Pangeran MBS Diduga Bentuk Tim Khusus untuk Bungkam Pengkritik Kerajaan

Rabu, 20 Maret 2019 06:47 Reporter : Hari Ariyanti
Pangeran MBS Diduga Bentuk Tim Khusus untuk Bungkam Pengkritik Kerajaan khasoggi dan pangeran Muhammad bin Salman. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Putera mahkota Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman memerintahkan operasi rahasia untuk membungkam para pembangkang atau para pengkritiknya- yang meliputi pengawasan, penculikan, penahanan dan penyiksaan- lebih dari setahun sebelum pembunuhan Jamal Khashoggi. Hal ini diungkapkan pejabat Amerika Serikat yang telah membaca laporan intelijen rahasia terkait operasi tersebut.

Setidaknya beberapa misi rahasia dilaksanakan anggota tim yang sama yang juga membunuh dan memutilasi jasad Khashoggi di Istanbul pada Oktober 2018. Pembunuhan Khashoggi dinilai bukti yang sangat mengerikan dari operasi yang lebih luas untuk membungkam pembangkang Saudi, menurut para pejabat dan rekanan dari beberapa korban warga Arab Saudi.

Anggota tim yang membunuh Khashoggi, yang oleh pejabat Amerika disebut Kelompok Intervensi Cepat Saudi, terlibat dalam setidaknya puluhan operasi mulai tahun 2017. Demikian diungkapkan para pejabat tersebut sebagaimana dilansir dari The New York Times, Selasa (19/3).

Para pejabat juga mengungkapkan, beberapa operasi melibatkan pemulangan paksa warga Saudi dari negara-negara Arab lainnya dan menahan serta menyalahgunakan tahanan di istana milik putra mahkota dan ayahnya, Raja Salman.

15 warga saudi diduga terlibat hilangnya jurnalis khashoggi ©The Independent

Salah satu warga Saudi yang ditangkap ialah seorang dosen bidang linguistik yang menulis di blog tentang perempuan di Arab Saudi. Dosen ini berusaha bunuh diri tahun lalu setelah mengalami penyiksaan psikologis, menurut laporan intelijen Amerika.

Rincian tentang operasi datang dari pejabat Amerika yang telah membaca laporan intelijen rahasia tentang operasi Saudi, serta dari (pejabat) Saudi yang berkaitan langsung dengan beberapa operasi. Mereka berbicara dengan syarat anonim karena takut akan menanggung akibat karena pengungkapan informasi rahasia atau membuat marah pemerintah Saudi.

Seorang juru bicara Kedutaan Besar Saudi di Washington mengatakan kerajaan menanggapi dengan serius setiap tuduhan perlakuan buruk terhadap para terdakwa yang menunggu persidangan atau terhadap para tahanan yang tengah menjalani hukuman.

Hukum Saudi melarang penyiksaan dan meminta pertanggungjawaban mereka yang terlibat dalam penyalahgunaan kekuasaan, kata juru bicara itu, dan hakim tidak dapat menerima pengakuan yang diperoleh di bawah tekanan. Penuntut umum kerajaan dan Komisi Hak Asasi Manusia Saudi sedang menyelidiki tuduhan yang muncul baru-baru ini.

Pemerintah Saudi menegaskan pembunuhan Khashoggi - seorang jurnalis yang tinggal di Amerika Serikat yang menulis untuk The Washington Post - bukanlah pembunuhan yang diperintahkan dari Riyadh.

Pembunuhan Khashoggi diputuskan tim di TKP, dan mereka yang bertanggung jawab sedang dituntut. Badan intelijen Turki dan Amerika mengatakan pembunuhan itu telah direncanakan.

Kerajaan mengatakan 11 orang menghadapi dakwaan pidana atas pembunuhan tersebut dan jaksa menuntut hukuman mati untuk lima terdakwa. Namun demikian pejabat belum secara terbuka mengidentifikasi para tertuduh ini.

Setelah pembunuhan Khashoggi, para pejabat Saudi mengakui dinas intelijen Saudi memiliki perintah tetap untuk membawa pulang para pembangkang. Namun mereka membantah ada tim khusus yang dibentuk untuk operasi tersebut. Pejabat Saudi menolak mengkonfirmasi atau menyangkal bahwa ada tim semacam itu atau menjawab pertanyaan tentang operasi ini.

Arab Saudi memiliki sejarah memburu para pengkritik dan warga Saudi lainnya di luar negeri, tetapi tindakan keras meningkat tajam setelah Pangeran MBS diangkat menjadi putra mahkota pada 2017, periode ketika ia bergerak cepat untuk mengkonsolidasikan kekuasaan. Dia menyingkirkan Pangeran Mohammed bin Nayef, yang merupakan pengawas di dinas keamanan. Hal itu memberi sang pangeran muda kekuasaan atas badan-badan intelijen.

Sejak saat itu, pasukan keamanan Saudi telah menahan puluhan ulama, intelektual dan aktivis yang dianggap menimbulkan ancaman, serta orang-orang yang mengirim komentar kritis atau sarkastik tentang pemerintah di Twitter.

"Kami belum pernah melihatnya dalam skala seperti ini," kata Bruce Riedel, mantan anggota CIA dan sekarang pengamat di Brookings Institution.

Khashoggi terbunuh di dalam Konsulat Saudi di Istanbul dan tubuhnya dimutilasi dengan gergaji. Turki menggunakan rekaman video dan audio pengintai untuk mengungkap kejahatan tersebut, mengidentifikasi tim yang melakukannya dan membocorkan nama dan foto mereka ke media.

Riedel mengatakan kecerobohan tim menunjukkan mereka ditugaskan beroperasi secara bebas di dalam kerajaan dan tanpa pengawasan ketat dari badan intelijen lawan.

Kelompok Intervensi Cepat dibentuk atas persetujuan MBS dan diawasi Saud al-Qahtani, seorang pembantu utama yang pekerjaan resminya adalah kepala media di pengadilan kerajaan, kata para pejabat Amerika. Wakilnya, Maher Abdulaziz Mutreb, seorang perwira intelijen yang telah melakukan perjalanan ke luar negeri bersama putra mahkota, memimpin tim di lapangan. Anggota tim operasi lainnya ialah Thaar Ghaleb al-Harbi, seorang anggota pengawal kerajaan yang dipromosikan pada 2017 karena keberaniannya menghadapi serangan di istana MBS.

saud al qahtani ©Aljazeera

Mutreb dan Al Harbi diadili di Riyadh atas tuduhan keterlibatan dalam pembunuhan Khashoggi. Sedangkan Qahtani menjalani tahanan rumah, dilarang bepergian dan sedang diselidiki. Hal ini memunculkan ketidakjelasan apakah tim ini masih beroperasi atau tidak.

Laporan intelijen Amerika tidak menyebutkan secara pasti seberapa jauh keterlibatan MBS dalam operasi tim itu, tetapi menyebut operasi penyelidikan Al Qahtani merupakan kanal bagi MBS.

Ketika MBS menahan ratusan pangeran, pengusaha dan mantan pejabat di Hotel Ritz-Carlton pada 2017 atas tuduhan korupsi, Al Qahtani dan Mutreb bertugas hotel, membantu mendesak para tahanan untuk menandatangani aset.

Menurut saksi mata, sejumlah tahanan di hotel itu mengalami kekerasan fisik dan salah seorang meninggal dunia. Belum diketahui apakah tim intervensi cepat juga terlibat dalam kekerasan itu. Pemerintah Saudi menyangkal adanya kekerasan tersebut.

Pejabat Turki mengatakan, Al Harbi dan Mutreb berada di Konsulat Saudi di Istanbul saat pembunuhan Khashoggi terjadi. Sementara Intelejen Amerika menyebut MBS memerintahkan pembunuhan Khashoggi. Namun CIA menolak berkomentar.

Badan-badan intelijen Amerika Serikat tampaknya tidak memiliki bukti konklusif MBS memerintahkan pembunuhan, tetapi mereka telah menyatukan pola operasi serupa yang dilakukan oleh operasi Saudi di bawah otoritas pangeran.

Intelijen terus mengumpulkan bukti keterlibatan MBS dan pada Desember lalu, Badan Keamanan Nasional merilis laporan yang mengungkapkan tahun 2017, MBS mengatakan kepada seorang ajudannya bahwa dia akan memakai peluru untuk mengancam Khashoggi jika tidak kembali ke Arab Saudi dan menghentikan kritiknya terhadap pemerintah.

Pengamat intelijen menyimpulkan MBS mungkin belum berbicara secara harfiah - bahwa ia tidak memerintahkan Khashoggi untuk ditembak - tetapi ia bermaksud membungkam wartawan dengan membunuhnya jika keadaan mengharuskan

Penilaian CIA telah menciptakan ketegangan antara agen mata-mata Amerika dan Presiden Trump, yang menjalin hubungan hangat dengan Saudi sebagai landasan kebijakan luar negerinya. MBS telah menjadi sekutu terdekat Gedung Putih, terutama Jared Kushner, menantu Trump sekaligus penasihat seniornya. Terlepas dari penilaian CIA bahwa MBS memerintahkan operasi, Trump telah berulang kali mengatakan bahwa bukti tidak konklusif.

Para pejabat intelijen Amerika mengatakan beberapa dari mereka yang ditangkap dalam operasi ini ditahan di lokasi rahasia, termasuk istana-istana mewah yang digunakan oleh Raja Salman dan putranya, hingga November 2017, ketika banyak orang dipindahkan ke kompleks sekitar Riyadh Ritz-Carlton. Pada saat itu, hotel tersebut digunakan sebagai penjara bintang lima dalam kampanye anti-korupsi kerajaan. Menurut pejabat AS, tindakan keras itu menjadi penutup operasi klandestin terhadap pembangkang Saudi, yang dipindahkan ke tahanan di Ritz pada waktu itu.

Tim intervensi cepat ini juga disebut terlibat dalam penangkapan dan aksi kekerasan terhadap aktivis perempuan Saudi, yang ditangkap musim semi dan panas tahun lalu. Para aktivis, yang mengkampanyekan pencabutan larangan mengemudi termasuk beberapa tokoh terkenal: Loujain al-Hathloul, yang telah dipenjara karena mencoba mengemudikan mobilnya ke kerajaan dari Uni Emirat Arab; Aziza al-Yousef, seorang pensiunan profesor ilmu komputer; dan Eman al-Nafjan, dosen linguistik.

pasangan aktivis saudi loujain al hathloul dan fahad al butairi ©Instagram

Pada awalnya, para perempuan ini tidak ditahan di penjara, tetapi ditahan secara tidak resmi di sebuah istana yang tampaknya tidak digunakan di kota pelabuhan Laut Merah Jidda, menurut saudara perempuan Al-Hathloul, Alia. Setiap perempuan dikunci di sebuah ruangan kecil, dan jendelanya tertutup. Beberapa perempuan sering dibawa ke ruang bawah tanah untuk diinterogasi, termasuk dipukul, disetrum listrik, ancaman pemerkosaan dan pembunuhan.

Dalam sebuah artikel untuk The New York Times, Alia al-Hathloul menulis Al Qahtani hadir beberapa kali ketika saudara perempuannya disiksa dan mengancam akan membunuhnya dan melemparkan tubuhnya ke dalam selokan. Perlakuan kasar itu membuat Al Nafjan mencoba bunuh diri.

Para perempuan itu kemudian dipindahkan ke Penjara Dhahban di Jidda, tak ada lagi kekerasan fisik dan kerabat mereka diizinkan berkunjung. Persidangan mereka dimulai pada Rabu namun wartawan dan diplomat tidak diizinkan hadir dan pemerintah tidak mengumumkan dakwaan terhadap mereka.

Pejabat Saudi mengatakan Al-Hathloul, Al-Yousef dan Al-Nafjan sedang diadili berkaitan dengan kegiatan yang mengancam keamanan nasional kerajaan. Dalam upaya paksa kerajaan memulangkan warga Saudi yang tinggal di luar negeri, tidak selalu jelas operasi mana yang dilakukan oleh tim intervensi cepat dan bagian operasi lain oleh dinas keamanan.

Setidaknya satu warga Arab Saudi yang ditahan di Ritz Carlton dengan tuduhan korupsi, Rami Al Naimi, putra mantan Menteri Minyak Arab Saudi, secara paksa dipulangkan dari Uni Emirat Arab pada November 2017. Seorang rekan anggota senior kerajaan keluarga, Faisal Al Jarba, diculik dalam serangan tengah malam di sebuah apartemen di Yordania Juni lalu dan kembali ke Arab Saudi. Keluarganya telah berupaya mendapatkan informasi terkait keberadaannya dan kenapa dia ditahan.

Pada Agustus 2017, seorang pangeran, Saud bin al-Muntasir bin Saud, dikirim kembali ke kerajaan dari Maroko. Mei lalu, seorang mahasiswa yang memiliki dua kewarganegaraan Saudi-Qatar ditangkap selama kunjungan ke Kuwait dan dikirim pulang. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini