Militer Myanmar Lenyapkan Anak-Anak Muda untuk Menggilas Gerakan Pro Demokrasi

Kamis, 6 Mei 2021 03:13 Reporter : Hari Ariyanti
Militer Myanmar Lenyapkan Anak-Anak Muda untuk Menggilas Gerakan Pro Demokrasi Aksi Protes Kudeta Militer Myanmar. ©2021 REUTERS/Stringer

Merdeka.com - Pasukan keamanan Myanmar bergerak dan lampu-lampu jalanan padam. Dari dalam rumah demi rumah, orang-orang mematikan lampu. Kegelapan membayangi blok tersebut.

Meringkuk di dalam rumahnya di kawasan Yangon, gadis 19 tahun bernama Shwe berani mengintip ke luar jendela di tengah malam yang gulita. Sebuah senter diarahkan padanya, dan ada suara seorang pria yang memerintahkan agar jangan mengintip.

Dua tembakan terdengar. Kemudian seorang pria menjerit: “TOLONG!”

Ketika truk militer akhirnya berlalu, Shwe dan keluarganya keluar melihat adik laki-lakinya yang berusia 15 tahun, khawatir dengan penculikan yang kerap dilakukan pasukan keamanan.

“Saya bisa merasakan darah saya berdesir hebat,” ujarnya, dilansir AP, Rabu (5/5).

“Saya punya perasaan dia mungkin diculik.”

Di seluruh negeri, pasukan keamanan Myanmar menangkap dan secara paksa melenyapkan ribuan orang, khususnya remaja laki-laki dan pria muda, untuk menghentikan pemberontakan menentang kudeta militer. Dalam sebagian besar kasus, keluarga korban penculikan tidak tahu di mana anggota keluarganya berada, menurut analisis AP terhadap lebih dari 3.500 penangkapan sejak Februari.

UNICEF, memperkirakan sekitar 1.000 kasus anak atau pemuda yang ditangkap dan ditahan secara sewenang-wenang, kebanyakan tanpa akses ke pengara atau keluarga mereka. Walaupun sulit mendapatkan data pasti, UNICEF mengatakan mayoritas adalah remaja laki-laki.

Ini merupakan teknik lama militer untuk mengundang ketakutan dan menggilas gerakan pro demokrasi. Anak-anak muda ini diculik dari rumah, tempat usaha, dan jalan-jalan pada malam hari dan terkadang siang hari.

Beberapa berakhir meregang nyawa. Banyak yang dipenjara dan terkadang disiksa. Lebih banyak lagi yang hilang.

“Kita benar-benar beralih ke situasi pelenyapan paksa secara massal,” jelas Matthew Smith, salah satu pendiri kelompok HAM Fortify Rights, yang mengumpulkan bukti para tahanan dibunuh di dalam penjara.

“Kami mendokumentasikan dan melihat ada penangkapan sewenang-wenang yang meluas dan sistematis,” ujarnya.

Baca Selanjutnya: AP menyembunyikan nama lengkap Shwe...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini