Pemimpin militer Thailand akan terima dukungan kerajaan

Senin, 26 Mei 2014 11:52 Reporter : Vincent Asido Panggabean
Pemimpin militer Thailand akan terima dukungan kerajaan Kepala Angkatan Darat Thailand Jenderal Prayuth Chan-ocha. straitstimes.com

Merdeka.com - Pemimpin militer Thailand akan menerima dukungan kerajaan di sebuah upacara di Ibu Kota Bangkok pada hari ini, setelah merebut kekuasaan dalam sebuah kudeta pada pekan lalu.

Kepala Angkatan Darat Thailand Jenderal Prayuth Chan-ocha, yang kini memimpin junta dikenal sebagai Dewan Nasional untuk Ketentraman dan Ketertiban (NCPO), juga diharapkan dapat mengatasi masalah bangsa, seperti dilansir BBC, Senin (26/5).

Sebuah konstitusi sementara yang baru direncanakan juga akan diperkenalkan. Namun Raja Bhumibol Adulyadej, 86 tahun, tidak akan menghadiri upacara tersebut.

Monarki sangat dihormati dan dukungan kerajaan dipandang sebagai kunci untuk melegitimasi pengambilalihan kekuasaan.

Militer Thailand merebut kekuasaan di negara Asia Tenggara itu pada Kamis pekan lalu. Militer menyatakan pihaknya berencana untuk mengembalikan stabilitas ke Thailand.

Langkah ini diambil setelah enam bulan kebuntuan politik di saat demonstran mencoba untuk menggulingkan pemerintahan mantan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra. Setidaknya 28 orang tewas dan ratusan orang lainnya terluka selama protes.

Namun tindakan kudeta itu, yang telah melengserkan pemerintah terpilih, telah menarik kecaman internasional yang luas.

Protes kecil anti-kudeta juga berlangsung di Bangkok selama akhir pekan lalu, meskipun militer melarang adanya pertemuan lebih dari lima orang.

Para pengamat memperingatkan kudeta tidak mungkin bisa menyembuhkan perpecahan di negara di mana politik telah menjadi sangat terpecah itu.

Seorang juru bicara militer mengatakan upacara untuk menerima perintah kerajaan dengan menunjuk Jenderal Prayuth akan berlangsung pada Senin pagi di markas tentara. Prayuth kemudian akan menetapkan rencananya dalam pidato yang disiarkan televisi.

Junta kemudian diharapkan untuk mendirikan sebuah majelis legislatif nasional yang akan menyusun konstitusi sementara dengan perdana menteri baru.

Sejak mengambil alih kekuasaan, militer Thailand telah memanggil dan menahan puluhan tokoh politik penting, termasuk Yingluck. Wartawan dan akademisi juga di antara mereka yang telah dipanggil. Kontrol yang ketat juga telah ditempatkan pada media.

Namun, seorang sumber yang ditempatkan di junta mengatakan Yingluck Shinawatra tidak lagi dalam tahanan militer.

Sebuah sumber yang dekat dengan Yingluck juga menegaskan kepada CNN bahwa dia telah dibebaskan dari sebuah kamp militer, seperti dikutip CNN. [fas]

Topik berita Terkait:
  1. Thailand
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini