Perempuan Pekerja Jepang Menentang Tradisi Kewajiban Beri Coklat di Hari Valentine

Kamis, 14 Februari 2019 13:00 Reporter : Hari Ariyanti
Perempuan Pekerja Jepang Menentang Tradisi Kewajiban Beri Coklat di Hari Valentine Cokelat Valentine. ©2014 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Para perempuan pekerja di Jepang menentang tradisi yang mewajibkan mereka memberikan coklat untuk rekan kerja prianya di hari Valentine. Tradisi ini pun menuai kemarahan publik dan menilainya sebagai sebuah paksaan.

Sampai saat ini, para perempuan di tempat kerja diharapkan membeli coklat untuk rekan kerja prianya sebagai sebuah tradisi yang disebut Giri Choco atau secara harfiah berarti coklat kewajiban.

Sementara itu para pria juga seharusnya memberikan coklat balasan pada tanggal 14 Maret dalam perayaan White Day. White Day merupakan sebuah acara yang diimpikan para pembuat cokelat di awal 80-an untuk meningkatkan penjualan. Namun ada beberapa bukti yang berkembang bahwa tradisi Giri Choco ini ditentang.

Banyak orang menilai, tekanan untuk menghindari pelanggaran dengan membelanjakan ribuan yen untuk cokelat amat berat. Beberapa perusahaan kemudian mulai melarang praktik ini, karena para pekerja memandangnya sebagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan dan pelecehan.

Sebuah survei yang dilakukan salah satu toko serba ada di Tokyo menemukan lebih dari 60 persen perempuan akan membeli cokelat sebagai hadiah bagi diri sendiri pada 14 Februari. Lebih dari 56 persen mengatakan mereka akan memberikan cokelat kepada anggota keluarga, sementara 36 persen akan memberi coklat untuk pasangan atau orang yang disukai. Sedangkan hanya 35 persen perempuan yang berencana membeli coklat untuk rekan kerja pria mereka.

"Sebelum adanya larangan, kami khawatir tentang hal-hal seperti berapa uang yang seharusnya dibelanjakan untuk sebatang cokelat dan batasan untuk siapa saja kami harus memberi cokelat, jadi ada baiknya kita tidak memiliki budaya memberi paksa," kata salah satu pekerja kantor yang disurvei, menurut laman Japan Today, dilansir dari The Guardian, Kamis (14/2).

Sementara itu, Sora24News melaporkan tentang fenomena gyaku choco - pemberian balasan - di mana pria memberikan cokelat kepada pasangan, pacar atau calon kekasihnya.

Memberi cokelat sebagai hadiah Hari Valentine Jepang mulai marak pada pertengahan 1950-an, tumbuh menjadi pasar potensial dengan nilai jutaan dolar bagi para produsen cokelat. Namun munculnya reaksi penentangan terhadap tradisi Giri Choco mendorong beberapa produsen cokelat memperbaiki metode pemasaran mereka.

Menjelang Hari Valentine tahun lalu, produsen cokelat Belgia, Godiva membuat kegemparan ketika memasang iklan satu halaman penuh di surat kabar yang mendesak karyawan perempuan agar tidak melaksanakan tradisi Giri Choco jika mereka merasa mereka melakukannya di bawah tekanan.

"Hari Valentine adalah hari ketika orang menyampaikan perasaan mereka yang sebenarnya, bukan mengoordinasikan hubungan di tempat kerja," kata iklan itu. [noe]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini