Omicron Lebih Mudah Menular tapi Mungkin Tak Menimbulkan Sakit Lebih Parah

Selasa, 7 Desember 2021 14:27 Reporter : Hari Ariyanti
Omicron Lebih Mudah Menular tapi Mungkin Tak Menimbulkan Sakit Lebih Parah Ilustrasi virus corona. ©istimewa

Merdeka.com - Presiden Afrika Selatan menyampaikan pada Senin, virus Covid-19 menyebar lebih cepat daripada sebelumnya di Afrika Selatan, tapi ada indikasi awal Omicon dapat menyebabkan yang kurang parah dibandingkan varian lainnya.

Para peneliti di kompleks rumah sakit utama di Pretoria melaporkan, tingkat keparahan pasien mereka jauh lebih rendah dibanding pasien yang mereka rawat sebelumnya, dan rumah sakit lainnya juga melihat tren yang sama. Faktanya, kata mereka, sebagian besar pasien Covid mereka dirawat karena alasan lain dan tidak memiliki gejala Covid.

Namun para ilmuwan memperingatkan, varian Omicron baru ditemukan bulan lalu, dan lebih banyak penelitian dibutuhkan sebelum menyampaikan banyak hal tentang varian ini dengan penuh percaya diri. Terlepas dari itu, dampak sebenarnya virus corona tidak selalu dirasakan langsung, dengan rawat inap dan kematian sering tertinggal jauh di belakang wabah awal.

Ahli epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Bloomberg Universitas John Hopkins, Dr. Emily S. Gurley menyampaikan, tanda varian Omicron menyebabkan penyakit yang kurang parah tidak mengejutkan jika itu benar.

"Tapi saya tidak yakin kita bisa menyimpulkannya," ujarnya, dikutip dari The New York Times, Selasa (7/12).

Varian Omicron sejauh ini telah menyebar dengan cepat dan terdeteksi di lebih dari 30 negara di enam benua. Para pejabat kesehatan dan peneliti menyampaikan, varian ini bisa menjadi bentuk virus yang paling menular dan bisa segera menggantikan varian Delta yang muncul tahun lalu sebagai varian dominan. Kemunculan Omicron menyebabkan ketakutan pandemi akan semakin panjang dengan segala konsekuensinya seperti lockdown, makin banyak orang yang sakit, dan kerugian ekonomi.

Di Afrika Selatan, di mana para ilmuwan mengatakan Omicron telah menjadi varian dominan, pandemi melonjak lagi. Sebulan lalu, Afrika Selatan mencatat kasus tidak lebih dari 300 per hari; pada Jumat dan lagi pada Sabtu, angkanya lebih dari 16.000 kasus. Pada Minggu dan Senin mengalami penurunan, tapi itu mungkin karena lambannya pelaporan di akhir pekan.

"Karena negara ini sedang menuju gelombang keempat infeksi Covid-19, kita mengalami angka infeksi yang belum pernah kita lihat sejak pandemi dimulai," jelas Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa dalam sebuah surat terbuka.

"Hampir seperempat dari semua tes Covid-19 sekarang hasilnya positif. Bandingkan ini dengan dua pekan lalu, ketika proporsi tes positif hanya sekitar 2 persen."

2 dari 2 halaman

Sebuah laporan para dokter di Kompleks Rumah Sakit Akademik dan Distrik Tshwane Steve Biko di Pretoria, ibukota administratif Afrika Selatan, yang dirilis pekan ini mendukung kesimpulan awal soal varian Omicron, kendati penulisnya, Dr. Fareed Abdullah, meminta agar berhati-hati dalam menarik kesimpulan.

Dr. Abdullah, direktur Kantor Penelitian HIV/AISD dan Tuberkulosis di Dewan Penelitian Medis Afrika Selatan, mengamati 42 pasien Covid yang dirawat di rumah sakit Kamis lalu, dan menemukan bahwa 29 di antaranya, 70 persen, bisa bernapas tanpa alat bantu. Dari 13 orang yang menggunakan oksigen tambahan, empat karena alasan yang tidak terkait dengan Covid.

Hanya 1 dari 42 orang yang dirawat di ICU, sama dengan angka yang dirilis pekan lalu oleh Institut Nasional Penyakit Menular, menunjukkan bahwa hanya 106 pasien berada dalam ICU selama dua minggu sebelumnya, meskipun ada lonjakan infeksi.

Sebagian besar pasien dirawat karena diagnosis yang tidak berkaitan dengan Covid. Infeksi mereka "adalah temuan insidental pada pasien ini dan sebagian besar didorong oleh kebijakan rumah sakit yang mengharuskan tes semua pasien." Disebutkan bahwa dua rumah sakit besar lainnya di Provinsi Gauteng, yang meliputi Pretoria dan Johannesburg, memiliki persentase pasien terinfeksi yang membutuhkan oksigen lebih rendah.

Dr. Abdullah mengatakan dalam sebuah wawancara, dia mengunjungi bangsal Covid dan melihat situasi yang tidak ditemukan dari fase pandemi sebelumnya, di mana saat itu penuh dengan suara mesin oksigen.

“Dari 17 pasien, empat di antaranya menggunakan oksigen,” katanya.

"Itu bukan di bangsal Covid bagi saya, itu seperti bangsal normal."

Dr. Abdullah juga mengamati 166 pasien Covid yang dirawat di kompleks Biko-Tshwane antara 14 November dan 29 November, dan menemukan rata-rata masa inap mereka di rumah sakit hanya 2,8 hari, dan kurang dari 7 persen meninggal. Selama 18 bulan sebelumnya, rata-rata rawat inap untuk pasien tersebut adalah 8,5 hari, dan 17 persen meninggal. Masa inap yang lebih pendek berarti lebih sedikit beban di rumah sakit.

Sebanyak 80 persen dari 166 pasien berusia di bawah 50 tahun, dan angka serupa telah dilaporkan di seluruh Gauteng – sangat kontras dengan kelompok pasien Covid yang dirawat di rumah sakit sebelumnya, yang biasanya lebih tua. Ini bisa terjadi karena Afrika Selatan memiliki tingkat vaksinasi yang relatif tinggi pada orang di atas 50 tahun dan tingkat yang rendah pada orang yang lebih muda, tetapi salah satu yang tidak diketahui tentang Omicron adalah apakah vaksin yang ada menawarkan perlindungan yang kuat terhadap varian baru ini.

Laporan Dr. Abdullah juga perlu dilihat dengan hati-hari karena jumlahnya kecil dan temuannya belum ditelaah oleh pakar lainnya, dan dia tidak tahu berapa banyak pasien yang terinfeksi Omicron, dibandingkan dengan varian lain dari virus corona — meskipun pemerintah melaporkan pekan lalu bahwa itu sudah ada tiga perempat sampel virus di Afrika Selatan.

Dr Abdullah mengakui kekurangan tersebut, dan mencatat mungkin ada jeda antara Omicron pertama kali muncul dan peningkatan penyakit serius dan kematian. Namun sejauh ini, meskipun ada peningkatan besar dalam kasus, kematian akibat Covid-19 belum meningkat di Afrika Selatan. [pan]

Baca juga:
Dua Bayi di Brasil Masuk Rumah Sakit Setelah Disuntik Vaksin Covid-19
Omicron Sudah Menyebar ke Sepertiga Negara Bagian AS
Thailand Catat Kasus Varian Omicron Pertama
Dua Kuda Nil di Belgia Dinyatakan Positif Covid-19
Maskapai China Hentikan Penerbangan dari 37 Negara karena Varian Omicron
Misteri Awal Mula Munculnya Varian Omicron di Afrika Selatan

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini