Pemilu India, Ketika Sapi Bisa Jadi Batu Sandungan Modi

Sabtu, 6 April 2019 07:37 Reporter : Pandasurya Wijaya
Pemilu India, Ketika Sapi Bisa Jadi Batu Sandungan Modi Ilustrasi sapi©2017 REUTERS/Caren Firouz

Merdeka.com - Perdana Menteri India Narendra Modi punya satu kebijakan yang terkenal yaitu perlindungan terhadap sapi, hewan yang dianggap suci bagi umat Hindu di India. Tapi bagi seorang Raghuvir Singh Meena--seorang petani Hindu di Distrik Pilani, Rajasthan--kebijakan itu terlalu berlebihan. Meena sering kerepotan menjaga lahan pertaniannya karena sapi kerap datang mengacak-acak ladang.

Banyak petani mendukung partai nasionalis pengusung Modi ketika dia akhirnya berkuasa pada 2014. Tapi kebijakan soal sapi menjadi masalah pelik bagi warga daerah terpencil.

"Kami sudah mencoba semuanya--orang-orangan sawah dan kawat duri--tapi hewan liar itu selalu bisa memakan tanaman kami," kata Meena kepada kantor berita AFP seraya menatap hamparan sawahnya yang subur, seperti dilansir laman the Straits Times, Jumat (5/4).

"Mereka (pemerintah) memainkan politik, mereka tidak peduli kepada petani miskin," kata dia jelang pemilihan umum Kamis nanti saat Modi akan maju untuk periode kedua.

Sebelum Modi berkuasa, penyembelihan sapi dan konsumsi daging sapi sudah dilarang di Rajashtan dan sejumlah negara bagian lain di India. Tapi hukum yang berlaku saat ini lebih ketat dan hukuman terhadap pelanggar makin banyak. Selain Hindu, warga India juga banyak menganut Islam dan Kristen.

Pada 2017, pemerintah mencoba menerapkan larangan perdagangan sapi untuk disembelih tapi upaya itu ditolak oleh Mahkamah Agung.

Narendra Modi Reuters

Sejumlah kalangan menyebut partai Janata Bhratiya (BJP) sedang menerapkan "Hindutva", hegemoni orang Hindu di tengah populasi India yang mencapai 1,2 miliar jiwa.

Para pengamat juga memperingatkan, BJP telah memicu kelompok garis keras Hindu untuk main hakim sendiri buat menyerang kelompok minoritas muslim dan kasta rendah Dalit.

Menurut kelompok pembela hak asasi, Human Right Watch (HRW), insiden main hakim sendiri kini meningkat. Sebanyak 44 orang, termasuk satu di Rajashan, tewas akibat serangan lantaran persoalan sapi pada Mei 2015.

BPJ mengatakan mereka menolak kekerasan tapi serangan massa seperti itu bisa mengganggu perdagangan sapi.

Kondisi ini membuat para peternak mengabaikan sapi-sapi mereka ketimbang menjualnya untuk disembelih. Akibatnya kecelakaan lalu lintas meningkat di daerah terpencil. Sekitar 70 persen rakyat India kini masih tinggal di pedalaman.

Hasil sensus pada 2012, ada sekitar 5,2 juta sapi liar di India. Sensus ini digelar saban 10 tahun sekali. Kini angka itu diyakini kian meningkat.

Sejak Modi berkuasa, sapi liar berkeliaran di jalanan kerap jadi pemandangan umum di India. Sapi-sapi itu suka makan sampah atau berjalan di dekat persimpangan jalan di desa atau kota.

Pada 2015 data pemerintah menyebut ada lebih dari 550 orang tewas akibat kecelakaan melibatkan sapi liar di jalanan.

"Lantaran ada kebijakan perlindungan bagi sapi, tak ada yang berani menyentuh sapi-sapi itu sekarang," kata Sumer Singh Punia, bekas peternak di sebuah desa di Distrik Churu.

Rakyat pemilih yang tidak senang dengan keadaan ini membuat BJP kalah dalam pilkada di pedalaman daerah Rajashtan dan Mdhya Pradesh Desember lalu. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini