Peraih Nobel Perdamaian Tuntut Keadilan Bagi Korban Kekerasan Seksual

Senin, 10 Desember 2018 13:34 Reporter : Jayanti
Peraih Nobel Perdamaian Tuntut Keadilan Bagi Korban Kekerasan Seksual peraih nobel perdamaian 2018. ©REUTERS/Lucas Jackson/Vincent Kessler

Merdeka.com - Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini menyerukan menegakkan keadilan bagi korban kekerasan seksual di daerah konflik seluruh dunia. Hal ini disampaikan sehari sebelum mereka menerima penghargaan atas upaya mengakhiri pemerkosaan.

Denis Mukwege, dokter yang membantu korban kekerasan seksual di Republik Demokratik Kongo (DRC), dan Nadia Murad, aktivis Yazidi yang juga selamat dari perbudakan seks ISIS akan menerima Hadiah Nobel Perdamaian 2018 di Oslo, Norwegia, Senin (10/12).

Mukwege adalah kepala Rumah Sakit Panzi di kota timur DRC Bukavu. Klinik ini menerima ribuan wanita setiap tahunnya. Banyak dari mereka membutuhkan operasi akibat kekerasan seksual yang dihadapi.

Sedangkan Murad adalah seorang advokat untuk minoritas Yazidi di Irak dan pembela hak-hak pengungsi dan perempuan. Dia diperbudak dan diperkosa oleh pejuang ISIS di kota Mosul Irak pada 2014.

Seperti dilansir dari Aljazeera, Senin (10/12), laporan yang dikeluarkan oleh Federasi Hak Asasi Manusia Internasional ada lebih dari 6.800 Yazidi diculik, di mana 4.300 melarikan diri atau dibeli untuk dijadikan budak. 2.500 Lainnya masih dinyatakan hilang.

Murad telah berjuang untuk mengkampanyekan kejahatan perang yang dilakukan ISIS. Mereka telah melakukan kejahatan kemanusiaan atau pemusnahan ras. Dia berharap tim investigasi PBB dapat mengumpulkan bukti-bukti tindakan kejam yang dilakukan tersebut.

Tim telah memulai kerjanya pada Agustus, setahun setelah disetujui oleh Dewan Keamanan PBB.

Pada acara konferensi pers di Norwegian Nobel Institute hari Minggu (9/12), Murad mengatakan bahwa tidak seorang pun di Irak yang telah menghadapi keadilan karena sudah memperkosa para wanita dan gadis-gadis Yazidi.

"Kami belum melihat satu pun keadilan dalam hal ini. Kami harus menerima keadilan satu hari nanti. 3.000 Perempuan dan gadis Yazidi masih berada dalam tahanan seksual dengan tentara ISIL," katanya.

"Jika bukan karena kampanye, kami selama empat tahun terakhir tidak akan melihat langkah-langkah menuju keadilan," tambahnya. [did]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini