PM Sri Lanka Mundur di Tengah Demo Anti Pemerintah dan Krisis Ekonomi

Selasa, 10 Mei 2022 09:28 Reporter : Hari Ariyanti
PM Sri Lanka Mundur di Tengah Demo Anti Pemerintah dan Krisis Ekonomi Mahinda Rajapaksa. ©Reuters

Merdeka.com - Perdana Menteri (PM) Sri Lanka, Mahinda Rajapaksa mengundurkan diri pada Senin setelah demo anti pemerintah berlangsung selama berminggu-minggu.

Sri Lanka dilanda kerusuhan sipil sejak Maret ketika demonstrasi berujung kekerasan. Warga Sri Lanka geram dengan kegagalan pemerintah mengatasi krisis ekonomi terburuk sejak negara itu merdeka dari Inggris pada 1948.

Kantor Rajapaksa merilis pernyataan terkait pengunduran diri tersebut.

"Beberapa saat yang lalu, Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa mengirim surat pengunduran dirinya ke Presiden Gotabaya Rajapaksa," jelas pernyataan tersebut, dikutip dari laman CNN, Selasa (10/5).

Dalam surat tersebut, Rajapaksa mengatakan dia mengundurkan diri untuk membantu pembentukan pemerintahan sementara.

"Sejumlah pemangku kepentingan telah menunjukkan solusi terbaik untuk krisis saat ini adalah pembentukan pemerintah sementara dari semua partai," jelasnya.

"Oleh karena itu, saya mengajukan pengunduran diri saya agar langkah-langkah selanjutnya bisa diambil sesuai dengan Konstitusi."

Pada Senin, massa pro pemerintah bentrok dengan demonstran di ibu kota Sri Lanka, Colombo. Bentrokan ini menyebabkan diberlakukannya jam malam di seluruh negeri, yang diumumkan sebelum Rajapaksa mengumumkan pengunduran dirinya.

Menurut kepolisian nasional, demonstran anti pemerintah menyerang bus yang membawa pejabat daerah yang berkunjung ke Colombo pada Senin pagi untuk menghadiri rapat dengan PM.

Sedikitnya 151 orang dilarikan ke rumah sakit setelah bentrokan tersebut, menurut Rumah Sakit Nasional Colombo. Menurut tim CNN di lapangan, tentara dikerahkan ke Colombo setelah bentrokan.

Selama beberapa bulan terakhir warga Sri Lanka harus mengantre panjang untuk membeli bahan bakar, tabung gas, makanan, dan obat-obatan yang kebanyakan berasal dari impor.

Terbatasnya mata uang tunai juga mempersulit impor bahan baku untuk sektor manufaktur dan memperburuk inflasi yang meningkat 18,7 persen Maret lalu.

Sri Lanka juga harus membayar utang luar negeri senilai USD 7 miliar tahun ini dari USD 25 miliar yang harus dilunasi pada 2026 nanti. Total utang luar negeri Sri Lanka mencapai USD 51 miliar. [pan]

Baca juga:
Massa Pro-Pemerintah Serang Demonstran di Sri Lanka, Tentara Dikerahkan
Aksi Protes Warga Sri Lanka Blokade Jalanan dengan Tabung LPG
Indonesia Kirim Bantuan Obat-Obatan dan Peralatan Medis untuk Sri Lanka
Senjakala Presiden yang Tak Diinginkan Lagi Rakyatnya
Krisis Ekonomi Parah, Sri Lanka Gagal Bayar Utang Rp732 Triliun
Krisis Ekonomi Memburuk, Kabinet Sri Lanka Mengundurkan Diri

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini