Poin-Poin Krusial yang Disuarakan Jokowi kepada Pemimpin Negara dalam KTT G7

Selasa, 28 Juni 2022 14:30 Reporter : Hari Ariyanti
Poin-Poin Krusial yang Disuarakan Jokowi kepada Pemimpin Negara dalam KTT G7 Momen akrab Jokowi dan Joe Biden di KTT G7. ©JOHN MACDOUGALL/AFP

Merdeka.com - Presiden RI Joko Widodo menghadiri KTT G7 di Munchen, Jerman. Dalam KTT tahun ini, G7 mengundang lima negara lainnya yaitu India, Indonesia, Senegal, Afrika Selatan, dan Argentina sebagai negara partner.

Ada sejumlah poin krusial yang disampaikan Jokowi dalam kesempatan tersebut. Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi menyampaikan, ada dua hal krusial yang disampaikan Jokowi yaitu isu energi serta perubahan iklim dan kerawanan pangan yang disebabkan perang di Ukraina.

Jokowi menyampaikan, risiko perubahan iklim bagi Indonesia dan negara berkembang lainnya sangat nyata. Karena itu, komitmen dan upaya Indonesia untuk mengatasi perubahan iklim dan transisi energi sangat jelas. Indonesia memiliki potensi besar sebagai kontributor energi bersih.

"Selain itu bapak presiden juga menyampaikan bahwa Indonesia memerlukan investasi besar dan teknologi rendah karbon guna mendukung transisi menuju energi bersih yang cepat dan efektif. Dalam kaitan ini, nilai ivestasi yang diperlukan Indonesia antara USD 25-30 miliar untuk transisi energi delapan tahun ke depan," jelas Retno.

Jokowi mengajak negara G7 melihat peluang investasi energi bersih di Indonesia, termasuk pengembangan mobil listrik dan baterai lithium.

Terkait isu kerawanan pangan, Jokowi menyampaikan rakyat di negara-negara berkembang terancam kelaparan dan jatuh ke dalam jurang kemiskinan ekstrem. Berdasarkan data Program Pangan Dunia (WFP), 323 juta orang di 2022 ini menghadapi kerawanan pangan akut.

Bagi Jokowi, ini menyangkut persoalan HAM mendasar.

"Perempuan dan keluarga miskin paling terkena dampak menghadapi kekurangan pangan. Presiden menekankan perlu tindakan tepat untuk mencari solusi konkret," papar Retno.

Untuk mengatasi masalah ini, Jokowi meminta produksi pangan harus ditingkatkan serta rantai pasokan pangan dan pupuk global harus kembali normal.

Negara G20 juga perlu mendukung upaya reintegrasi ekspor gandum dari Ukraina serta ekspor komoditi pangan dan pupuk Rusia ke dalam rantai pasokan global.

"Ini perlu dukungan G7 untuk memfasilitasi ekspor gandum Ukraina agar bisa segera berjalan. Kedua, pentingnya komunikasi kepada dunia bahwa komoditas pangan dan pupuk Rusia tidak terkena sanksi," jelasnya.

Jokowi mengatakan, jika rantai pasokan pupuk ini gagal ditangani, ini dapat menyebabkan krisis beras yang dampaknya dirasakan 2 miliar manusia di dunia, khususnya di negara-negara berkembang.

Menurut mantan gubernur Jakarta ini, G7 dan G20 memiliki tanggung jawab besar mengatasi krisis pangan ini.

Dalam kesempatan penting ini, Jokowi juga meminta dukungan dan kehadiran semua negara G7 di KTT G20 yang akan digelar di Bali pada Oktober mendatang. [pan]

Baca juga:
Dampak Perang, Masyarakat di Negara Berkembang Terancam Kelaparan
Pidato Jokowi di KTT G7: 323 Juta Orang Terancam Hadapi Kerawanan Pangan Akut
Jokowi: Saya akan Ajak Negara G7 untuk Upayakan Perdamaian di Ukraina
Sekjen PBB Peringatkan Dunia Bakal Hadapi Bencana karena Kelangkaan Pangan
Jokowi akan Bertemu Putin, Bawa Misi Penting Kemanusiaan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini