Orang-Orang Uighur yang Dideportasi dan Menghilang dari Negara Muslim

Jumat, 11 Juni 2021 07:00 Reporter : Hari Ariyanti
Orang-Orang Uighur yang Dideportasi dan Menghilang dari Negara Muslim Amannisa Abdullah bersama putrinya, Amina (3) dan putra pertamanya, Musa (8).. ©Courtesy Amannisa Abdullah

Merdeka.com - Amannisa Abdullah dan suaminya, Ahmad Talip, sedang di jalan untuk berbelanja pakaian bayi di Dubai, ketika pesan yang mengubah hidup keduanya datang. Ahmad membacanya dan segera mengubah rencana: Dia harus melapor ke kantor polisi segera.

Ahmad mengantar istrinya ke rumah seorang kawan hari itu pada Februari 2018, berjanji untuk menjemputnya nanti. Dia tak pernah kembali.

Di apartemennya di Dubai, Ammanisa yang tidak bisa tidur berdoa dan menangis sepanjang malam, melihat jam demi jam berganti saat dia terus berulang kali menghubungi Ahmad namun tidak pernah dijawab.

Pada pagi harinya, perempuan 29 tahun yang sedang hamil tua itu terhuyung-huyung keluar pintu, memeluk putranya yang berusia lima tahun. Mereka naik taksi ke kantor polisi di mana dia berusaha menjelaskan kesulitannya kepada seorang petugas polisi.

Saat dia berbicara, anaknya menyeret tangannya. Diam-diam, putranya menunjuk ke dalam sel di mana Ahmad sedang duduk.

Selama 13 hari, Amannisa bolak balik antara rumah dan penjara, memohon pada penegak hukum agar membebaskan Ahmad.

Dalam setiap kunjungannya, suaminya terlihat semakin murung. Dia mengungkapkan keyakinannya kepada istrinya bahwa China telah memburu keluarga Uyghur di Uni Emirat Arab.

“Tidak aman di sini. Kamu harus bawa anak kita dan (pergi) ke Turki,” ujarnya kepada Amannisa dalam percakapan terakhirnya.

“Jika anak bayi kita perempuan, tolong namankan dia Amina. Jika laki-laki, namakan dia Abdullah.”

Sepekan kemudian, Ahmad dikirim ke ibu kota Uni Emirat Arab, Abu Dhabi. Lima hari kemudian, pihak berwenang Abu Dhabi mengatakan kepada Amannisa suaminya telah diekstradisi ke China.

Putri mereka, Amina, lahir sebulan kemudian di Turki. Dia tidak pernah bertemu ayahnya.

Pengakuan Amannisa adalah salah satu dari belasan kesaksian yang dikumpulkan CNN, merinci dugaan penangkapan dan deportasi warga Uighur atas permintaan China di tiga negara Arab: Mesir, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.

CNN telah berulang kali meminta konfirmasi dari pemerintah Mesir, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi terkait ekstradisi ini namun tidak ada tanggapan. Pemerintah juga tidak menanggapi permintaan komentar dari CNN.

Di Mesir, kelompok HAM telah mendokumentasikan ratusan penangkapan dan sedikitnya 20 deportasi warga Uighur pada 2017, mayoritas merupakan mahasiswa Universitas Al-Azhar. Di Arab Saudi antara 2018 dan 2020, sedikitnya satu orang Muslim Uighur diduga ditangkap dan dideportasi setelah melakukan ibadah umrah di Makkah.

Laporan Human Rights Watch yang dirilis pada April mengungkapkan China melacak ratusan warga Uighur di seluruh dunia, memaksa mereka untuk kembali ke China dan menghadapi persekusi. Dalam banyak kasus, laporan tersebut mengatakan “mustahil mengetahui apa yang terjadi” pada mereka.

Bagi beberapa orang Uighur, ekstradisi dari negara-negara Muslim akan sangat menyakitkan, menghancurkan gagasan solidaritas Islam dan memperdalam perasaan terisolasi di panggung dunia di mana kekuatan China telah berkembang pesat.

CNN telah melihat sebuah dokumen yang diterbitkan kejaksaan Dubai pada 20 Februari 2018, delapan hari setelah Ahmad Talip ditangkap, mengonfirmasi permintaan ekstradisi China atasnya, terdaftar dalam dokumen itu atas nama Chinanya, Aihemaiti Talifu.

Dokumen tersebut mengatakan pihak berwenang Dubai pada awalnya memutuskan untuk membebaskan Ahmad karena kurangnya bukti dia harus diekstradisi. Kantor kejaksaan Dubai menginstruksikan polisi “berhenti mencari orang yang disebutkan di atas dan cabut semua pembatasan terhadapnya, kecuali dia diburu untuk alasan lain.”

Tapi pada 25 Februari 2018, Amannisa diberitahu bahwa Ahmad telah dideportasi. Pihak berwenang di Uni Emirat Arab tidak pernah menjelaskan apa yang dituduhkan terhadap suaminya. Tiga tahun kemudian, dia masih belum mendapatkan jawaban.

“Jika suami saya (melakukan) kejahatan, mengapa mereka tidak mengatakan kepada saya? Mengapa China tidak menyampaikan ke saya?" ujarnya kepada CNN, dikutip Kamis (10/6).

“Saya tidak tahu apakah suami saya masih hidup atau tidak,” ujarnya.

“Saya tidak mendapat kabar tentangnya dari China, dari UEA. Keduanya bungkam. Mereka bungkam, benar-benar bungkam.”

“Mengapa kalian tidak mematuhi dokumen pengadilan kalian sendiri? Kalian bilang kalian negara Muslim. Dan saya tidak pernah percaya lagi sejak ini terjadi, saya tidak pernah mempercayai kalian.”

Pihak berwenang Dubai dan Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab tidak menanggapi permintaan konfirmasi berulang kali dari CNN terkait kasus Ahmad Talip ini.

Baca Selanjutnya: Deportasi dari negara Muslim...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini