Polemik KPAI-PB Djarum, Begini Cara China Mencetak Atlet Kelas Dunia

Senin, 9 September 2019 15:57 Reporter : Pandasurya Wijaya
Polemik KPAI-PB Djarum, Begini Cara China Mencetak Atlet Kelas Dunia anak china berlatih senam di sekolah. ©Aly Song/Reuters

Merdeka.com - Beberapa hari belakangan polemik Komisi Pelindungan Anak Indonesia (KPAI) dan PB Djarum menjadi perbincangan di tengah masyarakat karena KPAI menuding ada unsur eksploitasi anak dalam upaya PB Djarum mencetak atlet-atlet bulutangkis nasional.

Bicara soal olahraga, tidak salah jika kita juga menengok bagaimana negara raksasa China mencetak atlet-atlet kelas dunia mereka.

Atlet-atlet China terkenal sering menjadi juara dunia dalam berbagai cabang olahraga, baik itu di tingkat Asia hingga Olimpiade.

Susan Brownell, antropolog dari Universitas Missouri-St Louis, Amerika Serikat, tertarik untuk mencari tahu seperti apa program pelatihan atlet-atlet China hingga mampu banyak berprestasi di kancah dunia.

Mata Brownell mengernyit ketika dia pertama kali masuk ke pusat latihan senam di Shanghai Yangpu Youth Amateur Athletic School di Beijing pada 2016 lalu.

"Ada anak kecil yang masih pakai popok dan sungguh menakjubkan melihat apa yang bisa mereka lakukan di usia sebelia itu," kata Brownell, seperti dilansir laman Business Insider, Agustus 2016. "Mereka bisa meliukkan tubuhnya seperti kue ketika sedang peregangan."

Shichahai adalah salah satu dari ribuan pusat olahraga di sekolah di seantero China. Dengan dana dari pemerintah, anak usia enam tahun yang sudah memperlihatkan bakatnya seperti dalam taekwondo, tenis meja, senam, dan badminton, berlatih bertahun-tahun dengan harapan bisa membawa pulang uang dan kehormatan bagi keluarga mereka.

Bagi sebagian anak, impian itu sudah pupus sejak awal. Tapi bagi sebagian yang lain, itu adalah langkah awal menuju kejayaan Olimpiade.

Semua bermula pada 1970-an ketika ada diplomasi Ping Pong antara Amerika Serikat dan China untuk mencairkan ketegangan akibat Perang Dingin. Lewat olahraga China ingin meraih kehormatan di mata dunia.

Ketika Beijing terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade 2008, pemerintah meluncurkan Proyek 119--ambisi meraih 199 medali emas di Olimpiade.

Impian menjadi nomor satu di dunia itu masih menjadi cita-cita banyak sekolah olah raga di seluruh China. Anak-anak China kini tengah bersiap menghadapi Olimpiade 2020 di Tokyo dan seterusnya.

Siswa yang berambisi menjadi atlet nomor wahid itu kebanyakan berasal dari keluarga miskin yang memandang prestasi olahraga adalah jalan keluar dari jurang kemelaratan. Brownell mengatakan jika seorang siswa meraih prestasi di uji coba Olimpiade maka itu bisa meningkatkan taraf hidup dan status mereka di tengah masyarakat.

"Orangtua yang berpendidikan tinggi cenderung tidak mendukung anak mereka ikut sekolah olahraga karena di sana pendidikan kurang diutamakan," kata Brownell.

Di awal mula pelajaran sekolah umum, anak-anak dibagi menjadi lima kategori berdasarkan bakat: jago internasional, jago nasional, grade 1, grade 2, grade 3. Hanya anak-anak di tingkatan grade 1 atau lebih tinggi yang bisa masuk ke sekolah olahraga.

Selama beberapa dekade, pernah ada 'sekolah olahraga paruh waktu' yang melatih anak-anak di grade 2 dan grade 3. Tapi kemudian pemerintah menghentikan dana kepada sekolah-sekolah itu dan memberi perhatian lebih kepada sekolah atlet berprestasi.

Jangan Lewatkan:

Ikuti Polling Adakah Unsur Eksploitasi Anak dalam Audisi Bulutangkis PB Djarum? Klik disini

1 dari 2 halaman

Diplomasi Ping Pong

Semua bermula pada 1970-an ketika ada diplomasi Ping Pong antara Amerika Serikat dan China untuk mencairkan ketegangan akibat Perang Dingin. Lewat olahraga China ingin meraih kehormatan di mata dunia.

Ketika Beijing terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade 2008, pemerintah meluncurkan Proyek 119--ambisi meraih 199 medali emas di Olimpiade.

Impian menjadi nomor satu di dunia itu masih menjadi cita-cita banyak sekolah olah raga di seluruh China. Anak-anak China kini tengah bersiap menghadapi Olimpiade 2020 di Tokyo dan seterusnya.

Siswa yang berambisi menjadi atlet nomor wahid itu kebanyakan berasal dari keluarga miskin yang memandang prestasi olahraga adalah jalan keluar dari jurang kemelaratan. Brownell mengatakan jika seorang siswa meraih prestasi di uji coba Olimpiade maka itu bisa meningkatkan taraf hidup dan status mereka di tengah masyarakat.

"Orangtua yang berpendidikan tinggi cenderung tidak mendukung anak mereka ikut sekolah olahraga karena di sana pendidikan kurang diutamakan," kata Brownell.

Di awal mula pelajaran sekolah umum, anak-anak dibagi menjadi lima kategori berdasarkan bakat: jago internasional, jago nasional, grade 1, grade 2, grade 3. Hanya anak-anak di tingkatan grade 1 atau lebih tinggi yang bisa masuk ke skolah olahraga.

Selama beberapa dekade, pernah ada 'sekolah olahraga paruh waktu' yang melatih anak-anak di grade 2 dan grade 3. Tapi kemudian pemerintah menghentikan dana kepada sekolah-sekolah itu dan memberi perhatian lebih kepada sekolah atlet berprestasi.

2 dari 2 halaman

Latihan menjadi rutinitas

Menurut data 2013 (tahun terakhir tersedianya data), dari 51 ribu atlet yang masuk ke tim nasional atau tim provinsi, sekitar 11 ribu anak masuk kategori jago atau grade 1 dan mereka inilah yang bisa berkompetisi untuk memperebutkan jatah ke Olimpiade.

Pada 2013, laporan Badan Olahraga Umum Negara mengatakan, cabang atletik yang jadi andalan China menghabiskan USD 600 juta untuk olahraga dan pelatihan.

"Pembangunan ekonomi China membuat olahraga kami berkembang," ujar pelatih senam Zhao Genbo, kepada CBS News pada 2012, ketika Olimpiade London baru dimulai. "Pelatih dan atlet-atlet kami sudah bekerja keras banting tulang untuk mencapai kemenangan."

Shichahai dan berbagai sekolah lainnya berlomba membangun fasilitas latihan bagi siswa mereka untuk menyalurkan bakat olahraga.

Namun usaha untuk meraih kesuksesan Olimpiade itu kerap membuat hidup para siswa menjadi rutinitas belaka.

"Mereka makan, latihan, lalu masuk kelas, tapi tidak selalu wajib. Kebanyakan dari mereka melakukannya karena alasan pragmatis, untuk meraih kehidupan lebih baik bagi mereka dan keluarga."

Tapi bagi sebagian yang lain, mereka yang sudah mengorbankan segalanya dan masih gagal, membuat mereka tidak siap menghadapi kehidupan nyata, kata Brownell.

"Sebagian besar dari atlet ini tidak akan meraih medali di Olimpiade," kata dia. Tapi sistemlah yang membuat mereka menjalani itu. "Mereka memang ditugaskan untuk mendapat medali."

Sejauh ini sistem itu sudah relatif sukses. Pada Olimpiade London, China membawa pulang 87 medali atau 10 medali lebih banyak ketimbang Amerika Serikat yang biasanya mendominasi.

[pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini