Penelitian: Jumlah Kematian karena Covid di India 10 Kali Lipat dari Angka Resmi

Rabu, 21 Juli 2021 15:09 Reporter : Hari Ariyanti
Penelitian: Jumlah Kematian karena Covid di India 10 Kali Lipat dari Angka Resmi Infeksi jamur hitam di India. ©REUTERS/Amit Dave

Merdeka.com - Angka kematian di India selama pandemi Covid-19 bisa 10 kali lipat dari jumlah resmi, kemungkinan menjadikannya tragedi kemanusiaan terburuk di India modern, menurut penelitian paling komprehensif tentang kerusakan akibat virus corona di negara Asia Selatan tersebut.

Sebagian besar ahli percaya angka kematian yang tercatat resmi sebanyak 414.000 adalah jumlah yang sangat kecil, tetapi pemerintah menyebut kekhawatiran itu berlebihan dan menyesatkan.

Laporan yang dirilis pada Selasa memperkirakan angka kematian karena Covid-19 antara 3 juta sampai 4,7 juta antara Januari 2020 dan Juni 2021.

Diterbitkan oleh Arvind Subramanian, mantan kepala penasihat ekonomi pemerintah India dan dua peneliti lain di Pusat Pengembangan Global dan Universitas Harvard, laporan itu mengatakan angka yang akurat mungkin "terbukti sulit dipahami" tetapi jumlah korban tewas yang sebenarnya kemungkinan lebih besar dari hitungan resmi.
Laporan itu mengatakan penghitungan itu bisa saja tidak mencatat kematian yang terjadi di rumah sakit yang kewalahan atau saat perawatan kesehatan tertunda atau terganggu, terutama selama gelombang kedua pandemi yang menghancurkan awal tahun ini.

“Kematian yang sebenarnya mungkin beberapa juta bukan ratusan ribu, sehingga ini bisa dibilang sebagai tragedi kemanusiaan terburuk di India sejak Partisi dan kemerdekaan,” jelas laporan itu, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (21/7).

Partisi atau pemisahan anak benua India yang diperintah Inggris menjadi India dan Pakistan yang merdeka pada tahun 1947 menyebabkan terbunuhnya 1 juta orang ketika massa Hindu, Sikh, dan Muslim saling bantai.

Laporan korban Covid-19 menggunakan tiga metode perhitungan: data dari sistem pencatatan sipil yang mencatat kelahiran dan kematian di tujuh negara bagian, tes darah yang menunjukkan prevalensi virus di India bersama dengan tingkat kematian global Covid-19 dan survei ekonomi hampir 900.000 orang dilakukan tiga kali setahun.

Peneliti mengingatkan setiap metode memiliki kelemahan, seperti survei ekonomi yang menghilangkan penyebab kematian.

Sebaliknya, para peneliti melihat kematian dari semua penyebab dan membandingkan data itu dengan kematian di tahun-tahun sebelumnya – sebuah metode yang secara luas dianggap sebagai metrik yang akurat.

Para peneliti juga memperingatkan prevalensi virus dan kematian Covid-19 di tujuh negara bagian yang mereka pelajari mungkin tidak berlaku di seluruh India, karena virus tersebut dapat menyebar lebih banyak di negara bagian perkotaan versus pedesaan dan karena kualitas layanan kesehatan sangat bervariasi di seluruh India.

Laporan itu juga memperkirakan hampir 2 juta orang India meninggal selama lonjakan pertama infeksi tahun lalu.

Selama beberapa bulan terakhir, beberapa negara bagian India mencatat lebih banyak total kematian karena Covid-19 setelah menemukan ribuan kasus yang sebelumnya tidak dilaporkan, meningkatkan kekhawatiran lebih banyak kematian tidak tercatat secara resmi.

Beberapa jurnalis India juga telah menerbitkan angka yang lebih tinggi dari beberapa negara bagian menggunakan data pemerintah. Para ilmuwan mengatakan informasi baru ini membantu mereka lebih memahami bagaimana Covid-19 menyebar di India. [pan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini