Perang Tak Kunjung Usai di Afghanistan, AS Jadi Kambing Hitam

Jumat, 16 November 2018 07:29 Reporter : Pandasurya Wijaya
Perang Tak Kunjung Usai di Afghanistan, AS Jadi Kambing Hitam militan taliban di afghanistan. ©AP/Allauddin Khan

Merdeka.com - Ketika pasukan Amerika Serikat dan tentara Afghanistan memasuki Kabul pada November 2001, mereka disambut sebagai pahlawan. Namun setelah 17 tahun kecamuk perang, Taliban kini menguasai hampir separuh negeri. Rakyat Afghanistan kini merasa kian tidak aman dan mereka menyalahkan Amerika.

Amerika Serikat kehilangan lebih dari 2.400 tentaranya selama di Afghanistan dan menghabiskan biaya lebih dari USD 900 miliar dari mulai operasi militer hingga membangun jalan, jembatan, dan pembangkit tenaga listrik. Tiga presiden AS mengumbar janji akan memberi Afghanistan perdamaian, baik dengan cara menarik tentara atau memerangi Taliban. Tahun lalu AS menjatuhkan 'induk dari segala bom' ke sebuah kawasan gua.

Tak satupun dari strategi AS itu berhasil. Bertahun-tahun hidup di masa perang, rakyat Afghanistan kini dihantui banyak teori konspirasi, salah satunya adalah AS memang sengaja membuat perang ini tak bertepi.

Anggota Dewan Perdamaian Afghanistan Muhammad Islamil Qasimyar mempertanyakan, bagaimana mungkin pasukan AS dan NATO yang bisa mencapai 150 ribu personel didukung ratusan ribu tentara Afghanistan tidak bisa menaklukkan puluhan ribu saja tentara Taliban?

"Ini antara mereka tidak mau perang usai atau memang mereka tidak bisa mengalahkan Taliban," kata dia, seperti dilansir laman the Washington Post, Selasa (13/11). Dia menuding AS dan sekutunya, Pakistan, sengaja memperpanjang perang supaya pasukan asing tetap bercokol di Afghanistan. Saat ini ada sekitar 15 ribu tentara asing di negeri itu dan Afghanistan dijadikan lokasi buat memantau Iran, Rusia, dan China.

"Mereka menciptakan neraka, bukan surga bagi kami," kata Qasimyar.

Gencatan senjata Taliban dengan tentara Afganistan ©REUTERS/Parwiz

Teori konspirasi juga berkembang di tengah masyarakat. Setelah bulan lalu kepala polisi Kandahar ,jenderal Abdul Raziq tewas dibunuh, media sosial dibanjiri foto dan unggahan yang menyebut dia adalah korban dari konspirasi AS.

"Pada 2001 rakyat Afghanistan mendukung kedatangan pasukan AS dan komunitas internasional dengan sepenuh hati," kata Hamid Karzai, presiden pertama Afghanistan yang menjabat hingga 2014.

"Selama beberapa tahun semuanya berjalan lancar. Lalu tiba saatnya kami melihat AS seperti mengubah haluan atau mengabaikan pandangan rakyat Afghanistan."

Sebagian kalangan menilai Afghanistan juga dibekap korupsi di kalangan elit.

"Semua uang yang masuk ke negeri ini mengalir ke orang-orang punya kuasa. Orang miskin tidak dapat apa-apa," kata Hajji Akram, pekerja buruh di Kota Tua Kabul yang harus menghidupi keluarganya dengan penghasilan USD 4 sehari.

"Orang asing tidak membuat kondisi lebih baik. Mereka lebih baik pergi."

Kepala Inspektorat Jenderal untuk Rekonstruksi Afghanistan, John Sopko, mengatakan hal senada. AS sudah menghabiskan biaya USD 132 miliar untuk pembangunan kembali Afghanistan, lebih banyak dari dana untuk pembangunan Eropa Barat usai Perang Dunia Kedua. Untuk operasi militer saja AS sudah mengeluarkan dana USD 750 miliar dan saban tahun Washington menyumbang USD 4 miliar untuk pasukan keamanan Afghanistan.

Hasilnya?

"Bahkan setelah 17 tahun AS dan koalisi memberikan bantuan keuangan, Afghanistan masih menjadi negara paling miskin, kurang berpendidikan, paling korup, dan paling berbahaya di dunia," kata Sopko. [pan]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini