PM Israel Akui Bersekutu dengan Arab Saudi Lawan Iran

Kamis, 3 Januari 2019 14:00 Reporter : Hari Ariyanti
PM Israel Akui Bersekutu dengan Arab Saudi Lawan Iran Benjamin Netanyahu. ©REUTERS

Merdeka.com - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengklaim negaranya dipandang sebagai sekutu penting bagi negara-negara Arab. Khususnya dalam memerangi Iran dan ISIS.

Ini disampaikan Netanyahu saat diwawancara Globo TV dalam kunjungannya ke Rio de Janeiro, Brazil, Senin (31/12) lalu. Atas penilaian negara-negara Arab itu, Netanyahu mengatakan telah terjadi revolusi dalam hubungan Israel dengan negara Arab.

Komentar itu muncul ketika Israel meningkatkan serangan udara pada posisi Iran di Suriah. Termasuk ketika negeri zionis itu tengah beradaptasi atas keputusan mendadak Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menarik pasukan dari Suriah.

Netanyahu juga mengaku telah berulang kali memperingatkan bahwa Iran tengah berusaha mengembangkan senjata nuklir untuk menghancurkan negaranya. Israel, kata Netanyahu, telah menunjukkan diri untuk aktif memerangi kelompok garis keras.

"Islam radikal, Islam yang keras, baik yang dipimpin oleh Syiah radikal yang dipimpin oleh Iran, atau yang dipimpin oleh Sunni radikal yang dipimpin oleh Daesh (ISIS) dan Al Qaeda," kata dia seperti dilansir dari AFP.

"Sayangnya kami belum membuat kemajuan dengan Palestina. Setengah dari mereka sudah berada di bawah senjata Iran dan pengaruh Islam radikal," tambahnya.

Terkait kemungkinan dialog dengan pemimpin Iran, Netanyahu menolak. "Jika Iran tetap berkomitmen untuk penghancuran kita, jawabannya adalah tidak," tegasnya. Namun kemungkinan dialog akan terwujud jika Iran melakukan transformasi total.

Netanyahu berada di Brasil untuk menghadiri pelantikan Presiden Jair Bolsonaro yang dikenal pro-Israel. Di sela pelantikan, Netanyahu dijadwalkan mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, yang juga hadir dalam acara tersebut. Mereka diharapkan untuk membahas penarikan pasukan AS dari Suriah dan kegiatan-kegiatan Iran di Timur Tengah.

Israel akan Meningkatkan Perlawanan di Suriah

Benjamin Netanyahu mengatakan pihaknya akan meningkatkan perlawanan terhadap pasukan Iran yang mendukung pemerintahan Presiden Bashar al-Assad, kendati AS memutuskan mundur dari Suriah. Atas kebijakan AS itu, Israel khawatir dapat mengurangi pengaruh diplomatiknya dengan Rusia, pendukung besar pemerintahan Assad.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan pasukannya dapat menarik diri dari Suriah. Keberadaan militan ISIS satu-satunya alasan tentara AS berada di Suriah. Hal ini disampaikan Trump melalui Twitternya beberapa waktu lalu.

Pemerintahan Trump diperkirakan akan menarik sekitar 2.000 pasukannya dari Suriah. Secepatnya pasukan AS segera meninggalkan Suriah. Keputusan itu menggarisbawahi perselisihan antara Trump dan penasihat militernya, yang mengatakan kantong militan ISIS tetap ada dan kebijakan AS adalah menjaga pasukan tetap di tempatnya sampai kelompok itu diberantas.

Pada Rabu 19 Desember 2018 lalu, Kementerian Pertahanan AS merilis pernyataan bahwa pihaknya telah memulai proses penarikan pasukan AS dari Suriah, tetapi tampaknya menentang pernyataan Trump bahwa kampanye ISIS sudah berakhir.

"Koalisi telah membebaskan wilayah yang dikuasai ISIS, tetapi kampanye melawan ISIS belum berakhir," kata juru bicara Pentagon, Dana White dalam sebuah pernyataan.

Reporter: Rizki Akbar Hasan

Sumber: Liputan6.com [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini