Mesin Propaganda Terdahsyat dalam Sejarah Itu Bernama Media Sosial

Rabu, 27 November 2019 07:29 Reporter : Hari Ariyanti
Mesin Propaganda Terdahsyat dalam Sejarah Itu Bernama Media Sosial Ilustrasi media sosial. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Aktor Sacha Baron Cohen melontarkan kritik pedas pada Facebook dan sejumlah platform media sosial besar lainnya, menyebutnya sebagai mesin propaganda terdahsyat dalam sejarah. Kritik pedas itu disampaikan dalam sebuah pidato berapi-api pada Kamis malam pekan lalu.

Pidato dalam acara pertemuan puncak Liga Anti-Fitnah, aktor yang menggunakan peran satirnya seperti Borat, Bruno dan Ali G untuk menyoroti fanatisme di seluruh dunia - menguak perusahaan teknologi yang tidak melakukan upaya cukup dalam menekan ujaran kebencian dan teori konspirasi.

"Sekarang di seluruh dunia, para pemimpin menarik naluri terburuk kita," Cohen memulai pidatonya.

"Satu hal cukup jelas bagi saya: Semua kebencian dan kekerasan ini adalah difasilitasi oleh segelintir perusahaan internet yang menjadi mesin propaganda terbesar dalam sejarah," katanya, dilansir dari laman NBC News, Selasa (26/11).

Berikut video pidato Sacha Baron Cohen yang menyebut media sosial mesin propaganda terdahsyat dalam sejarah:

Cohen menyebut pemimpin Facebook, Twitter, YouTube, Google yang mengizinkan penyebaran konten kebencian dan tidak akurat berkembang biak melalui algoritma. Pada algoritma inilah perusahaan tersebut bergantung yang membuat pengguna mereka tetap terlibat.

"Itulah kenapa hoaks mengungguli berita fakta," ujarnya.

"Ocehan orang gila tampaknya sama kredibelnya dengan temuan pemenang Hadiah Nobel," imbuhnya.

1 dari 2 halaman

Facebook Membantah

Facebook awalnya menolak menanggapi pidato Cohen. Kemudian pada Jumat, perusahaan tersebut mengatakan Cohen keliru menginterpretasikan kebijakan Facebook.

"Ujaran kebencian sebenarnya telah dilarang di platform kami. Kami melarang orang-orang yang menganjurkan kekerasan dan kami menghapus siapapun yang memuji dan mendukungnya. Tak ada - termasuk politikus - bisa menganjurkan atau mempromosikan kebencian, kekerasan atau pembunuhan massal di Facebook," jelas Facebook dalam sebuah pernyataan.

Saat Cohen menyinggung bahwa perusahaan media sosial telah mengambil beberapa langkah untuk mengurangi konten tak layak di platform mereka, dia menyebut langkah-langkah itu 'kebanyakan dangkal' saat dia secara khusus menyerang bos Facebook, Mark Zuckerberg.

Dia menyebut pidato Zuckerberg di Universitas Georgetown bulan lalu menggelikan, menurutnya Zuckerberg keliru memotret persoalan ketika dia mengatakan regulasi lebih ketat pada Facebook akan berdampak pada kemampuannya menjadi platform berpendapat dan inklusi.

"Ini bukan persoalan membatasi kebebasan orang berpendapat. Ini soal memberikan orang, termasuk beberapa orang bermasalah di muka bumi ini, platform terbesar dalam sejarah untuk menjangkau sepertiga planet ini. Kebebasan berpendapat bukanlah kebebasan untuk meraih itu," jelasnya.

2 dari 2 halaman

Membandingkan Facebook dan Restoran

Aktor asal Inggris itu membandingkan Facebook dengan restoran mewah dan mengatakan perusahaan internet seharusnya memiliki tanggung jawab yang sama dengan bos restoran terkait perlindungan konsumen.

"Jika seorang neo-Nazi masuk ke sebuah restoran dan mulai mengancam pelanggan lain dan mengatakan akan membunuh Yahudi, apakah pemilik restoran, sebuah perusahaan swasta, perlu melayaninya dengan delapan jenis hidangan elegan?" kata Cohen.

"Tentu tidak. Pemilik restoran punya hak, dan, memang, saya akan memperdebatkan tanggung jawab moral, untuk menendang keluar Nazi itu. Dan begitu pula perusahaan-perusahaan internet ini," lanjutnya.

Cohen tak sendiri dalam hal ini. Juga pada Kamis, mantan Presiden AS, Barack Obama mengatakan perusahaan teknologi ini berkontribusi memecah belah masyarakat.

"Sebagian yang terjadi adalah orang tidak tahu mana yang benar dan tidak, dan mana yang harus dipercaya dan tidak dipercaya," ujarnya kepada CEO Salesforce, Marc Benioff dalam sebuah konferensi di San Francisco.

"Itulah andil kenapa kita mengalami begitu banyak kekacauan dalam budaya politik. Tapi hal itu tak hanya berdampak pada politik. Kita saling menjauh satu sama lain dengan cara yang berbahaya," lanjutnya, sebagaimana dilaporkan CNBC.

Cohen berpendapat, platform media sosial harus memiliki peraturan ketat, sebagaimana perusahaan lainnya.

"Dalam setiap industri, sebuah perusahaan dapat dimintai pertanggungjawaban ketika produk mereka cacat. Ketika mesin terbakar atau sabuk pengaman tak berfungsi, perusahaan mobil menarik puluhan ribu kendaraan yang biayanya miliaran dolar. Tampaknya adil untuk mengatakan kepada Facebook, YouTube dan Twitter, Produk Anda rusak, Anda berkewajiban memperbaikinya tidak peduli berapa pun biayanya dan tidak peduli berapa banyak pegawai yang perlu Anda rekrut'," jelasnya.

"Tujuan utama bermasyarakat harus dipastikan bahwa orang-orang itu tidak menjadi sasaran, tidak dilecehkan dan tidak dibunuh karena siapa mereka, dari mana mereka berasal, siapa yang mereka cintai atau bagaimana mereka berdoa. Jika itu tujuan kita - jika kita memprioritaskan kebenaran daripada kebohongan, toleransi daripada prasangka, empati daripada ketidakpedulian dan para ahli daripada orang bodoh - maka mungkin, mungkin saja, kita dapat menghentikan mesin propaganda terhebat dalam sejarah," pungkasnya. [pan]

Baca juga:
Twitter Berantas Akun Tak Aktif Mulai Desember
Balasan Twit Bisa Disembunyikan, Ini Caranya!
Beberapa Aplikasi Gunakan Twitter dan Facebook Untuk Curi Data Pribadi
Perhatikan Gambar Ini, Ayo Coba Temukan Kesalahannya
WhatsApp Siapkan Fitur Album dan Stiker Grup Untuk Versi Web
Data Dari Facebook dan Medsos Bocor, Jumlahnya Jutaan!

Topik berita Terkait:
  1. Media Sosial
  2. Facebook
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini