Nasib Warga di China, "Apakah Piala Dunia Ada di Planet Lain?"

Kamis, 24 November 2022 17:45 Reporter : Merdeka
Nasib Warga di China, "Apakah Piala Dunia Ada di Planet Lain?" xi jinping main bola. ©AFP

Merdeka.com - Rasa sesak sedang bergemuruh di dada banyak warga China lantaran mereka tidak bisa menikmati kemeriahan perhelatan Piala Dunia Qatar tahun ini.

Mereka yang hadir di stadion-stadion di Qatar untuk menonton sepak bola seakan-akan telah melupakan pandemi Covid-19.

Namun di China yang terjadi sebaliknya.

Tidak adanya kemeriahan Piala Dunia di Negeri Tirai Bambu itu bukan disebabkan karena kegagalan tim sepak bola nasional China untuk lolos dan bertanding. Namun masyarakat China yang menonton Piala Dunia dari televisi merasa iri dengan para suporter yang dapat berkumpul, menonton, dan merasakan kemeriahan pertandingan secara langsung tanpa menggunakan masker di Qatar.

Rasa iri itu telah mendorong banyak masyarakat China untuk mengutarakan kekecewaan mereka terhadap kebijakan pemerintah ‘Zero Covid Policy’ (kebijakan nol Covid).

Masyarakat China yang tak merasakan kemeriahan Piala Dunia dan harus mengalami lockdown harus hidup di tengah kebijakan ketat itu.

China kini sedang mengalami penyebaran virus Covid-19 terparah yang terjadi selama enam bulan terakhir. Bahkan dalam 24 jam terakhir, terdapat 28.000 kasus penyebaran baru Covid-19 di setiap daerah dan provinsi.

Pemerintah China akhirnya terpaksa melakukan lockdown untuk menanggulangi penyebaran virus.

Sepak bola sendiri adalah salah satu olahraga yang digemari di China. Presiden Xi Jinping bahkan menyukai olah raga itu dan dia pernah bermimpi agar suatu saat tim sepak bola nasional China dapat memenangkan Piala Dunia.

Namun saat ini, masyarakat China hanya dapat merasakan kemeriahan piala dunia dari layar kaca televisi, seperti yang ditayangkan kanal televisi CCTV.

2 dari 2 halaman

Meski merasa tertinggal, namun media-media televisi China berusaha membangkitkan semangat masyarakat mereka dengan menunjukkan peran-peran China dalam keberlangsungan Piala Dunia Qatar. Seperti yang dilakukan media The Global Times yang menunjukkan berbagai produk-produk buatan China, mulai dari moda transportasi bus, stadion Lusail hingga alat pendingin ruangan yang dipakai dalam perhelatan itu.

Bahkan kanal televisi CCTV juga menunjukkan pembawa bendera China dalam upacara pembukaan Piala Dunia dan dua panda raksasa China di Qatar yang digunakan untuk menyambut para pengunjung di acara itu.

Namun di balik semua usaha itu, kemeriahan juga belum dirasakan masyarakat China. Banyak tempat-tempat berkumpul seperti kafe harus ditutup karena penyebaran virus Covid-19. Acara nonton bareng pada beberapa kafe pun terlihat sepi.

Masyarakat China yang kecewa terhadap pemerintah karena kebijakan Covid-19 pun mulai menyuarakan pendapat mereka di media-media sosial China seperti WeChat dan Weibo.

Banyak yang menulis mereka merasa tinggal di planet yang berbeda dari Qatar. Masyarakat China yang terbiasa menggunakan masker pun merasa aneh melihat para suporter sepak bola menonton pertandingan bersama tanpa menggunakan masker. Beberapa pengguna pun bingung bagaimana menjelaskan kepada anak-anak mereka terkait penonton yang ramai menghadiri Piala Dunia.

Akhirnya banyak pengguna merasa mereka terpisahkan dari dunia lain.

“Tidak ada kursi terpisah sehingga orang dapat menjaga jarak sosial, dan tidak ada orang berpakaian medis putih dan biru di sela-sela. Planet ini telah benar-benar terbelah,” tulis seorang pengguna media sosial, dikutip dari BBC, Kamis (24/11).

“Di satu sisi dunia ada karnaval yaitu Piala Dunia, di sisi lain ada aturan untuk tidak mengunjungi tempat umum selama lima hari,” tulis pengguna lain yang kesal.

Namun hingga kini, belum terlihat akhir dari kebijakan Covid-19 yang ketat itu. Bahkan juru bicara Komisi Kesehatan Nasional memperingatkan atas kelonggaran dalam pencegahan dan pengendalian epidemi dan mendesak tindakan yang lebih tegas untuk mengendalikan kasus.

Pemerintahan lokal juga meminta agar masyarakat tetap tinggal di rumah karena persebaran virus yang tinggi.

China diyakini akan tetap menerapkan kebijakan nol Covid mereka. Namun setelah tiga tahun hidup di bawah kebijakan itu, masyarakat China merasa terganggu dan mulai melawan kebijakan yang menindas itu.

Reporter magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]

Baca juga:
China Laporkan Kematian Pertama Covid Sejak Mei
China Buat Sistem Reaktor Nuklir Baru untuk Bangun Pangkalan di Bulan
AS Gencar Produksi Senjata Hipersonik untuk Kejar Rusia dan China
Pria ini Baru Sembuh dari Covid-19 setelah Satu Tahun Lebih, Ini Sebabnya
Perempuan China Jadi Viral karena Makan Pisang di Kereta dengan Cara Unik
Obat Covid-19 Paxlovid Ternyata Juga Bisa Lawan Gejala Long Covid
Pekerja Pabrik iPhone di China Nekat Lompati Pagar Demi Hindari Lockdown Covid

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini