Perang Yaman kian runyam, yang tadinya sekubu kini berseteru

Rabu, 31 Januari 2018 07:19 Reporter : Pandasurya Wijaya
Perang Yaman kian runyam, yang tadinya sekubu kini berseteru pasukan separatis menguasai gedung pemerintah di aden. ©Reuters

Merdeka.com - Pertempuran antara kubu loyalis presiden Yaman dan kelompok separatis di selatan masih berlanjut di Aden. Kedua pihak kini mengerahkan tanks dan persenjataan berat.

Tiga hari lalu pasukan separatis yang ingin memerdekakan diri di selatan Yaman menguasai sejumlah gedung pemerintah. Perdana Menteri menyebut serangan itu adalah kudeta.

Sejak Presiden Abdurrabuh Mansur Hadi dan kabinetnya melarikan diri ke Arab Saudi dari Ibu Kota Sana pada 2015 lantaran diserbu pasukan pemberontak Huthi, pemerintahan Yaman berpusat di Aden.

Dilansir dari laman BBC, Senin (29/1) sejak peristiwa itu Saudi menggalang pasukan koalisi untuk menggempur pemberontak Huthi. Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, dari tahun 2015 hingga kini perang Yaman sudah menewaskan 9.245 jiwa dan membuat tiga juta penduduk mengungsi.

Sebelum perang dimulai pada 2015, kelompok separatis menguasai wilayah selatan Yaman yang sebelumnya adalah negara independen sebelum terjadi unifikasi dengan Utara pada 1990.

Tiga hari lalu pasukan loyalis Presiden Hadi yang didukung Arab Saudi bentrok dengan kelompok bersenjata Pasukan Perlawanan Selatan (SRF), sayap militer dari gerakan politik Dewan Transisional Selatan (STC) alias kelompok separatis yang didukung Uni Emirat Arab.

Pasukan pemerintah Yaman dan separatis sebetulnya bersekutu menggempur pemberontak Huthi selama tiga tahun konflik meletus.

Perdana Menteri Ahmad bin Dagher menuding STC melakukan kudeta. Dalam beberapa bulan terakhir hubungan antara pemerintah Yaman yang berbasis di Aden dengan STC menegang karena ambisi kekuasaan.

Sedikitnya 36 orang tewas dan 185 lainnya luka dalam bentrokan bersenjata di Aden sejak Ahad lalu.

"Separatis mengepung istana dan kini menguasai pintu masuk utama. Mereka yang ada di dalam istana secara tidak langsung dalam tawanan," ujar seorang pejabat militer Yaman kepada kantor berita AFP.

Pasukan Saudi yang mengawal gedung istana selama beberapa bulan ini mencegah pasukan separatis merangsek masuk.

Bentrokan itu dipicu berakhirnya tenggat waktu diberikan STC untuk perubahan kabinet, termasuk penggantian perdana menteri Ahmad bin Daghar.

STC yang dibentuk tahun lalu oleh mantan Gubernur Aden, Aidarus al-Zubaidi menuding pemerintah gagal karena banyak korupsi. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini