beberapa hari belakangan ini Jakarta menjadi salah satu kota yang memiliki kadar polusi udara yang tinggi dan menduduki peringkat pertama sebagai kota yang paling berpolusi di Asia Tenggara.

Jakarta juga termasuk dari empat kota dengan pencemaran udara terburuk setelah New Delhi, Dubai, dan Santiago. Keadaan polusi di Jakarta lebih buruk dibandingkan tahun 2018 ditandai dengan warna kadar kualitas udara berwarna merah (tidak sehat).

Dikutip dari independent.co.uk, Rabu (14/8), sebuah studi yang diterbitkan Journal of the American Medical Association menemukan bahwa terpapar polusi udara dalam jangka panjang bisa memperburuk kesehatan paru-paru seperti orang merokok 20 batang sehari.

Peneliti juga melihat dampak dari empat polutan utama yang mempengaruhi kesehatan paru-paru 7.071 orang dewasa dengan rentang usia 45 hingga 84 yang tinggal di enam kota berbeda di Amerika Serikat.

Mereka mengukur kadar unsur partikulat, nitrogen oksida, karbon hitam dan ozone di luar rumah responden yang disurvei dan melakukan pemindaian untuk melacak perkembangan emfisema dan kerusakan paru-paru.

Mereka menemukan penyakit pernapasan bawah kronis istilah yang digunakan untuk emfisema, asma, bronkitis, dan penyakit paru obstruktif kronik (COPD) adalah penyebab kematian utama ketiga di dunia.

Di daerah yang kadar ozonnya tinggi, emfisema juga ikut meningkat setara orang merokok satu bungkus selama 29 tahun.

Dr. Joel Kaufman dari Universitas Washington mengatakan terkejut dengan kuatnya dampak polusi udara terhadap perkembangan emfisema di paru-paru yang setara dengan dampak akibat merokok.

"Kami terkejut melihat betapa kuatnya dampak polusi udara terhadap perkembangan emfisema pada pemindaian paru-paru. Efeknya sama dengan merokok, yang sejauh ini menjadi penyebab emfisema yang paling banyak terjadi."

Polisi udara akan terus meningkat jika tidak ada tindakan untuk mengurangi. Langkah yang bisa diambil salah satunya mengurangi emisi bahan bakar fosil dan mengatasi perubahan iklim.

Reporter Magang: Ellen RiVeren [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini