Mereka yang Mengaku Patriot Tapi Justru Memecah Belah Bangsa

Kamis, 14 Januari 2021 07:32 Reporter : Hari Ariyanti
Mereka yang Mengaku Patriot Tapi Justru Memecah Belah Bangsa Massa Donald Trump Duduki Gedung Parlemen AS. ©2021 AFP

Merdeka.com - Di antara gerombolan ekstremis dan pendukung Donald Trump yang menduduki Gedung Parlemen AS atau Capitol dalam kerusuhan mematikan adalah para mantan anggota institusi yang seharusnya melindungi Amerika dari serangan: Militer AS.

Mereka termasuk veteran Angkatan Udara, Ashli Babbitt (35), yang menggilai teori konspirasi QAnon dan pada Rabu ditembak Kepolisian Capitol saat gerombolan berusaha menembus ruangan DPR.

Ada juga Larry Rendell Brock (53), pensiunan Angkatan Udara, yang terlihat menjelajahi ruangan Senat, memakai helm militer, rompi hijau, dan membawa borgol karet. Dia didakwa dengan tindakan sengaja memasuki bangunan terlarang tanpa izin, dan melakukan tindakan kekerasan dan kekacauan, menurut Departemen Kehakiman.

Joshua Macias (42) juga menghadiri unjuk rasa hari itu. Dia adalah veteran Angkatan Laut selama enam tahun dari Virginia dan salah satu pendiri kelompok Vets for Trump yang baru-baru ini dibebaskan dari penjara. Pada 5 Januari, sehari sebelum kerusuhan, Macias muncul di sebuah video siaran langsung di Facebook dengan seorang senator asal Virginia; dia mengatakan tak memasuki Capitol keesokan harinya.

Radikalisasi veteran militer sejak lama dikhawatirkan para ahli yang memantau ekstremisme secara online dan di tempat lain. Belum diketahui apakah tentara dan veteran rentan terkena radikalisasi, tapi keterkaitannya dengan kelompok ekstremis telah cukup lama menjadi perhatian para pemantau yang meneliti masalah tersebut dan mendesak Kongres bertindak untuk melawannya.

Angkatan Darat AS saat ini sedang mengambil langkah untuk mendeteksi ekstremisme menjelang pelantikan Presiden AS terpilih, Joe Biden pada 20 Januari mendatang. Dalam pernyataan tertulis kepada CNN pada Selasa, juru bicara Angkatan Darat mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Dinas Rahasia untuk memastikan tentara yang akan menjadi bagian kontingen Garda Nasional untuk mengamankan pelantikan perlu penyaringan atau pemeriksaan latar belakang.

"Garda Nasional DC juga mempersiapkan pelatihan tambahan untuk anggota saat mereka tiba di DC, jika mereka melihat atau mendengar sesuatu yang tidak sesuai, mereka harus melaporkan ke jaringan komando mereka," jelas pernyataan itu, dikutip dari CNN, Rabu (13/1).

Baca Selanjutnya: Mengapa Ekstremis Merekrut Veteran?...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini