Merananya mahasiswa Indonesia di Suriah setelah perang

Senin, 22 Juni 2015 03:16 Reporter : Marcheilla Ariesta Putri Hanggoro
Merananya mahasiswa Indonesia di Suriah setelah perang WNI pelajar yang baru saja tiba dari Yaman. ©2015 merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Di pelbagai negara mayoritas muslim, warga bisa bersuka cita merayakan bulan suci Ramadan. Sayang, buat penduduk Suriah, kegembiraan itu sirna lima tahun terakhir. Perang saudara, disusul pertempuran pemberontak Houthi melawan pasukan Liga Arab, membuat ibadah puasa tidak bisa dijalankan normal.

Selain penduduk sipil setempat, Warga Negara Indonesia yang sedang bermukim di Yaman ikut kena dampaknya. Mereka rata-rata mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di kampus-kampus ternama, misalnya di Ibu Kota Damaskus maupun Kota Hadramaut. Mereka belum bisa pulang ke Tanah Air karena bermacam-macam alasan. Mulai dari ketiadaan biaya ataupun studi yang tinggal sedikit lagi rampung, sehingga sayang bila ditinggalkan.

Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Cabang Suriah, Ahmad Fuadi Fauzi, mengaku setelah perang berkecamuk di negara itu, tidak ada lagi takjil yang tersedia di masjid-masjid untuk orang asing seperti mereka. Padahal sajian di masjid itu sangat membantu mereka bertahan dengan uang kiriman yang terbatas di negeri orang.

"Dulu, setiap malam kami berkeliling ke masjid-masjid di Kota Damaskus. Orang Damaskus terkenal dermawan kepada para pelajar asing. Pulang tarawih kadang dikasih uang," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima merdeka.com, Minggu (21/6).

Tak cuma itu. Mahasiswa Indonesia yang sangat mencolok wajahnya sekarang dicurigai. Mereka kerap dikira orang asing yang ingin bergabung dengan kelompok militan.

"Kalau sekarang ngeri. Keluar malam, kita dicurigai. Ditanyai macam-macam oleh tentara di check point," imbuh Fauzi.

Sudah begitu, di banyak kota Suriah kejahatan merajalela. Himpitan ekonomi akibat perang membuat beberapa warga lokal nekat merampok siapapun.

Keluhan-keluhan mahasiswa itu terungkap dalam pertemuan dengan KBRI Damaskus yang menggelar buka puasa bersama para mahasiswa pekan lalu.

Sebelum perang berkecamuk, pelajar Indonesia di Suriah pernah mencapai sekitar 250 orang. Namun akibat krisis yang berkepanjangan, Pemerintah RI melalui KBRI Damaskus melakukan repatriasi secara bertahap para WNI yang berada di Suriah, juga moratorium pengiriman tenaga kerja ke Suriah sejak September 2011.

Selain situasi belajar yang tidak kondusif, WNI di Suriah mengalami waktu puasa yang lebih lama dibanding di Tanah Air.

Lama puasa di Suriah sekitar 16,5 jam, dimulai dari Subuh pukul 04.30, berakhir saat bedug Maghrib tiba pukul 20.00 waktu setempat. Sholat Isya baru dimulai pukul 21.30 dan tarawih selesai sekitar jam 23.00. Jadi menjelang tengah malam baru, para mahasiswa tiba di kediaman masing-masing. [ard]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini