Perjuangan Dokter di Kashmir Demi Pasien Kurang Mampu

Jumat, 30 Agustus 2019 16:46 Reporter : Merdeka
Perjuangan Dokter di Kashmir Demi Pasien Kurang Mampu ribuan pekerja india mulai meninggalkan kashmir. ©Syed Shahriyar/Aljazeera

Merdeka.com - Omar Shaad Saleem, seorang dokter asal Kashmir, mengayuh sepedanya menuju Lal Chowk, area pusat Kota Srinagar. Tiba di sana, dia lalu duduk bersila sembari membentangkan kertas bertuliskan, "Ini bukan sebuah protes, ini adalah permintaan."

Aksi tersebut dilakukan untuk menyuarakan nasib buruk pasiennya yang tidak lagi dapat menggunakan layanan di pusat kesehatan, karena tidak ada koneksi internet di Kashmir. Dikutip dari laman Times of India pada Jumat (30/8), Omar mengatakan dirinya sempat dibawa ke kantor polisi Kothi Bagh, Kashmir ketika akan menjalankan aksinya itu.

"Mungkin mereka (polisi) khawatir kehadiran saya di sana sambil membawa poster akan menciptakan masalah hukum dan melanggar ketertiban," katanya.

Meski tahu apa yang dilakukannya sedikit berisiko, namun Omar yakin aksinya akan menarik perhatian pihak berwenang untuk segera mengembalikan akses komunikasi dan internet di Kashmir. Omar mengungkapkan, akses internet merupakan kebutuhan yang perlu dipenuhi agar seluruh aplikasi dan sistem kesehatan di rumah sakit dapat berjalan dengan baik.

Menurut Omar, setiap harinya banyak pasien yang berkunjung ke rumah sakit tempatnya bekerja, untuk dialisis atau kemoterapi. Keputusan pemerintah India untuk memutus akses komunikasi di Kashmir, memberi dampak langsung bagi aktivitas media di tempatnya bekerja. Bahkan, fasilitas kartu layanan kesehatan pun tidak dapat diproses.

"Kami tidak dapat memproses kartu Ayushman Bharat (kartu layanan kesehatan India)," jelasnya.

Lebih lanjut, Omar menyebutkan bahwa dalam kondisi tertentu mereka memerlukan kartu kesehatan sebagai prosedur melayani pasien tidak mampu.

Ahli urologi itu meninggalkan pekerjaannya di Rumah Sakit Jaslok Mumbai untuk melayani pasien di tempat kelahirannya, Kashmir. Wakil Pengawas Medis Rumah Sakit SMHS, dr. Muneer Ahmad mengatakan, setiap akhir pekan Omar harus mengayuh sepeda sejauh 30 km lebih untuk tiba di kotanya, Sopore demi melayani pasien tidak mampu.

Omar lahir dari keluarga tenaga medis. Ayah Omar adalah seorang ahli onkologi, sementara ibunya ahli radiologi. Kedua orangtua Omar memiliki klinik pribadi di Bhagat Barzulla, Srinagar. Di klinik keluarga itu, pasien kurang mampu bisa mendapat layanan kesehatan gratis.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita [pan]

Topik berita Terkait:
  1. Kashmir
  2. Kesehatan
  3. India
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini