Perang kini kembali ke tanah airnya

Minggu, 31 Juli 2016 08:13 Reporter : Pandasurya Wijaya
Perang kini kembali ke tanah airnya Konflik Suriah. ©Reuters

Merdeka.com - Serangan kaum militan yang kian marak melanda Eropa belakangan ini membuktikan negara Barat tidak mampu mencegah perang melawan terorisme.

Setelah pembunuhan pendeta Katolik di sebuah gereja di Normandy, Prancis pekan lalu, Presiden Francois Hollande mengatakan akan membalas serangan ISIS itu. Pekan lalu sekitar seratus warga sipil tewas di Manbij, Suriah, akibat serangan koalisi Barat.

Ketika teroris menyerang, negara Barat membalas dengan serangan udara. Korban masih terus berjatuhan di Timur Tengah. Warga sipil, termasuk anak-anak tewas mengenaskan akibat serangan udara baik dari kelompok pemberontak atau pasukan pemerintah dan negara koalisi.

Dikutip dari kolom jurnalis Joe Gill di situs Middle East Eye, (27/7), lingkaran setan kekerasan ini sudah berlangsung hampir 40 tahun lamanya. Jauh sebelum kelompok militan melancarkan serangan ke Eropa, negara Barat dan Amerika Serikat mendanai dan mempersenjatai apa yang sekarang dunia sebut teroris. Mereka dipasok senjata untuk melawan Rusia dan musuh lainnya. Setelah perang berkecamuk di Asia Barat lalu di Afrika Utara, kini perang itu kembali ke tanah airnya, negara Barat.

Ketika kekuasaan komunis merebut Kabul pada 1978, Amerika mulai memasok senjata ke kelompok militan Islam di Afganistan. Ketika rusia menyerang setahun kemudian, pasokan senjata dan dana dari Amerika Serikat mengalir kepada kaum militan yang kini mereka sebut teroris, termasuk kelompok pemberontak yang kini merongrong Timur Tengah.

Di Bosnia dan Kosovo, negara Barat mendanai dan memasok senjata ke pihak yang sama. Mereka yang kita sebut sekarang Al Qaidah. Pada 1993, para teroris mencoba meledakkan gedung World Trade Center. Mereka gagal tapi mereka tidak menyerah.

Secara gamblang bisa dikatakan, kita saat ini hidup di tengah model kapitalisme industri militer yang menjadi bahan bakar konflik. Secara politik bisa dibilang para politisi neoliberal bergantung pada eksistensi musuh di dalam dan di luar negeri. Jika tak bisa memberi rasa aman bagi masyarakat maka rasa takut adalah penggantinya. Keuntungan di luar negeri diperoleh dari penjualan senjata kepada rezim-rezim yang berkepentingan. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini