Obama, Bush, Carter, dan Clinton Kecam Penyerbuan ke Gedung Parlemen AS

Kamis, 7 Januari 2021 12:01 Reporter : Hari Ariyanti
Obama, Bush, Carter, dan Clinton Kecam Penyerbuan ke Gedung Parlemen AS Kerusuhan di Gedung Capitol AS. ©2021 Ribuan pendukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerang gedung parlemen, US Capi

Merdeka.com - Empat mantan presiden AS; Barack Obama, George W Bush, Bill Clinton, dan Jimmy Carter, mengecam para perusuh yang menyerbu Gedung Parlemen, Capitol, di Washington, DC. Penyerbuan ini memaksa para anggota parlemen dievakuasi. Para mantan presiden ini menekankan pentingnya peralihan kekuasaan secara damai.

"Sejarah dengan baik akan mengingat kekerasan hari ini di Capitol, dihasut oleh presiden menjabat yang terus menerus tanpa dasar berbohong atas hasil pemilu sah, sebagai sebuah peristiwa sangat tidak hormat dan memalukan bagi bangsa kita. Tapi kita berseloroh kalau kita menganggapnya sebagai kejutan," jelas Obama mengacu pada penerusnya, Trump, dikutip dari CNN, Kamis (7/1).

Para pendukung Trump menyerbu kompleks Capitol pada Rabu saat Kongres melakukan proses rekapitulasi suara elektoral dan menetapkan Joe Biden sebagai pemenang Pilpres.

Bush, presiden terakhir Partai Republik, mengatakan "beginilah hasil pemilu diperdebatkan di republik pisang - bukan republik demokratis kita."

"Saya terkejut dengan perilaku sembrono dari beberapa pemimpin politik sejak pemilu dan oleh kurangnya rasa hormat yang ditunjukkan hari ini untuk institusi kita, tradisi kita, dan penegakan hukum kita. Serangan kekerasan terhadap Capitol - dan gangguan terhadap mandat konstitusional sidang Kongres - dilakukan oleh orang-orang yang hasratnya telah dibakar oleh kepalsuan dan harapan palsu," tegasnya.

Clinton, seorang Demokrat, menyebut kejadian itu sebagai "serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Capitol kita, Konstitusi kita, dan negara kita."

"Serangan itu dipicu oleh lebih dari empat tahun politik beracun yang menyebarkan misinformasi yang disengaja, menabur ketidakpercayaan dalam sistem kita, dan mengadu domba rakyat Amerika satu sama lain. Korek api itu dinyalakan Donald Trump dan para pendukungnya yang paling bersemangat, termasuk banyak orang di Kongres, untuk membatalkan hasil pemilu yang mengalahkannya," cetus Clinton.

"Pemilu bebas, penghitungannya adil, hasilnya final. Kita harus melakukan peralihan kekuasaan secara damai sesuai amanat Konstitusi kita."

Baca Selanjutnya: Tragedi Nasional...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini