Pelajaran dari Satu Juta Kematian karena Covid-19

Rabu, 30 September 2020 07:14 Reporter : Hari Ariyanti
Pelajaran dari Satu Juta Kematian karena Covid-19 TPU Pondok Rangon. ©2020 Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Satu juta nyawa sudah melayang. Jutaan kisah tragedi.

Sejak Desember 2019 ketika Covid-19 pertama muncul di Wuhan, China, lebih dari 32 juta orang di seluruh dunia kini sudah tertular dan penyakit ini masih terus menghantui merajelela ke seluruh pelosok bumi.

Dari data Universitas John Hopkins, pekan ini satu juta orang sudah meninggal. Angka sebenarnya masih lebih tinggi karena ada perbedaan antara jumlah kasus yang dilaporkan dan tes yang dilakukan.

Negara terparah yang terpapar Covid-19 adalah Amerika serikat, Brasil, India, dan Meksiko--mencakup separuh dari jumlah kematian karena Covid-19 di seluruh dunia, sekitar satu per lima kematian terjadi di AS. Penyakit mematikan ini sudah menyebar ke 190 negara dan wilayah.

India kini terus melaporkan angka tertinggi harian kasus poistif. Dengan 5,8 juta kasus, India menempati posisi kedua di bawah AS yang mencapai 7 juta kasus positif Covid-19.

Di negara-negara Asia Tenggara, Indonesia dan Filipina menjadi negara terparah dijangkiti Covid-19.

Mengingat 95 persen kematian ini terjadi lebih dari enam bulan, apakah jutaan angka kematian selanjutnya bisa terjadi lebih cepat? Atau akankah dunia akan menemukan solusi untuk mengatasi pandemi?

Tak ada yang memiliki jawabannya, tapi kematian 1 juta itu memiliki beberapa petunjuk bernilai yang bisa dijadikan pelajaran.

Lebih dari 200.000 kematian tercatat di Amerika Serikat, negara yang memiliki 4 persen populasi dunia ini mencatat 20 persen kematian Covid-19. Hanya empat negara - AS, Brasil, India, dan Meksiko - mencatat lebih dari setengah angka kematian Covid-19 secara global. Sementara 480.000 kematian menyebar di 190 negara dan wilayah lain.

Seperti dilansir The Straits Times, Selasa (29/9), faktor utama yang berkontribusi terhadap angka kematian Covid-19 di antaranya:

- Usia: Lansia yang terinfeksi virus corona berisiko lebih tinggi meninggal dunia. Sebuah perbandingan dilakukan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), menggunakan 18-29 tahun sebagai kelompok dasar menemukan anak 4 tahun dan di bawahmya sembilan kali kecil kemungkinan meninggal dunia, sementara orang berusia 85 tahun ke atas 630 kali lebih mungkin meninggal dunia.

- Penyakit bawaan: CDC mengatakan, terlepas dari usia, kondisi medis tertentu atau adanya penyakit bawaan juga membuat orang lebih berisiko meninggal. Penyakit dimaksud sepeti kanker, ginjal kronis, dan jantung. Penerima transplantasi juga lebih rentan karena mereka memiliki sistem kekebalan lemah.

- Sistem perawatan kesehatan tak memadai: Lebih banyak orang meninggal ketika sistem perawatan kesehatan melebihi kapasitas, karena beberapa pasien tak bisa mendapatkan perawatan yang dibutuhkan untuk sembuh dari Covid-19.

- Angka Infeksi: Ini mungkin jelas, tetapi perlu diulangi. Hanya mereka yang terinfeksi virus corona yang berisiko meninggal karenanya.

Bagaimana tindakan negara-negara dalam pertarungan mereka melawan virus sangat tergantung pada..

Baca Selanjutnya: bagaimana mereka menangani empat faktor...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini