Militan Rohingya di Malaysia Galang Dana dengan Memeras Uang dari Pengungsi

Selasa, 23 Juli 2019 07:20 Reporter : Pandasurya Wijaya
Militan Rohingya di Malaysia Galang Dana dengan Memeras Uang dari Pengungsi pengungsi Rohingya menolak dipulangkan. ©REUTERS/Mohammad Ponir Hossain

Merdeka.com - Polisi Malaysia mengatakan sekelompok militan muslim Rohingya dari Myanmar menggalang dana dari para pengungsi hingga meraup uang senilai Rp271 juta.

Penangkapan empat orang Rohingya oleh polisi anti-terorisme Malaysia baru-baru ini mengungkap upaya pemerasan itu untuk mendanai Tentara Penyelamatan Rohingya Arakan (ARSA) yang beroperasi di tujuh negara bagian di Malaysia.

Dilansir dari laman South China Morning Post, Senin (22/7), salah seorang militan Rohingya yang ditangkap diyakini memiliki hubungan dengan sel pro-ISIS dan terlibat dalam rencana aksi teror terhadap sebuah kuil Hindu. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran yang muncul sejak lama, minoritas muslim Rohingya akan dengan mudah direkrut oleh kelompok militan.

Menurut data PBB, warga Rohingya mencapai 54 persen dari 176 ribu pengungsi di Malaysia, namun menurut polisi dari angka itu sebagian besar tidak condong kepada militan.

Ratusan ribu orang Rohingya melarikan diri dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar, menuju Bangladesh dan beberapa negara Asia lainnya dalam beberapa tahun terakhir karena kekerasan dilakukan militer Myanmar.

Pemerintah Malaysia dan Indonesia selama ini termasuk pihak yang cukup vokal menyuarakan pembelaan terhadap warga Rohingya, termasuk mendorong Myanmar memberikan mereka status kewarganegaraan, namun pada kenyataannya para pengungsi itu menjadi ancaman domestik dan menimbulkan kekhawatiran bagi aparat keamanan Negeri Jiran.

"Arsa sudah mengumpulkan 80 ribu ringgit di Malaysia. Uang itu kemudian dikirimkan ke Bangladesh melalui hawala dan Western Union."

Hawala adalah jalur pengiriman uang alternatif yang berada di luar sistem perbankan.

irrawaddy.org

Menurut faran Jeffret dari lembaga peneliti berbasis di Inggris, ITCT, Arsa beroperasi di Myanmar dan juga Bangladesh.

"Meski Bangladesh membantah Arsa beroperasi di negara mereka, tapi ada sejumlah bukti dan laporan yang mengarah mereka tidak hanya beroperasi di Bangladesh tapi juga di sejumlah kamp pelatihan di perbatasan (dengan Myanmar)," kata Faran.

Militan Arsa bersenjata parang dan senjata rakitan melancarkan serangan dini hari hingga menewaskan 12 aparat keamanan Myanmar pada 25 Agustus 2017. Serangan itu langsung mendapat balasan dari militer Myanmar hingga menyebabkan 700 ribu warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh. Ratusan dari mereka tewas dibunuh.

Penyelidik PBB menyebut tindakan militer Myanmar adalah genosida terhadap warga Rohingya.

Kementerian Luar Negeri AS pekan ini mengumumkan menerapkan sanksi terhadap empat jenderal Myanmar, termasuk panglima mereka, karena keterlibatannya dalam pembersihan etnis Rohingya.

Menteri Luar Negeri Malaysia Saifuddin Abdullah mengatakan atas pertimbangan kemanusiaan Negeri Jiran menampung pengungsi Rohingya namun pemerintah juga khawatir dengan masalah keamanan yang timbul.

"Sebagai prioritas, Malaysia akan menerapkan hukuman bagi siapa pun yang berbuat kriminal di dalam negeri," kata dia.

Saifuddin menuturkan, Kementerian Dalam Negeri melalui proses pemeriksaan yang melibatkan polisi dan departemen imigrasi akan memberikan kartu UNHCR bagi para pengungsi Rohingya.

Kepala satuan kontra-terorisme Malaysia Ayob menekankan, sebagian besar Rohingya menolak Arsa dan hanya sebagian kecil yang terlibat dengan Arsa.

"Banyak warga Rohignya yang memberikan uang kepada Arsa karena mereka diancam. Mereka masih punya keluarga di Negara Bagian Rakhine, Myanmar dan Arsa mengancam akan menyakiti keluarga mereka di sana," ujar Ayob.

"Orang Rohingya diperas di Negara Bagian Kedah, Penang, Perak, Selangor, Kelantan, Terengganu, dan Johor."

Anggota Arsa yang terlibat dalam pemerasan di Malaysia mirip preman dan sudah ditangkap oleh polisi kontra-terorisme karena mengancam warga, kata Ayob.

"Mereka pergi ke pertokoan tempat orang Rohingya berkumpul di akhir pekan untuk memeras."

Seorang Rohingya yang ditangkap membawa kartu pengungsi dari PBB awal bulan ini di Kedah adalah sosok penting dalam aksi pemerasan Arsa.

"Karena sumber daya yang terbatas, Arsa terpaksa berbuat kriminal untuk membuat keuangannya tetap berputar," kata Faran.

Uang itu, kata dia, diyakini dipakai untuk membeli senjata, membayar gaji pemimpin militan, dan membayar informan.

Arsa punya peran langsung dan tidak langsung dalam upaya radikalisasi banyak muslim Rohingya. Sejumlah aksi teror di Asia Tengah, termasuk yang mengatasnamakan ISIS, punya kaitan dengan tersangka Rohingya, kata Faran dari ITCT.

"Orang Rohingya yang sudah tersisih adalah target mudah untuk didoktrin radikal dan direkrut untuk kegiatan terorisme," ujar Faran. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini