Hot Issue

Mimpi Buruk Genosida Hantui Muslim India

Rabu, 19 Januari 2022 07:27 Reporter : Hari Ariyanti
Mimpi Buruk Genosida Hantui Muslim India Muslim India melaksanakan salat Jumat di lahan parkir di Sektor 37 Gurugram di tenga protes kelompok. ©Vipin Kumar/Hindustan Times via Getty Images/Al Jazeera

Merdeka.com - Genosida terhadap Muslim di India bisa terjadi, seperti diperingatkan seorang ahli yang meramalkan pembantaian Tutsi di Rwanda bertahun-tahun sebelum terjadi pada 1994.

Gregory Stanton, pendiri dan direktur Genocide Watch, mengatakan dalam rapat dengan kongres AS, ada “tanda dan proses” awal genosida di negara bagian Assam, India dan Kashmir yang dikelola India.

"Kami memperingatkan bahwa genosida sangat bisa terjadi di India," jelas Stanton, berbicara atas nama NGO yang dia dirikan pada 1999 untuk memprediksi, mencegah, menghentikan, dan menuntut pertanggungjawaban atas kejahatan tersebut.

Stanton menjelaskan, genosida bukan sebuah peristiwa tapi sebuah proses dan sejajar antara kebijakan Perdana Menteri India Narendra Modi dan kebijakan diskriminatif pemerintah Myanmar terhadap Muslim Rohingya pada 2017.

Di antara kebijakan yang dia sebut yaitu pencabutan status otonomi khusus Kashmir yang dikelola India pada 2019 – otonomi khusus Kashmir yang mereka miliki selama tujuh dasawarsa – dan amandemen Undang-Undang Kewarganegaraan pada tahun yang sama, yang memberikan kewarganegaraan kepada penganut agama minoritas tetapi mengecualikan umat Islam.

Stanton, mantan dosen studi genosida dan pencegahan di Universitas George Mason di Virginia, mengatakan dia mengkhawatirkan skenario serupa dengan Myanmar, di mana Rohingya pertama kali secara hukum dinyatakan bukan warga negara dan kemudian diusir melalui kekerasan dan genosida.

"Apa yang kita hadapi sekarang adalah jenis plot yang sangat mirip," jelasnya, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (18/1).

Stanton mengatakan ideologi Hindutva bertentangan dengan sejarah India dan konstitusi India, dan menyebut Modi sebagai “ekstremis yang telah mengambil alih pemerintahan”.

Pada 1989, Stanton mengatakan dia telah memperingatkan presiden Rwanda saat itu Juvenal Habyarimana bahwa "jika Anda tidak melakukan sesuatu untuk mencegah genosida di negara Anda, akan ada genosida di sini dalam waktu lima tahun".

Tanda-tanda peringatan dini disusul pembantaian 800.000 orang Tutsi dan orang Rwanda lainnya pada tahun 1994.

“Kita tidak bisa membiarkan itu terjadi di India,” kata Stanton.

Genocide Watch mulai memperingatkan genosida di India pada 2002, ketika kekerasan tiga hari di Gujarat menewaskan lebih dari 1.000 Muslim.

2 dari 3 halaman

Harus ditanggapi serius

Aktivis HAM asal Bengalure, Aakar Patel yang juga seorang penulis dan mantan kepala Amnesty International India menyampaikan kepada Al Jazeera, laporan Stanton itu harus ditanggapi serius.

"Menurut saya sejarah catatan kekerasan sipil India menunjukkan apakah negara melakukan sesuatu untuk memprovokasi kekerasan (terhadap Muslim) atau tidak melakukan hal yang cukup untuk menghentikannya," jelasnya.

"Menurut saya pemerintah India perlu menanggapinya dengan serius. Orang-orang di luar secara alamiah khawatir ketika hal-hal seperti itu disebut di India dan tidak ada yang dilakukan oleh negara,” katanya mengacu pada seruan baru-baru ini untuk genosida Muslim yang dibuat di sebuah acara oleh kelompok-kelompok Hindu sayap kanan.

MM Ansari, mantan komisaris informasi dan pendidik yang berbasis di New Delhi, menyebut laporan itu "mengkhawatirkan".

"Ketakutan itu sangat nyata," ujarnya.

Pakar lain mengecam meningkatnya serangan terhadap pengusaha Muslim oleh kelompok supremasi Hindu.

Pada November, kelompok garis keras Hindu itu membakar rumah mantan menteri luar negeri, Salman Khurshid, yang seorang Muslim. Khurshid membandingkan jenis nasionalisme Hindu yang berkembang di bawah Modi dengan “kelompok ekstremis” seperti ISIS.

Bulan lalu, video para pemimpin agama Hindu yang menyerukan pembunuhan massal dan penggunaan senjata terhadap Muslim yang menjadi viral di media sosial mendorong Mahkamah Agung memerintahkan penyelidikan atas ujaran kebencian di negara bagian Uttarakhand.

"Di bawah kepemimpinan BJP (Partai Bharatiya Janata), India menjadi salah satu negara paling menbahayakan di dunia bagi Muslim dan umat Kristen. Mereka dipersekusi secara fisik, psikis, dan ekonomi," tulis aktivis dan akademisi, Apoorvanand di OpEd Al Jazeera.

"Undang-undang disahkan untuk mengkriminalisasi prakti-praktik keagamaan mereka, makanan dan bahkan usaha mereka."

3 dari 3 halaman

Tanggapan BJP

Juru bicara BJP, Syed Zafar Islam membantah laporan Genocida Watch, mengatakan "tidak ada hal semacam itu seperti yang digambarkan".

"Pertama-tama, kesan yang mereka ciptakan tidak benar secara faktual," jelas Zafar Islam, menambahkan banyak kasus yang disorot media jauh dari kenyataan.

“Ada kasus (penyerangan) tetapi tidak terbatas pada satu komunitas. Dalam masyarakat, terkadang kami saling menyerang karena alasan seperti sengketa properti atau sengketa lainnya. Hal ini tidak hanya terjadi antara Hindu dan Muslim saja, tetapi juga terjadi di antara umat Hindu,” paparnya.

Populasi Muslim di India sebanyak 14 persen dari 1,4 miliar penduduk India, sementara umat Hindu sebanyak 80 persen dari populasi.

BJP dan induk ideologisnya, organisasi sayap kanan Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), telah memperingatkan umat Hindu tentang pindah agama ke Islam dan Kristen, dan menyerukan tindakan untuk mencegah “ketidakseimbangan demografis” di negara berpenduduk terbesar kedua di dunia itu.

BJP dituduh mendorong persekusi terhadap Muslim dan minoritas lainnya yang dilakukan nasionalis Hindu garis keras sejak berkuasa pada tahun 2014, namun tuduhan itu telah dibantah.

Baca juga:
Filipina Beli Persenjataan Sistem Rudal dari India Senilai USD 375 juta
Jutaan Umat Hindu India Rayakan Ritual Keagamaan di Tengah Ancaman Omicron
Merayakan Festival Panen Bhogali Bihu di Danau Goroimari
Menengok Pusat Isolasi Pasien Covid-19 di India
Saat Kasus Covid-19 Meroket, Para Politikus India Justru Sibuk Kampanye Pemilu
Sepi New Delhi di Tengah Penerapan Jam Malam Akhir Pekan
Antisipasi Lonjakan Covid-19, India Tutup Tempat Ibadah

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini