Pertemuan Rahasia Trump dan Putin yang Kini Jadi Polemik di AS

Senin, 14 Januari 2019 12:19 Reporter : Hari Ariyanti
Pertemuan Rahasia Trump dan Putin yang Kini Jadi Polemik di AS Mural Donald Trump cium Vladimir Putin. ©REUTERS/Ints Kalnins

Merdeka.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menghadapi berbagai pertanyaan baru yang membuatnya tak nyaman terkait hubungannya dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Dia menolak membeberkan laporan terkait percakapan pribadinya dengan Putin.

Anggota parlemen dari Republik membela Trump dalam hal ini dan menyebut Trump lebih keras dari pendahulunya, Barack Obama terkait kebijakan yang berkenaan dengan Rusia. Namun tetap mempertanyakan isi pertemuan tersebut.

"Saya ingin mengetahui sedikit lebih banyak tentang apa yang terjadi di sana," kata Senator Ted Cruz, dalam acara "Meet the Press" di NBC. "Saya ingin belajar lebih dari sekadar dugaan media," imbuhnya seperti dikutip dari Channel News Asia, Senin (14/1).

Namun, tambah Cruz, warga Amerika di luar Washington, tidak tertarik dengan isu tersebut.

The Post melaporkan, Trump pergi ke tempat dengan jarak yang tak biasa demi merahasiakan pembicaraan pribadinya dengan Putin. Termasuk juga menyembunyikan rincian pertemuan dari pejabat senior dan bahkan mengambil catatan penerjemahnya sendiri.

Laporan berikutnya diterbitkan The New York Times yang menulis bahwa FBI menjadi sangat waspada setelah Trump memecat Direktur FBI, James Comey pada Mei 2017, yang membuka investigasi kontra intelijen apakah ia bertindak atas nama Rusia.

Senator dari Republik, Lindsey Graham mengatakan tak mempercayai laporan The New York Times tersebut. Namun jika pertemuan rahasia itu terjadi, pihaknya perlu mengetahui.

"Jika itu benar terjadi, Kongres perlu mengetahui perihal itu," ujarnya kepada Fox News Sunday.

Pertanyaan 'Sangat Melecehkan'

Saat diwawancara Fox News pada Sabtu lalu, Trump ditanya, "Apakah Anda sekarang atau telah bekerja untuk Rusia?," Trump merespons dengan menyatakan bahwa pertanyaan tersebut sangat melecehkannya.

"Menurut saya itu adalah hal paling melecehkan yang pernah ditanyakan kepada saya," ujarnya.

"Saya tidak menyembunyikan apa pun, saya tidak peduli. Maksud saya, ini sangat konyol," imbuhnya kepada pembawa acara, Jeanine Pirro, tanpa menyangkal secara langsung laporan The Post.

Sekretaris Bidang Media Gedung Putih, Sarah Sanders melontarkan pernyataan menyebut berita The Post sangat tidak akurat dan tak perlu ditanggapi. Namun Demokrat tidak yakin, karena menurut Senator Dick Durbin, petinggi Demokrat, banyak pertanyaan yang muncul terkait hubungan Trump dengan Putin.

"Anda tahu, begitu banyak pertanyaan diajukan," ujarnya dalam acara "Meet The Press" yang ditayangkan NBC.

"Kenapa dia (Trump) begitu akrab dengan Vladimir Putin, yang merupakan mantan agen KGB, tidak pernah berteman dengan Amerika, menginvasi sekutu kita, mengancam kita di seluruh dunia, dan berupaya kuat merusak pemilihan umum kita, kenapa ini justru menjadi kawan akrab Presiden Trump? Saya tak habis pikir," jelasnya.

Politikus Demokrat yang mewakili Maryland, John Delaney, yang telah mengumumkan akan maju dalam Pilpres mendatang, menyebut sikap Trump terhadap Rusia sangat mencurigakan. "Kita belum pernah memiliki presiden yang mendukung Vladimir Putin dalam beberapa dekade," tambahnya.

Kepala Komite Badan Intelijen, Adam Schiff dalam akun Twitternya mencuitkan bahwa Demokrat tahun lalu telah berusaha mendapatkan catatan penerjemah atau kesaksian tentang pertemuan pribadi Trump dengan Putin di Helsinki, tetapi Partai Republik menolak permintaan tersebut.

"Akankah mereka bergabung dengan kita sekarang? Bukankah kita harus mencari tahu apakah presiden kita benar-benar mengutamakan Amerika?" tanya Schiff.

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyampaikan dirinya tak peduli jika detail pertemuannya dengan Putin pada Juli 2018 dibuka ke publik. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini