PBB: 350.000 Anak-Anak Terancam Mati karena Kekeringan di Somalia

Selasa, 12 April 2022 12:33 Reporter : Hari Ariyanti
PBB: 350.000 Anak-Anak Terancam Mati karena Kekeringan di Somalia Warga Somalia dan putrinya yang mengalami gizi buruk. ©BBC

Merdeka.com - Somalia menghadapi kekeringan terburuk dalam satu dasawarsa, menurut para ahli. Anak-anak menanggung dampak bencana ini. Para orang tua berjuang keras memberi makan anak-anak mereka, di mana hampir setengah populasi balita Somalia terancam mengalami gizi buruk akut pada Juni.

Nimco Abdi dengan hati-hati menimbang meletakkan bayinya di atas timbangan. Di sana terbaca berat putri kecilnya yang berusia enam bulan itu hanya 4 kilogram. Ini hampir kurang dari setengah berat ideal bayi seumurannya.

Dia sangat kurus untuk usianya. Matanya cekung, tulangnya menonjol, kulitnya keriput dan pucat.

"Saya biasanya menyusuinya. Tapi saya sakit karena kekurangan makanan. Dan dia menjadi begitu kurus. Saya memutuskan membawanya ke sini. Setidaknya dia bisa mendapat susu dan obat-obatan," kata Nimco, dikutip dari BBC, Selasa (12/4).

Nimco baru saja tiba di pusat stabilisasi gixi buruk di Luuq, 500 kilometer dari Mogadishu. Dia mendapat tempat tidur di dalam fasilitas tersebut, yang harus dia bagi dengan ibu lainnya.

Kisah Nimco hanya salah satu dari banyaknya ibu-ibu yang menghadapi ancaman kematian anak-anak mereka karena gizi buruk.

"Jika tidak dilakukan sesuatu, diproyeksikan pada musim panas tahun ini, 350.000 dari 1,4 juta anak-anak gizi buruk parah di negara ini akan mati," kata Adam Abdelmoula dari Kantor PBB bidang Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).

"Telah terjadi di negara ini, 70 persen anak-anak usia sekolah tidak sekolah. Di satu negara bagian saja di Juba, kekeringan menyebabkan penutupan 40 sekolah dan ini akan menjadi tren di banyak wilayah terdampak kekeringan," lanjutnya, menambahkan beberapa anak perempuan nikah dini karena keluarga mereka tidak bisa menghidupi mereka.

Fatuma Mohamed, seorang perawat di pusat gizi buruk Luuq, mengatakan kapasitas tempat tidur di fasilitas itu hanya 18, tapi lebih dari 50 anak dan ibu mereka ada di tempat itu saat ini.

Dia khawatir semakin banyak orang yang akan datang, apalagi saat ini kapasitas sudah penuh.

"Kami mengalami kelangkaan pasokan obat-obatan," ujarnya.

Beberapa anak sangat lemah, ada juga yang meninggal di jalan.

Sebanyak 4,5 juta orang di Somalia terdampak kekerangan. Sungai Juba, sungai terbesar di negara itu, jarang menyisakan air.

Menurut PBB, hampir 700.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mencari air dan makanan untuk mereka dan juga untuk ternak mereka, dan jumlahnya terus bertambah.

Di sepanjang jalan di wilayah pedesaan, bangkai hewan tergeletak seperti kambing, keledai, dan unta. Ini adalah malapetaka bagi banyak warga Somalia karena mata pencaharian mereka adalah beternak dan menjual hewan ternak.

Harga makanan dan air melonjak. Desa-desa ditinggalkan karena warganya pindah ke dekat pusat kota untuk mencari bantuan. Mereka yang tetap tinggal di desa kebanyakan lansia, yang menunggu hujan turun atau menunggu anak-anak mereka pulang membawa air.

Kekeringan juga memisahkan banyak keluarga. Para pria pergi ke kota untuk bekerja, sementara perempuan dan anak-anak pindah ke tempat di mana mereka bisa mendapat bantuan.

Badan-badan kemanusiaan mengatakan ada krisis keuangan besar. Mereka hanya memiliki 3 persen dana dari jumlah yang diperlukan untuk mengatasi kekeringan di negara tersebut. Mereka juga berusaha mengirim tangki air, pasokan makanan, dan bantuan medis. Tapi bantuan ini tidak bisa menjangkau semua orang. [pan]

Baca juga:
Serangan Bom Mobil di Somalia Tewaskan 8 Orang
Delapan Orang Tewas Dalam Bom mobil di Somalia
Serangan Bom Mobil Guncang Ibu Kota Somalia, 8 Tewas
Dua Orang Tewas Akibat Serangan Bom Bunuh Diri di Somalia
Uniknya Kreasi dari Tulang Unta
Serangan Bom Mobil Meledak di Dekat Istana Presiden Somalia, 8 Tewas

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini