PBB galak soal hukuman mati cuma ke negara mayoritas muslim

Senin, 16 Februari 2015 08:32 Reporter : Ardyan Mohamad
PBB galak soal hukuman mati cuma ke negara mayoritas muslim Sekjen PBB Ban Ki-moon. (c) inquisitr.com

Merdeka.com - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon pekan lalu menekan Indonesia agar menghapus hukuman mati. Notifikasi keberatan itu disampaikan kepada Menteri Luar Negeri Retno L.P Marsudi, Kamis (14/2), terkait rencana eksekusi dua warga negara Australia.

Dia mengingatkan Indonesia agar mempertimbangkan ulang keputusan menghukum mati warga asing, sekalipun mereka terlibat kasus kejahatan berat seperti narkoba.

"PBB menentang pelaksanaan hukuman mati dengan alasan apapun. Sekjen meminta Indonesia mempertimbangkan ulang vonis eksekusi terhadap pelaku kejahatan narkoba," kata Juru Bicara PBB Stephane Dujarric.

Ki-moon merupakan sekjen yang sikapnya berubah-ubah terkait hukuman mati. Tak lama usai terpilih menjadi orang nomor satu di PBB pada Januari 2007, diplomat karir asal Korea Selatan itu dikritik atas eksekusi Sadam Hussein oleh otoritas baru Irak.

"Hukuman mati adalah urusan dalam negeri negara anggota PBB," ujarnya kala itu, yang kemudian memicu kecaman negara-negara Barat.

Adapun, dalam catatan IB Times Ki-moon akhirnya mengubah sikap lembeknya setelah kritikan bertubi-tubi seusai Saddam Hussein digantung. Tapi sasaran tekanan PBB selalu negara mayoritas muslim.

Pada Maret 2014, misalnya, Ki-moon mengirimkan surat ke pemerintah Iran supaya menghentikan praktik hukuman mati. Negeri Para Mullah itu mengeksekusi 625 tahanan sepanjang 2013. Mayoritas karena terlibat peredaran narkoba.

"Iran gagal meningkatkan kualitas perlindungan terhadap hak asasi manusia, karena masih menerapkan hukuman mati," ujarnya.

Kepala Pengadilan Iran Ayatullah Sadiq Larijani balas mengkritik Ki-moon yang dinilai sibuk mengurusi negaranya, sementara diam saja melihat pelanggaran HAM oleh Amerika Serikat. Termasuk penahanan sepihak terduga teroris muslim di penjara Guantanamo.

"Kami tidak pernah mengeksekusi seseorang karena agamanya. Kami menerapkan hukuman mati terutama untuk kejahatan narkoba," kata Larijani.

Pakistan juga pernah dikontak sekjen PBB agar tak kembali menjalankan hukuman mati. Perdana Menteri Nawaz Sharif langsung ditelepon oleh Ki-moon setelah muncul rencana menghapus moratorium hukuman mati pada Desember 2014.

Dari penelusuran Press TV, tak pernah sekalipun PBB menghubungi pemerintah China, Amerika Serikat, atau Jepang atas isu yang sama. Ketiganya adalah negara maju tapi masih menjalankan hukuman mati. Untuk diketahui, AS dan China adalah negara yang memiliki hak veto di organisasi lintas pemerintah terbesar sedunia ini.

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, merasakan tendensi serupa. Dia menilai [ard] SELANJUTNYA

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini