Penangkapan Jurnalis Penulis Kasus Korupsi Mengguncang Rusia

Rabu, 12 Juni 2019 07:34 Reporter : Pandasurya Wijaya
Penangkapan Jurnalis Penulis Kasus Korupsi Mengguncang Rusia ivan golunov. ©AFP/Vasily Maximov

Merdeka.com - Jurnalis terkemuka Rusia, Ivan Golunov, Kamis 6 Juni lalu ditangkap polisi atas tuduhan akan menjual narkoba dalam jumlah banyak.

Portal berita independen Meduza mengutip pengacara Golunov mengatakan, pria 36 tahun itu kemudian dibebaskan dan statusnya menjadi tahanan rumah sejak Sabtu lalu.

Golunov dibebaskan dari tahanan setelah seorang dokter ambulans yang memeriksa kondisi jurnalis itu ketika ditahan polisi mengatakan, Golunov mengalami gegar otak, lebam, dan kemungkinan tulang rusuknya patah.

Kantor Kementerian Dalam Negeri di Moskow dalam pernyataannya menuturkan, polisi kemudian mengizinkan Golunov diperiksa dokter.

Alexander Myasnikov, kepala dokter di Rumah Sakit Klinik Kota mengatakan kepada kantor berita RIA-Novosti, dokter sudah memeriksa kondisi Golunov dan sudah melakukan CT scan serta mengambil sampel darah. Menurut dokter tidak ada alasan untuk merawat dia di rumah sakit.

Laman CNN melaporkan, Selasa (11/6), Komite Perlindungan Jurnalis (CJP) menyerukan Golunov dibebaskan dan digelar penyelidikan soal dugaan dia dipukuli selama ditahan.

"Pemerintah Rusia harus segera mencabut dakwaan terhadap Ivan Golunov, bebaskan dia, dan gelar penyelidikan atas perlakuan kasar kepada jurnalis itu dalam penahanan polisi," kata Gulnoza Said, koordinator program CJP untuk Eropa dan Asia Tengah.

Ivan Kolpakov, pemimpin redaksi Meduza, mengatakan kepada CPJ, tuduhan penjualan narkoba itu 'absurd' dan dia yakin dakwaan terhadap Golunov hanya rekayasa dan sebetulnya ini berkaitan dengan karya jurnalistiknya.

Dalam pernyataan yang dirilis Jumat lalu, Kolpakov dan CEO Meduza Galina Timchenko mengatakan Golunov dipukuli polisi selama penahanan. Menurut kantor berita TASS, juru bicara polisi menolak berkomentar.

©AFP

Kabar penangkapan dan penganiayaan Golunov memicu kemarahan warga Rusia dan banyak jurnalis menggelar demo dan menyebut dakwaan soal narkoba itu palsu.

Akhir pekan lalu sejumlah jurnalis Rusia berunjuk rasa baik beramai-ramai maupun sendirian. Mereka mengacungkan spanduk di depan kantor cabang Kementerian Dalam Negeri Rusia di Moskow.

Dua hari lalu tiga koran terkemuka Rusia tampilan di halaman depannya memuat gambar yang sama, yakni tulisan "Kami Adalah Ivan Golunov".

Kalimat itu mengingatkan orang kepada "Je suis Charlie", slogan yang menjadi viral ketika terjadi insiden penembakan massal di kantor tabloid Prancis, Charlie Hebdo pada 2015.

Sejumlah selebritas Rusia dan seniman juga mendukung Golunov. Mereka mengunggah video menyerukan pembebasan Golunov dan menyebut kasus ini adalah ujian bagi penegakan hukum.

"Pembebasan Golunov ini penting, tidak hanya bagi dirinya, keluarganya, rekan atau koleganya. Tapi juga penting untuk seluruh masyarakat dan kita semua. Karena jika orang berani terus dihukum dan orang jahat disanjung, tak seorang pun dari kita punya masa depan," kata rapper Miron Fedorov.

Golunov dikenal sebagai jurnalis yang kerap menulis kasus korupsi dan kriminal skala besar. Dia menyelidiki kasus bagaimana anggota keluarga wali kota Moskow membeli sembilan griya tawang mewah bernilai jutaan dolar hanya dalam satu hari. Dia juga menelusuri dugaan pejabat pembuat aturan komunikasi memakai kecerdasan buatan dan ratusan pegawainya menyensor internet warga Rusia. Golunov juga menyelidiki keterkaitan bisnis pemakaman dengan orang dalam pemerintahan dan para pelaku kriminal.

Kasus investigasi Golunov yang dipublikasi sebelum penangkapannya adalah soal para rentenir yang selama lima tahun menipu nasabah untuk menyita properti mereka dan menyebabkan 500 keluarga terusir dari rumah mereka.

©AP

Kepolisian Rusia kerap dikritik karena kasus korupsi dan para personel yang menangani kasus ini kian menambah kecurigaan perkara melibatkan Golunov ini hanya rekayasa.

Polisi awalnya mempublikasikan sejumlah foto dari apartemen Golunov yang memperlihatkan semacam laboratorium pembuatan narkoba tapi kemudian foto-foto itu diketahui bukan berasal dari apartemen Golunov.

Kremlin bahkan mengakui ada informasi yang bertentangan dalam kasus ini.

"Kami sudah mencermati informasi yang baru dipublikasikan dan memang ada sejumlah masalah yang harus diklarifikasi," kata Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov.

Jika dinyatakan bersalah Golunov bisa dipenjara maksimal 10 hingga 20 tahun. [pan]

Topik berita Terkait:
  1. Rusia
  2. Jakarta
  3. Ivan Golunov
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini