Minggu Pagi Ketika Trump Menuangkan Minyak ke Kobaran Api Rasial

Rabu, 17 Juli 2019 06:47 Reporter : Hari Ariyanti
Minggu Pagi Ketika Trump Menuangkan Minyak ke Kobaran Api Rasial Trump dengan Kelinci Paskah. ©2018 REUTERS/Carlos Barria

Merdeka.com - Bayangkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bangun di Minggu pagi lalu menatap ke seantero negeri yang dipimpinnya, kemudian dia melihat isu rasisme ibarat tumpukan kayu kering dan memutuskan untuk melemparkan korek api.

Melalui akun Twitternya Trump kembali melontarkan pernyataan rasial. Kendati tak disebutkan kepada siapa cuitan itu tertuju, namun dipastikan serangan itu untuk empat anggota kongres perempuan yang merupakan perempuan kulit berwarna dan keturunan imigran.

Dalam cuitannya, Trump meminta Rashida Tlaib, Alexandria Ocasio-Cortez, Ilhan Omar, dan Ayana Perssley untuk kembali ke negara asal nenek moyang mereka. Serangan personal Trump ini kemudian menuai kecaman. Pernyataan Trump seharusnya mengejutkan sejumlah pihak yang telah melihat cara dia memerintah negara multikultural dan multiras selama dua setengah tahun terakhir ini.

Ketika dihadapkan pada isu ras, Trump kerap bermain api, hal yang belum pernah dilakukan presiden sebelumnya. Di zaman modern ini, Trump dinilai satu-satunya pejabat yang secara terang-terangan mengipasi kobaran api rasialisme tanpa henti. Demikian analisis Peter Baker dari The New York Times, dilansir Selasa (16/7).

Serangannya terhadap anggota kongres perempuan dari Demokrat terjadi pada hari yang sama pemerintahannya mengancam penangkapan massal imigran yang tinggal di negara itu secara ilegal. Dan itu terjadi hanya beberapa hari setelah dia menerima beberapa tokoh sayap kanan di Gedung Putih dan bersumpah untuk menemukan cara lain untuk menyensus warga Amerika dengan pendatang secara terpisah meskipun putusan Mahkamah Agung melarang penambahan menambahkan pertanyaan ke sensus yang dilaksanakan setiap satu dekade itu.

"Dalam banyak hal, ini adalah jenis penghasutan rasial yang paling berbahaya," kata Douglas A. Blackmon, penulis "Slavery by Another Name".

Trump pun selalu menyangkal pernyataannya bermaksud rasis. Menurutnya, dia hanya melawan imigrasi ilegal demi mengamankan dan melindungi perbatasan. Dia juga kerap membanggakan pengangguran di antara kaum Hispanik dan Afrika-Amerika telah mencapai rekor terendah. Pekan lalu dia berterima kasih kepada Robert L. Johnson, pendiri Black Entertainment Television, karena memuji pengelolaan ekonominya.

REUTERS/David Moir

"Saya orang paling tidak rasis yang pernah Anda temui," kata Trump lebih dari sekali.

Namun dia gagal membuktikan klaimnya. Bahkan karena cuitannya itu, para penasihatnya tak bisa membelanya. Tak ada satupun dari enam juru bicaranya merespons permintaan wawancara terkait hal ini.

Satu-satunya pejabat pemerintah yang dijadwalkan hadir dalam acara talk show hari Minggu, Mark Morgan, penjabat komisi Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan, menjelaskan dia tidak ingin ditanyakan terkait isu rasial itu. "Anda harus bertanya kepada presiden apa yang dia maksud dengan cuitannya itu," katanya dalam acara "Face the Nation" CBS.

Anggota parlemen dari Republik, pada umumnya, juga tak langsung menanggapi pernyataan rasial tersebut. Pada Minggu malam, Trump menanggapi kontroversi itu, mengatakan Demokrat sedang membela rekan-rekan mereka yang kerap berbicara begitu buruk tentang AS.

Pada saat itu, Tim Murtaugh, juru bicara kampanye untuk Trump, menanggapi permintaan komentar, dengan mengatakan, "Presiden menunjukkan bahwa banyak Demokrat mengatakan hal-hal buruk tentang negara ini, yang pada kenyataannya adalah negara terbesar di dunia." Dia tidak menjelaskan alasan Trump meminta keempat anggota kongres tersebut kembali ke negara asal nenek moyang mereka.

Beberapa presiden AS sebelumnya juga memainkan politik rasial, namun tak diutarakan di hadapan publik.
Rekaman rahasia Lyndon Johnson dan Richard Nixon menunjukkan mereka secara rutin membuat pernyataan rasis yang kejam di belakang layar. Termasuk juga tudingan rasis kepada Ronald Reagan, George Bush, dan Bill Clinton dalam beberapa kasus.

Namun demikian, semua memiliki batasan. Para presiden sebelumnya selalu melontarkan pentingnya persatuan bangsa untuk menghindari perpecahan dengan sejumlah kebijakan. Lyndon Johnson mendorong legislasi hak-hak sipil yang paling luas dalam sejarah Amerika. Bush menandatangani undang-undang hak-hak sipil dan mengecam David Duke, pemimpin Ku Klux Klan, ketika dia mencalonkan diri sebagai gubernur Louisiana sebagai seorang Republikan. Putranya, George W. Bush, mengunjungi masjid hanya beberapa hari setelah serangan 11 September 2001, untuk menekankan bahwa Amerika tidak berperang dengan Muslim. Barack Obama mengundang seorang profesor Harvard-Afrika-Amerika dan polisi kulit putih yang salah menangkapnya.

Sejarah betapa rasisnya Trump telah didokumentasikan dengan baik, sejak masih menjadi bos properti. Jack O'Donnell, mantan presiden Trump Plaza Hotel dan Casino di Atlantic City, menulis bahwa Trump secara terbuka meremehkan orang lain berdasarkan ras, mengeluh, misalnya, bahwa ia tidak ingin pria kulit hitam mengelola uangnya.

"Trump tidak hanya rasis, tetapi siapa pun di sekitarnya yang menyangkalnya, berbohong," kata O'Donnell pada Minggu.
"Donald Trump membuat komentar rasis sepanjang waktu. Begitu Anda mengenalnya, ia berbicara tentang ras dengan sangat terbuka," lanjutnya.

Trump dinilai berhasil melenggang ke Gedung Putih salah satunya karena isu-isu rasial yang kerap dilontarkan, salah satunya isu yang mengatakan Obama sebenarnya lahir di Afrika, bukan Hawaii. Pada 2015 dia juga menyerang pendatang Meksiko dan menyebutnya sebagai "pemerkosa". Hal kontroversial lainnya ialah menyerukan larangan Muslim memasuki AS. Dia juga menuding seorang hakim kelahiran Meksiko tak bisa berbuat adil karena latar belakang etnisnya.

Setelah menjabat sebagai presiden, dia mengeluh selama pertemuan para imigran Haiti “semua menderita AIDS” dan mengatakan bahwa para pendatang Afrika tidak akan pernah “kembali ke gubuk mereka.”

"Dia hanya mengatakan apa yang orang lain yakini tetapi terlalu takut untuk mengatakannya, dia berkeras. Dan setiap kali nyala api meraung dan Trump melambungkannya ke atas dengan sedikit lebih cepat. Apinya mungkin panas, tapi memang itu yang dia suka," tulis Baker. [pan]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini