Pasien Sekarat di Inggris Sembuh Dari Covid-19 Setelah Koma 48 Hari

Rabu, 1 Juli 2020 10:32 Reporter : Hari Ariyanti
Pasien Sekarat di Inggris Sembuh Dari Covid-19 Setelah Koma 48 Hari Pasien Corona. ©2020 Photo

Merdeka.com - Ketika Mohammed Azeem sampai di Rumah Sakit Kerajaan Bradford (Bradford Royal Infirmary), dia dalam kondisi kritis, dengan rendahnya oksigen dalam darah - pada satu titik level oksigennya dinilai tak akan bisa menyelamatkan nyawanya, menurut dokter spesialis di ICU yang merawatnya. Tapi luar biasa, dia selamat. Demikian ditulis Dr John Wright.

Kisah Mohammed ini salah satu kisah ajaib. Sopir taksi 35 tahun ini suka berolahraga dan angkat beban dan tak pernah terpikir akan terkena risiko beratnya efek Covid-19.

Saat mulai mengalami sesak napas, dia enggan menghubungi NHS (rumah sakit umum di Inggris) untuk meminta pertolongan, karena mitos yang beredar sebagian warga Asia yang dibawa ke rumah sakit tak pernah kembali dalam keadaan bernyawa.

Temannya, Haleem, bersikeras menelpon ambulans dan membantunya naik ke mobil tersebut karena dia tak bisa berjalan.

Saat Mohammed tiba di rumah sakit, nyawanya dalam bahaya.

"Anak muda ini yang sekarat di depan kami dan dia segera dibawa ke ICU," tulis John Wright, dilansir dari BBC, Rabu (1/7).

Profesor John Wright adalah seorang dokter dan epidemiologis yang bertugas sebagai Kepala Bradford Institute bidang Penelitian Kesehatan. Dia juga pernah menangani epidemi kolera, HIV, dan Ebola di wilayah Afrika. Dia menulis kisahnya sebagai garda terdepan penanganan Covid-19 untuk BBC.

Mohammed mengalami koma di ICU selama 48 hari, dan berada di rumah sakit selama 68 hari.

Salah satu dokter yang merawatnya adalah konsultan ICU, Dr Michael McCooe. McCooe menyebut Mohammed sebagai pemuda paling sakit parah yang pernah dilihatnya.

1 dari 2 halaman

Orang sehat memiliki tingkat saturasi oksigen darah 95 persen atau lebih tinggi - dengan kata lain sel darah merah mereka membawa oksigen sebanyak mungkin (100 persen). Tingkat saturasi Mohammed adalah 60 persen sampai 70 persen, dan itu setelah dibantu ventilasi dengan oksigen murni. Bahkan ketika dia diintubasi di ICU, upaya untuk menjaga kadar oksigennya di atas 80 persen, titik di bawah ini ada risiko kerusakan organ seperti jantung dan otak.

Bahkan, selama beberapa pekan setelahnya, Mohammed makin kritis. Beberapa kali saturasi oksigennya turun ke tingkat yang bisa menghilangkan nyawanya. Tim ICU meminta keluarganya mempersiapkan diri untuk hal terburuk.

"Kami beberapa kali berbicara dengan keluarganya, hampir setiap hari, di mana kami membahas kegagalan kami atas apa yang kami lakukan," kata Michael McCooe.

"Kami tidak mengatakan kami menyerah menanganinya, tapi kami hanya ingin mereka tahu kami tidak memberi harapan apapun dia bisa selamat. Dan kemudian kami sangat terkejut dan takjub - dan itu adalah momen harapan nyata bagi banyak orang yang merawatnya, dan bagi orang-orang yang merawat pasien Covid secara umum," jelasnya.

2 dari 2 halaman

"Gas darahnya menjadi lebih baik, kebutuhan oksigennya berkurang dan kami dapat mempertahankannya secara permanen."

"Kami kemudian memiliki kekhawatiran tentang seperti apa dia ketika kami membangunkannya karena dia memiliki kadar oksigen yang sangat rendah dan otak rentan terhadap hal itu. Tetapi ketika kami membangunkannya dia baik-baik saja secara neurologis. Dia baik-baik saja - kekuatannya secara mengejutkan bagus untuk apa yang telah dia lalui. Hebatnya, dia mampu berhubungan dengan fisio dengan cukup cepat dan sejak saat itu dia tinggal menuju upaya pemulihan. "

"Jadi ketika kami menyemangati dia dari bangsal setelah 10 pekan yang melelahkan, ada perayaan dan sukacita yang besar. Sebagai dokter kita peduli tetapi ilmuwan rasional, jadi ketika mukjizat kecil terjadi sulit untuk tidak kagum. Covid-19 telah menunjukkan kepada kita masing-masing rasa sakit dan penderitaan yang hebat, tetapi juga contoh-contoh ketahanan yang luar biasa," tambahnya. [pan]

Baca juga:
WHO Peringatkan Pandemi Covid-19 Masih Jauh Dari Usai
Setelah Diuji, Obat HIV Ternyata Tak Berkhasiat untuk Pasien Covid-19
Bakal Izinkan Umrah Terbatas, Arab Saudi Siapkan Aturan Keramaian
Makam Baru Korban Covid-19 Bermunculan di Meksiko
Perusahaan Saudi Gandeng Ilmuwan AS Kembangkan Obat Covid-19, Tahun Depan Tersedia
China Isolasi 400.000 Warga Setelah Kasus Baru Covid-19 Melonjak di Dekat Beijing

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini