Meredupnya Pengaruh Pangeran MBS di Mata Dunia Internasional

Selasa, 13 Agustus 2019 07:17 Reporter : Pandasurya Wijaya
Meredupnya Pengaruh Pangeran MBS di Mata Dunia Internasional Mohammed bin Salman. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Keputusan Uni Emirat Arab yang menarik diri dari perang Yaman membuat Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman menjadi satu-satunya sosok yang menentukan arah konflik di negara itu.

Pejabat senior Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) yang juga Direktur Program Analisis Strategis Politik Islam di CIA, Emile Nakhleh menuturkan, sejak teman MBS, Putra Mahkota Uni Emirat Arab Pangeran Muhammad bin Zayed (MBZ) memutuskan UAE mundur dari perang YAman maka pengaruh dari MBS di dunia internasional kian meredup.

Dikutip dari pendapat Nakhleh melalui laman Al Araby pekan lalu, sejak Kongres AS menunda penjualan senjata AS ke Arab Saudi dan menuntut MBS bertanggung jawab atas kematian jurnalis Jamal Khashoggi, reputasi dan citra MBS di mata dunia semakin memudar. Meski Kongres tidak bisa mencegah veto Presiden Trump soal penjualan senjata ke Saudi, keputusan Kongres itu dalam jangka panjang bisa berdampak negatif bagi MBS.

Dukung AS terhadap Saudi yang diawali di masa Presiden Franklin Delano Roosevelt, kini berkurang karena tindakan MBS. Namun hubungan personal antara MBS dengan menantu Trump, Jared Kushner yang menjabat sebagai penasihat presiden Trump, masih terjalin baik.

Sepak terjang MBS belakangan memang mempengaruhi kepentingan jangka panjang Saudi di mata AS. Sejumlah senator AS menunjukkan pandangan negatif terhadap pemimpin muda Saudi itu. Jutaan dolar yang dibelanjakan MBS untuk membeli senjata dari Washington tidak juga memperbaiki citranya.

Gagalnya proposal 'Kesepakatan Abad Ini' dari Jared Kushner untuk penyelesaian konflik Palestina-Israel yang disampaikan di Bahrain Juni lalu menjadi pukulan keras juga bagi MBS.

Kushner dan MBS berharap mereka bisa membujuk para pemimpin Arab untuk hadir di Bahrain untuk membantu ekonomi Palestina. Namun para pemimpin Yordania, Mesir, Kuwait, dan beberapa negara lain menolak untuk menandatangani kesepakatan itu.

Bandar Algaloud/Courtesy of Saudi Royal Court/Handout via REUTERS

Menurut mereka aspek ekonomi dalam konflik Palestina-Israel harus berjalan seiring solusi politik untuk solusi dua negara. MBS boleh jadi kaget dengan ketidakmampuannya menggiring dukungan Arab bagi rekannya di Gedung Putih.

Meski menjalin hubungan baik dengan Kushner, mandat MBS tetap bisa tercoreng. Sungguh ironis, Kesepakatan Negara-negara Arab yang akan mengakui negara Israel jika negara itu mengakhiri pendudukan di Palestina sesuai Resolusi PBB, awalnya digagas oleh Putra Mahkota Saudi sebelumnya, paman MBS yaitu Abdullah dan masih tetap didukung oleh ayahnya sendiri, Raja Salman.

Jika MBS benar ingin menolong memperbaiki kehidupan rakyat Palestina, mengapa dia tidak bergabung saja dengan Qatar yang mendanai pembangunan ekonomi di Tepi Barat dan Gaza? [pan]

Topik berita Terkait:
  1. Arab Saudi
  2. Muhammad Bin Salman
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini