Mirip Isu Sektarian di RI, Kematian Petugas Damkar Picu Ketegangan Rasial di Malaysia

Jumat, 21 Desember 2018 07:22 Reporter : Pandasurya Wijaya
Mirip Isu Sektarian di RI, Kematian Petugas Damkar Picu Ketegangan Rasial di Malaysia kerusuhan di kuil hindu malaysia. ©Straits Times

Merdeka.com - Tujuh bulan setelah pemerintahan baru berkuasa di Malaysia, sentimen ras dan agama kembali membawa ketegangan di tengah masyarakat Negeri Jiran.

Kematian petugas pemadam kebakaran di Malaysia bernama Muhammad Adib Mohd Kasim akibat kerusuhan di kuil Hindu akhir bulan lalu kian memicu ketegangan rasial di Malaysia. Kasus ini mengingatkan orang akan sejumlah kerusuhan di Indonesia yang juga dipicu isu sektarian.

Adib, 24 tahun, dirawat di rumah sakit sejak 27 November karena luka-luka. Dia diduga diserang oleh para perusuh di hari kedua keributan di Kuil Sri Maha Maariamman, Petaling Jaya, Kuala Lumpur.

Dilansir dari laman South China Morning Post, Kamis (18/12), dia akhirnya meninggal Senin lalu, empat hari sebelum hari pernikahannya.

Perdana Menteri Mahathir Mohamad dan istrinya memberi penghormatan terakhir bagi Adib sebelum jenazahnya diterbangkan ke rumah keluarganya di Kuala Kedah.

Majelis Tinggi Parlemen Malaysia juga mengheningkan cipta satu menit untuk menghormati kepergian Adib dan menyatakan duka cita kepada keluarganya.

Di akun Twitternya, tokoh pendukung demokrasi dan calon perdana menteri Anwar Ibrahim menyerukan rakyat Malaysia tetap bersatu dan memastikan tidak ada oportunis yang memanfaatkan tragedi ini untuk menyebar kebencian.

"Muhammad Adib adalah pahlawan yang harus membayar mahal ketika sedang menjalankan tugas. Para pelaku akan diseret ke pengadilan. Sementara itu kita harus tetap bersatu dan memastikan tidak ada orang yang membajak tragedi ini dan menebar kebencian di tengah masyarakat," tulis Ibrahim.

kerusuhan di kuil hindu malaysia ©EPA

Pihak pengembang swasta untuk proyek rumah tinggal, One City Development, memenangkan kasus pengadilan pada Maret 2014 untuk merelokasi kuil Hindu itu ke jarak sekitar 3,5 kilometer dari tempat sekarang.

Wacana pemindahan lokasi kuil ini sudah berlangsung sejak 2007. Namun sebagian warga Hindu menolak pemindahan itu, salah satunya dengan alasan kuil itu sudah berusia ratusan tahun.

Tenggat waktu untuk relokasi itu adalah 22 November lalu dan pihak pengelola kuil menambah petugas keamanan untuk berjaga sepanjang malam. Sampai akhirnya pada 26 November sekitar pukul 02.000 ada 50 pria bertopeng membawa senjata menyerang jemaah kuil, termasuk tokoh masyrakat dan perempuan. Kerusuhan itu menyebabkan 18 mobil dan dua motor dibakar dan digulingkan di jalanan. Puluhan orang luka dalam peristiwa itu.

"Sekelompok orang melayu membawa pisau, kapak, dan besi untuk menyerang kami dan menyuruh kami pergi dari kuil. Mereka bilang tanah ini milik One City," kata anggota komite kuil Yuvaraj Nagaraju kepada Straits Times.

Namun pihak One City membantah mereka terlibat dalam kerusuhan itu.

Warga Melayu di Malaysia merupakan mayoritas dengan angka mencapai sekitar 69,1 persen, sementara etnis India sebagai minoritas berjumlah sekitar 6,9 persen.

Hanya sepekan sebelum kerusuhan terjadi pemerintah Malaysia mengumumkan tidak akan meratifikasi Konvensi Internasional PBB untuk Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Ras (ICERD) setelah mendapat tekanan dari berbagai kalangan penduduk mayoritas.

"Kerusuhan di Kuil Hindu, demo Anti-ICERD, membuktikan isu etnis dan agama masih sangat sensitif di Malaysia," kata pengamat studi sosial kemasyarakatan, Awang Azman Awang Pawi dari Universitas Malaya (UM).

"Ini semacam bom waktu yang bisa tiba-tiba meledak. Ketika ada isu melibatkan satu etnis, sejumlah orang langsung bereaksi tanpa mengetahui duduk perkara sebenarnya," kata Awang.

Menteri Dalam Negeri Muhyiddin Yassin mengatakan hasil penyelidikan polisi mengungkap pengacara One City membayar uang sebesar USD 36.000 kepada sekelompok pria untuk mengambil alih kuil Hindu itu. Tuduhan itu dibantah oleh One City.

Aparat keamanan sedikitnya sudah menahan sekitar 68 orang yang terlibat kerusuhan itu.

Pemerintah Malaysia juga memperingatkan warga tentang banyak beredarnya berita bohong yang memicu kebencian di media sosial. [pan]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini