Permintaan Maaf Pemimpin Hong Kong Ditolak Demonstran

Senin, 17 Juni 2019 13:04 Reporter : Merdeka
Permintaan Maaf Pemimpin Hong Kong Ditolak Demonstran Aksi demo di Hong Kong. ©AFP/HECTOR RETAMAL

Merdeka.com - Aksi protes diperkirakan berlanjut di Hong Kong, menyusul penolakan para demonstran terhadap permintaan maaf pemimpin eksekutif kota itu, Carrie Lam. Lam menyampaikan permintaan maaf karena menyebabkan perselisihan dan keresahan pada masyarakat Hong Kong. Namun, Dia menolak mengundurkan diri.

Padahal, sebagaimana dikutip dari The Guardian pada Senin (17/6), pengunduran diri Lam adalah salah satu tuntutan aksi protes yang berlangsung di Hong Kong sejak 9 Juni 2019, bersama dengan desakan untuk menghapus penuh RUU Ekstradisi yang berisiko membuat tersangka ditangkap dan diadili sepihak oleh otoritas China daratan.

"Pemerintahannya tidak bisa berjalan efektif, dan akan memiliki banyak kesulitan di tengah jalan," kata legislator senior Partai Demokrat James To kepada lembaga penyiaran pemerintah setempat, RTHK.

"Saya percaya pemerintah pusat (China) akan menerima pengunduran dirinya," lanjut To.

Hal senada juga diungkapkan oleh para politikus oposisi, yang mendukung seruan demonstran agar Carrie Lam mundur bersama dengan RUU Ekstradisi yang dipegangnya.

"Kami tidak bisa menerima permintaan maafnya, itu tidak menghilangkan semua ancaman pada kami," kata pekerja sosial Brian Chau, di tengah ratusan pengunjuk rasa yang menginap di distrik Admiralty, yang merupakan pusat gedung-gedung pemerintah Hong Kong.

Adapun protes pada hari Minggu disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah Hong Kong, sejak wilayah administrasi khusus itu dikembalikan dari Kerajaan Inggris ke China pada 1997 silam.

Sebanyak dua juta orang diperkirakan terlibat dalam unjuk rasa hari Minggu, meski jumlah tersebut belum diverifikasi. Mayoritas pengunjuk rasa mengenakan pakaian hitam dan membawa bunga putih sebagai lambang keprihatinan atas semakin kuatnya tekanan China di Hong Kong.

Pada Senin pagi, beberapa ratus pengunjuk rasa menolak pembubaran yang diserukan oleh polisi Hong Kong.

Di distrik Admiralty, seruan bubar oleh polisi melalui pengeras suara dibalas langsung oleh pengunjuk rasa. Melalui mikrofon, beberapa darinya mengatakan tidak akan pergi sebelum Lam menemui mereka secara langsung untuk mediasi.

"Kami tidak mengganggu yang lain, kami di sini justru untuk bantu menyuarakan keprihatinan rakyat Hong Kong," ujar salah seorang demonstran.

Aksi protes hari Minggu merupakan tanggapan terhadap keputusan Lam untuk menunda pembahasan RUU ekstradisi tanpa batasan waktu yang jelas.

Selain menuntut pencabutan RUU ekstradisi secara penuh, demonstran juga meluapkan kemarahan pada cara polisi menangani unjuk rasa pada Rabu lalu, yang menyebabkan lebih dari 70 orang terluka akibat peluru karet dan gas air mata.

Sementara itu, polisi Hong Kong mengumumkan catatan resmi jumlah demonstran pada aksi protes hari Minggu berjumlah sekitar 338.000 orang, jauh dari klaim penyelenggara yang menyebut angka dua juta jiwa.

Penyelenggara protes berencana terus menekan Lam, dengan menyerukan pelajar dan pekerja untuk ikut berunjukrasa pada hari Senin.

Banyak toko dan gedung di Pulau Hong Kong tetap tutup hingga hari Senin. Kebijakan serupa juga berlaku pada kantor pemerintahan di seluruh wilayah eks koloni Inggris itu, termasuk area di Semenanjung Kowloon dan pulau-pulau di sekitarnya.

Sementara itu, para pengunjuk rasa juga dikabarkan tengah menunggu momen penting pembebasan Joshua Wong, yang merupakan wajah utama pada demonstrasi gerakan payung pada 2014 lalu.

Ia dijadwalkan keluar dari balik jeruji besi pada hari Senin.

Reporter: Happy Ferdian Syah Utomo

Sumber: Liputan6.com [did]

Topik berita Terkait:
  1. Protes Hong Kong
  2. Hong Kong
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini