Petugas Perbatasan China - Hong Kong Razia Ponsel Wisatawan

Jumat, 16 Agustus 2019 15:44 Reporter : Merdeka
Petugas Perbatasan China - Hong Kong Razia Ponsel Wisatawan Tentara China di perbatasan Hong Kong. ©AFP/STR

Merdeka.com - Petugas perbatasan China merazia telepon seluler orang-orang yang masuk ke wilayahnya melalui Hong Kong. Dikhawatirkan, tindakan tersebut menjadi upaya China mendata wisatawan yang mendukung unjuk rasa Hong Kong.

Menurut pengakuan tiga orang yang teleponnya diperiksa, petugas melihat foto, pesan, dan aplikasi lainnya. Seperti dilaporkan The New York Times, Kamis (15/8). Ini adalah kali pertama mereka mengalami pemeriksaan ponsel oleh petugas perbatasan China.

Orang-orang yang dipilih untuk dilakukan pemeriksaan ketat, kebanyakan pria usia muda. Mereka dibawa ke area kecil yang ditutupi kanvas hitam. Lalu diminta menunjukkan kartu identitas. Dalam area khusus itu, terdapat sejumlah petugas duduk di meja. Wisatawan diminta membuka ponsel mereka. Tak hanya ponsel, tas dan koper mereka juga diperiksa oleh petugas yang lain. Namun petugas tidak menjelaskan yang mereka cari.

"Saya tidak suka dengan hal itu," ungkap Hsu Tzu Hung, guru asal Taiwan yang ponselnya diperiksa saat menyeberang perbatasan Hong Kong-China.

"Apa dasar hukum untuk (pemeriksaan ponsel) ini," tambahnya.

Menurut Hsu, petugas membuka pesan di aplikasi WeChat, media sosial yang banyak digunakan di China. Namun, petugas tidak membuka aplikasi Line, yang lebih populer di Taiwan daripada di China. Pemeriksaan itu dilakukan sekitar 10 menit.

Cerita berbeda dialami Arain Lin, warga asal Fujian, China. Lin dalam perjalanan kembali ke Fujian, Kamis (15/8) kemarin setelah liburan di Hong Kong. Dia mengatakan, petugas tampak tertarik dengan video yang diambilnya di Bandara Hong Kong saat demonstrasi terjadi.

Petugas menanyakan alasan Lin mengambil video tersebut. Mereka beralasan penasaran dengan kondisi di sana. Petugas perbatasan China di Kowloon Barat yang memeriksa Lin, akhirnya menghapus video tersebut.

Sementara Chen, warga asal Hong Kong ditanya karena hanya menyimpan sedikit foto di ponselnya. Kepada petugas, Chen beralasan baru saja melakukan backup data ponselnya.

Kepada The New York Times, Chen bercerita telah memprediksi pemeriksaan tersebut. Dia memilih menyimpan ponsel utamanya di rumah, sebelum pergi ke China daratan untuk mengunjungi kerabatnya. Untuk menghindari kecurigaan petugas, Chen bahkan memasang gambar peta China dengan warna bendera kebangsaannya untuk layar ponsel cadangannya.

Kabar soal pemeriksaan seluler wisatawan yang melintas perbatasan China ini telah sampai ke telinga anggota legislatif Hong Kong.

"Kontrol ideologis dari China sangatlah berat," ucap Anggota Legislatif pro-demokrasi, Au Nok-hin.

Berdasarkan laporan The Times, para pelancong memasuki daratan China dari stasiun kereta Kowloon Barat, Hong Kong. Dari Kowloon, pelancong akan terhubung langsung dengan kereta cepat ke China.

Sebelum layanan kereta beroperasi di stasiun Kowloon Barat, kontroversi timbul karena keputusan pemerintah Hong Kong yang mengizinkan perwira China daratan untuk menegakkan hukum China di sana. Saat itu, kalangan pendukung demokrasi Hong Kong khawatir otonomi wilayahnya akan hilang seiring izin pemberlakuan hukum China daratan di Kowloon.

Kekhawatiran yang sama kembali terjadi, ketika pemerintah Hong Kong mengumumkan Rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi. Namun, Protes RUU ekstradisi berlangsung jauh lebih serius.

Selain pemeriksaan ponsel, Chin diberitakan telah mengumpulkan pasukan paramiliter di Kota Shenzhen, daerah yang berbatasan langsung dengan Hong Kong.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita [noe]

Topik berita Terkait:
  1. Protes Hong Kong
  2. China
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini