Pemimpin Tertinggi Taliban Pertama Kali Kunjungi Kabul untuk Kumpulkan Pemuka Agama

Sabtu, 2 Juli 2022 11:00 Reporter : Hari Ariyanti
Pemimpin Tertinggi Taliban Pertama Kali Kunjungi Kabul untuk Kumpulkan Pemuka Agama Pemimpin Taliban Mullah Haibatullah Akhundzada. ©REUTERS

Merdeka.com - Pemimpin tertinggi Taliban, Mullah Haibatullah Akhundzada berkunjung ke ibu kota Afghanistan, Kabul untuk pertama kalinya sejak kelompok tersebut mengambil alih kekuasaan. Menurut pejabat Taliban, pemimpin yang sangat tertutup itu berpidato di hadapan 3.000 pemuka agama membahas persatuan nasional.

Tidak ada jurnalis independen yang diizinkan menghadiri pertemuan itu, yang berlangsung dengan pengamanan ketat.
Rekaman suara pidato Akhundzada disiarkan. Namun tidak ada video maupun foto yang diterbitkan. Terdengar sorak sorai ketika kehadirannya diumumkan.

Dalam pidatonya, Mullah Akhundzada memuji perebutan kekuasaan oleh Taliban tahun lalu, menyebutnya sebagai "tidak hanya sumber kebanggaan orang Afghanistan tapi juga Muslim seluruh dunia".

Dia juga menyinggung kritik dunia internasional terkait perlakukan Taliban terhadap perempuan, salah satunya mewajibkan perempuan Afghanistan memakai cadar di tempat umum.

"Alhamdulillah, kami sekarang negara merdeka. (Orang asing) seharusnya tidak mengatur kita, ini adalah sistem kita dan kita punya keputusan sendiri," ujarnya, seperti dilaporkan Kantor Berita Bakhtar, dikutip dari BBC, Jumat (1/7).

"Kita punya hubungan ketaatan terhadap satu Tuhan, kita tidak bisa menerima perintah orang lain yang tidak disukai Tuhan."

Dalam pertemuan itu tidak dibahas soal pendidikan untuk anak perempuan. Saat ini sekolah dasar untuk perempuan masih ditutup di sebagian besar wilayah Afghanistan.

Perempuan disebut tidak diizinkan menghadiri pertemuan tersebut.

2 dari 2 halaman

Kritik masyarakat

Sejumlah pihak mengkritik pertemuan tersebut dan dinilai sebagai upaya Taliban untuk melegitimasi kekuasaan mereka.

"Mereka berkumpul hanya untuk membungkam mulut masyarakat," kata salah seorang pria dari Provinsi Helmand kepada BBC Afghanistan.

Tokoh feminis dan politikus Afghanistan, Munasa Mubarez mengatakan pertemuan itu tidak sah dan tidak ada yang menganggapnya penting.

"Tidak ada kaitan antara orang Afghanistan dan Taliban," ujarnya.

"Pernah mereka sekalipun menanyakan masyarakat mengapa mereka kelaparan atau menjual organ tubuh mereka atau anak mereka demi uang?"

"Kita, sebagai perempuan dan ibu, malu melahirkan anak laki-laki seperti Hanafi atau otoritas dan tentara Taliban lainnya. Mereka mengubah hidup kami menjadi neraka."

"Dan juga, mereka tidak mewakili perempuan. Perempuan tidak punya satu pun perwakilan dalam lingkaran Taliban. Dunia tahu ini mulai sekarang, dan saya harap dunia membantu kami (melawan mereka)," pungkasnya. [pan]

Baca juga:
Mereka Bermewah-mewah di Dubai Saat Rakyat Sebangsa Setanah Air Menderita
Taliban Minta Barat Cairkan Aset Beku Setelah Gempa Mematikan Guncang Afghanistan
Banyak Anak-Anak Diyakini Tewas Saat Gempa Mengguncang Afghanistan
Korban Tewas Gempa Bumi di Afghanistan Bertambah Jadi 1.000 Orang
Gempa Afghanistan, Korban Selamat Gali Reruntuhan dengan Tangan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini