Penelitian: Vaksin Covid-19 Pfizer dan Moderna Produksi Respons Imun Jangka Panjang

Rabu, 30 Juni 2021 16:00 Reporter : Hari Ariyanti
Penelitian: Vaksin Covid-19 Pfizer dan Moderna Produksi Respons Imun Jangka Panjang Arab Saudi mulai vaksinasi Covid-19. ©FAYEZ NURELDINE/AFP

Merdeka.com - Vaksin Covid-19 Pfizer-BioNtech dan Moderna menghasilkan respons imun atau kekebalan yang berkelanjutan, menunjukkan vaksin ini menawarkan perlindungan jangka panjang terhadap Covid-19, berdasarkan penelitian terbaru.

Penelitian yang diterbitkan Senin di jurnal peer-review Nature, menemukan vaksin "menginduksi produksi antibodi yang persisten" "memungkinkan generasi kekebalan humoral yang kuat."

Selain itu, penelitian menemukan vaksin menghasilkan antibodi tingkat tinggi terhadap tiga varian virus corona yang diketahui, termasuk varian Beta yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan. Ada respons antibodi yang lebih kuat terhadap varian tersebut di antara mereka yang divaksinasi setelah sebelumnya terinfeksi Covid-19.

Meskipun para peneliti hanya meneliti mereka yang menerima vaksin Pfizer-BioNtech, vaksin itu menggunakan teknologi mRNA yang sama untuk menghasilkan inokulasi seperti vaksin Moderna.

Sementara banyak vaksin yang ada menggunakan bit virus atau protein bakteri untuk memicu respons imun, vaksin virus corona berbasis mRNA menginstruksikan tubuh untuk membuat dan melepaskan apa yang disebut protein spike, yang kemudian menginduksi respons imun.

“Respon kekebalan terhadap vaksin semacam itu kuat dan berpotensi bertahan lama,” jelas sebuah laporan Fakultas Kedokteran Universitas Washington, yang para ilmuwannya memimpin penelitian, dikutip dari Times of Israel, Rabu (30/6).

Meskipun penelitian lain telah melacak tingkat antibodi dalam darah orang yang divaksinasi dari waktu ke waktu, penelitian baru ini melihat lebih dekat bagaimana respon imun berkembang dalam tubuh.

Para peneliti menemukan pusat germinal di kelenjar getah bening peserta dalam penelitian ini masih sangat aktif empat bulan setelah mereka menerima suntikan vaksin pertama.

“Pusat germinal adalah kunci untuk respons imun yang kuat dan protektif,” jelas penulis senior Ali Ellebedy, profesor patologi dan imunologi, kedokteran dan mikrobiologi molekuler.

“Pusat germinal adalah tempat ingatan kekebalan kita terbentuk. Dan semakin lama kita memiliki pusat germinal, semakin kuat dan tahan lama kekebalan kita karena ada proses seleksi sengit yang terjadi di sana, dan hanya sel kekebalan terbaik yang bertahan.”

2 dari 2 halaman

Sebanyak 41 orang diperiksa untuk penelitian ini, delapan di antaranya pernah terinfeksi Covid-19 dan semuanya diberi dua dosis standar vaksin Pfizer-BioNTech.

Sampel germinal diambil dari 14 orang yang menerima vaksin, tiga minggu setelah dosis pertama dan sesaat sebelum mendapatkan vaksin kedua. Sampel tambahan diambil pada minggu ke 4, 5 dan 7. Selain itu, sepuluh peserta memberikan sampel 15 minggu setelah mereka pertama kali memulai dosis vaksin. Tak satu pun dari mereka yang memberikan sampel germinal pernah terinfeksi Covid-19.

Para peneliti menemukan, setelah tiga minggu, pusat germinal, yang terletak di ketiak, terbentuk di semua 14 peserta dan  pada akhir masa penelitian, delapan dari 10 peserta yang diuji masih memiliki "pusat germinal yang terdeteksi mengandung sel B yang menargetkan virus," menurut laporan WUSM.

Bahkan 15 minggu setelah suntikan vaksin pertama diberikan, pusat germinal masih memproduksi sel kekebalan.

“Ini adalah bukti dari respon imun yang sangat kuat,” kata salah satu penulis senior Rachel Presti.

“Sistem kekebalan Anda menggunakan pusat germinal untuk menyempurnakan antibodi sehingga mereka dapat mengikat dengan baik dan bertahan selama mungkin. Antibodi dalam darah adalah hasil akhir dari proses tersebut, tetapi pusat germinal adalah tempat terjadinya.”

Penelitian ini memeriksa sampel darah dari 41 orang yang menerima vaksin Pfizer.

Tingkat antibodi terlihat meningkat perlahan setelah dosis pertama pada mereka yang belum pernah terpapar virus sebelumnya, tetapi meningkat jauh lebih cepat pada mereka yang telah terinfeksi Covid-19.

Ellebedy mengatakan kepada The New York Times, suntikan booster vaksin untuk mereka yang belum pernah terinfeksi mungkin akan menghasilkan efek yang sama.

“Jika Anda memberi mereka kesempatan lagi untuk terlibat, mereka akan memiliki respons masif,” jelasnya, merujuk pada sel-sel yang menargetkan virus. [pan]

Baca juga:
Suasana Australia Sepi Saat Lockdown
Vaksin Covid-19 Sputnik V Buatan Rusia Diklaim 90 Persen Efektif Lawan Varian Delta
Palang Merah Internasional: Situasi Covid-19 di Indonesia Sudah di Ujung Tanduk
Phuket Bersiap Sambut Turis Asing yang Sudah Divaksin Covid-19
Kim Jong-un Pecat Pejabat Korut karena Gagal Tangani Pandemi Covid-19
Update Informasi Varian Baru Covid-19 dari WHO

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini